- Dakwah yang dipahami sebagai ikhtiar muslim untuk mewujudkan ajaran Islam dalam kenyataan hidup baik dalam lingkum individu, keluarga, kelompok sosial hingga lingkup masyarakat pada umumnya, adalah kelanjutan dari mata rantai kerisalahan para Nabi mulai dari Nabi Adam a.s. hingga Nabi Muhammad SAW.
- Dengan demikian nilai pentingnya dakwah bagi kehidupan manusia adalah sama dengan nilai penting diutusnya para nabi dan rasul Allah ke muka bumi ini. Para nabi telah berperan sebagai agen transformasi kehidupan masyarakat dari kebiadaban kepada keberadaban. Dengan demikian dakwah juga memiliki peran yang sama sebagai agen transformasi kehidupan sebagaimana pernah dibawakan oleh para nabi dan rasul tersebut. Jika para nabi dan rasul dengan peran kerisalahannya mampu menghadirkan rahmat bagi alam semesta, demikian juga dengan dakwah. Dakwah mestinya kecuali berfungsi sebagai agen penyebaran ajaran Islam (fungsi kerisalahan), dakwah mestinya juga berfungsi menghadirkan rahmat bagi kehidupan.
- Sebagaimana kita saksikan dalam setiap episode kehidupan seorang nabi dan rasul, mereka tidak sekedar sebagai kepanjangan lidah Tuhan yang mengajarkan agama dalam pengertian teks ajaran agama, tetapi juga berperan serbagai kepanjangan tangan Tuhan yang merubah kehidupan yang lalim dan eksploitatif, menjadi kehidupan yang bermahkotakan etika, egaliter dan sejahtera. Nabi Ibrahim, sebagai sebuah contoh episode kenabian yang tidak hanya mengajarkan nilai tauhid kepada umatnya, tetapi juga mendekonstruksi sistim social biudaya lalim yang dijalankan oleh Raja Namrud. Demikian juga Musa, dengan berlandaskan tauhid ia membebaskan Bani Israil dari perbudakan masyarakat Firaun, begitu selanjut hingga Nabi Muhamad SAW. 4. Namun demikian, tesis tentang fungsi kerisalahan dan sekaligus fungsi kerahmatan dakwah tersebut tidak sepenuhnya berjalan dalam sejarah kehidupan. Di beberapa kesempatan dakwah mampu melakukan dua perannya tersebut, dan di beberapa kesempatan yang lain dakwah gagal melakukan peran kerisalahan sekaligus kerahmatan tersebut. Terlebih di era belakangan ini, dakwah dapat dikatakan tidak sepenuhnya berhasil mengaktualisasikan jati dirinya dengan melakukan dua peran tersebut sekaligus. Dakwah lebih banyak melakukan peran kerisalahannya daripada peran kerahmatannya. Hal ini ditandai dengan masih jauhnya kesenjangan antara kehidupan nyata masyarakat muslim dunia dengan kehidupan ideal yang semestinya.
- Di berbagai wilayah dunia, di mana masyarakat muslim berada, wajah peradaban yang muslimin tampilkan masih identik dengan keterbelakangan, kemiskinan, kebodohan, konflik internal, dan segenap bentuk patologi social lainnya. Mengapa fenomena tidak menyenangkan itu semua masih terjadi di tengah masyarakat muslim? Di sinilah, dakwah sebagai institusi Islam yang mestinya concern terhadap transformasi masyarakat muslim harus mempertanyakan eksistensinya sendiri.
- Banyak dimensi terkait dalam aktualisasi dakwah dalam ranah social empiris, mulai dimensi filsafati dengan segala problemnya, dimensi transformasi dengan segala problemnya, dan juga dimensi praktis dengan segala masalahnya pula. Berbagai masalah pada dimensi filsafati antara lain mencakup hubungan Islam dengan dakwah. Banyak disalah pahami orang, bahwa seolah Islam adalah materi dakwah. Padahal yang sebenarnya Islam adalah azas dakwah. Eksistensi dakwah sangat ditentukan oleh pandangan tentang Islam. Oleh karena itu, dalam buku ini dimensi filsafati dari dakwah, mulai dari uraian tentang hubungan Islam dan Dakwah berikut turunannya seperti; Islam versus sekulerisme, pandangan tentang tauhid, aqidah terapan dan sebagainya akan mengawali bahasan buku ini.
- Pada bab dua, bahasan terfokus pada ranah transformasi social. Sangat mudah dipahami bahwa ilmu merupakan agen perubahan social. Demikian juga dakwah yang merupakan agen perubahan social bagi kaum muslimin. Dakwah sangat berkepentingan dengan ilmu pengetahuan. Bukan hanya ilmu pengetahuan dengan makna generiknya, tetapi ilmu pengetahuan yang memiliki persamaan orientasi, yang searah dengan orientasi dakwah, yakni terwujudnya masyarakat yang terbaik (khairu ummat). Kegagalan kaum muslimin memiliki ilmu pengetahuan akan berakibat pada mandeknya proses transformasi social di kalangan muslimin sendiri. Ilmu pengetahuan bukan sekedar jembatan antara agama dan kehidupan. Lebih dari itu, ilmu akan berfungsi sebagai media sejenis prisma, yang berfungsi memedarkan agama menjadi cahaya yang meliputi semua aspek kehidupan. Oleh karena itu tidak bisa dipahami jika ilmu pengetahuan absen dalam setting dan design dakwah. Dan juga tidak bias dipahami jika ilmu pengetahuan dimaksud memiliki orientasi yang berseberangan atau bahkan berlawanan dengan dakwah.
- Pada bab tiga, bahasan terarah pada dimensi internal dari dakwah itu sendiri. Banyak hal harus dikoreksi dalam the body of dakwah itu sendiri, agar dakwah kembali berfungsi sebagai agen transformsai social kaum muslimin. mulai dari nilai signifikansi dakwah dalam kehidupan, paradigma dakwah, hingga perlunya melihat dan mencermati kembali pola dakwah Rasulullah SAW. Beberapa pertanyaan dapat disampaikan untuk mengetahuai signifikansi dakwah bagi kehidupan, antara lain; benarkah manusia masih memerlukan agama? Bukankah jika kita mengikuti pendapat August Comte, bahwa pada era positivistic seperti saat ini, semua misteri kehidupan sudah terbongkar oleeh ilmu pengetahuan? Jika masih di mana sebenarnya wilayah garap agama? Hingga akhirnya bisakah agama eksist dalam kehidupan tanpa dakwah?
- Permasalahan paradigma dakwah dimulai dari pertanyaan; bagaimana watak dakwah yang sebenarnya? Menjawab perttanyaan tersebut setidaknya ada dua opsi, paradigma dakwah yang bersifat subjektif-normatif, atau paradigma dakwah yang bersifat objektif-empiris. Kaitanya dengan kegagalan dakwah untuk melakukan peran kerahmatan seperti yang terjadi pada saat-saat sekarang ini, sepertinya paradigma kedua yang diperlukan. Di lingkungan akademis, baik dalam forum-forum ilmiah hingga literature di perguruan tinggi Islam, teori dakwah berparadigma subyektif-normatif tampaknya masih mendominasi dari pada teori dakwah yang berparadigma objektif-empiris. Hal ini berakibat pada praktek dakwah pada dataran empiris yang “bisu” dalam menyikapi berbagai fenomena social. Dakwah seolah berada di dunia lain, sedang kehidupan dengan segala permasalahannya berada di dunia yang berbeda. Tidak ada hubungan antara dakwah dengan kehidupan.
- Pada bab tiga pula penulis menawarkan alternative format dakwah yang menggunakan paradigma kedua tersebut, yakni dakwah yang berbasis pada pemberdayaan ummat. Dakwah dengan format pemberdayaan dimulai dari pemetaan medan dakwah, mengidentifikasi potensi, berikut tantangan dan peluangnya, dan selanjutnya design dakwah baru dibuat. Dengan dakwah pemberdayaan diharapkan dakwah menghasilkan out-put berupa solusi atas permasalahan yang dihadapi ummat Islam. Dakwah demikianlah yang ditunjukkan oleh para nabi dan rasul terdahulu. Musa memerdekakan Bani Israil, begitu juga Isla, dan akhirnya Muhammad SAW. Untuk mendapatkan legitimasi normative sekaligus historis, perlu kiranya kita mencermati kembali pola dakwah Nabiu Muhammad SAW di Madinah. Pola dakwah Nabi bukan pola dakwah di mimbar saja, melinkan dakwah yang menyatu dengan kehidupan nyata. Nabi adalah seorang pemegang kekuasaan politik dan agama sekaligus. Dengan politiknya, Nabi berhasil menjadikan agama sebagai dasar dari bengunan masyarakat Madinah yang multi-kulturalistik pada saat itu. Selama tiga belas tahun Nabi berdakwah di Madinah. Benyak sekali persoalan dakwah yang Nabi hadapi dan selesaikan selama pereode tersebut. Oleh karena itu, mencermati kembali pola dakwah Rasul di Madinah dengan segala episodenya adalah perlu guna memperkaya teori dakwah, sehingga dakwah kembali berperan sebagaimana mestinya.
- Pada bab selanjutnya akan kita temui bahasan tentang bagaimana dakwah menjadi sebuah ilmu yang dikaji dalam sebuah lembaga pendidikan. Alhamdulilah keitkqa tulisan ini dibuat sedang menduduki posisi sebagai penjaga gawang akademik di Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Surakarta. Dengan posisi tersebut penulis mencoba untuk merefleksikan pemikiran tentang bagaimana ilmu dakwah (khususnya) sebagai bidang kajian di sebuah lembaga akademik. Kecuali dakwah yang dijadikan kajian harus memiliki paradigma yang tepat, perangkat apa saja yang haruis disiapkan sehingga menghasilkan out-put beik berupa SDM dakwah yang sesuai dengan kebutuhan sejarah, kecuali itu juga akan dihasilkan dari lembaga akademik tersebut, teori-teori dakwah yang juga relefan dengan tuntutan zaman pada satu sisi tetapi juga masih konsisten dengan landasan normative Islam yakni teks Qur’an dan Sunah. Masih pada bab ini pula, terdapat satu tulisan tentang bagaimana sebuah lembaga pendidikan dari semua level harus didirikan untuk menghaslikan SDM yang memiliki kompetensi yang kompartible dengan tantangan zamannya. Diantara contohnya adalah sebuah sekolah dasar. Bagaimana semangat, visi dan missinya, berikut dinamika sebuah sekolah tertulis sekilas pada akhir bab ini. Tulisan terakhir pada bab ini adalah tentang kharakter pengelola sebuah sekolah yang memiliki visi dan missi dakwah. Jika kebanyakan para pengelola bermental karyawan maka keberadaan sekolah bukan agen transformasi social yang diidamkan dakwah tetapi hanya akan menjadi lembaga tempat bekerja untuk mendapatkan uang. Yang diinginkan adalah sikap mental pejuang dari para pengelolanya. Dengan sikap mental tersebut maka sekolah akan berfungsi sebagai agen transformasi social yang diidamkan dakwah.
- Pada bab terakhir, akan ditemui satu bahasan yang bersifat eskatologis. Bukan bahasan tentang akherat tetapi bahasan tentang masa depan, baik masa depan dalam skala individu maupun social. Generasi idaman adalah generasi yang memiliki kharakter Nabi Yahya, Nabi yang menjanjikan kehidupan bagi sejarahnya. Namun demikian tidak mudah untuk melahirkan generasi Yahya tersebut. Tantangan yang menghadang sangatlah besar yakni banjir bandang informasi seperti yang saat ini terjadi. Jika tidak hati-hati dan punya sifat teguh pendirian maka generasi idaman itu tidak akan pernah lahir dalam sejarah. Dalam dimensi social, masa depan kemanusiaan juga tidak akan lahir begitu saja, tanpa rekayasa. Ajaran Islam telah memberikan inspirasi untuk umatnya dalam rangka memikirkan masa depan mereka. Terhadap ajaran Islam ini mestinya umat Islam berpedoman untuk berjuang mewujudkan masa depan. Hal-hal demikianlah yang akan pembaca temui dari buku ini.
- Karena buku ini merupakan kumpulan tulisan yang dibuat berdasarkan moote penulis, bukan sengaja dibuat sebagai sebuah buku dengan thema tunggal. Dengan demikian independensi masing-masing judul bahasan akan sangat menonjol. Walaupun demikian semua tulisan masih tidak keluar jauh dari ranah dakwah, di mana penulis sementara ini menekuni bidang tersebut. Akhir kata semoga tulisan ini menjadi setets air dari sebuah samudra ilmu yang bermanbfaat bagi kehidupan. Dan kepada semua pihak yang telah memfasilitasi terbitnya buku ini kami sampaikan terima kasih. Semoga Allah SWT senantiasa membuka hati dan pikiran kita untuk menerima ilmunya.
Perubahan sosial adalah hijrah Hijrah adalah prinsip hidup Waktu adalah media Aku adalah subyek Saat ini adalah tantangan Masa depan adalah madinatun nabi
SELAMAT DATANG DI BLOG PERUBAHAN SOSIAL
"Makkah adalah realitas empiris, Madinah adalah realitas ideal, jarak keduanya adalah amanah perubahan"
Selasa, 11 Maret 2014
WILAYAH DAKWAH SELUAS WILAYAH KEHIDUPAN MANUSIA :Pengantar untuk Buku Kapita Selekta Pemikiran Dakwah
Senin, 07 Oktober 2013
MASIH PERLUKAH AGAMA DALAM KEHIDUPAN MODERN INI?
1. Agama sebagai kecenderungan kodrati manusia. Agama adalah sistim ajaran yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya. Bisa dikatakan bahwa dasar yang paling fundamental dari sistim ajaran agama adalah keyakinan tentang adanya Tuhan. keyakinan akan adanyaTuhan adalah keyakinan yang melekat dan bersifat adikodrati. Karena itulah semua manusia sebenarnya amemiliki keyakinan akan Tuhan ini.
Keyakinan akan Tuhan ada dalam hati setiap manusia. Karena itulah, sejak zaman primitif hingga saat sekarang ini semua manusia "mencari-cari" siapa Tuhannya. Dalam pemikirannya yang masih sangat sederhana, manusia pada zaman primitif memiliki konsep bahwa Tuhan adalah kekuatan yang membantu mansia dalam menghadapi kesulitan hidupnya. Lantas kemudian, manusia modern menyembah kayu besar, karena kayu besar telah membantu manusaia dengan menyediakan air bersih, sedangkan air adalah sumber kehidupan. Begitu juga dengan mereka yang menyembah sapi. Merka memiliki konsep bahwa sapi telah sangat berjasa dalam membantu manusia untuk bertani maupun alat transportasi. itulah makanya sapi menjadi binatnag yang istimewa, bahkan disembah oleh suatu kalangan tertentu. Begitu juga dengan komunitas yang menyembah samudra, api, bintang, maupun matahari. Berbagai benda istimewa tersebut, melalui personifikasinya yang bisa jadi disebut dewa kemudian mereka sembah.
Lantas bagaimana dengan manusia pada zaman modern sekarang ini, yang mana benda, binatang, dan sebagainya tidak lagi istimewa dalam pandangan manusia modern. sehingga dengan demikian sudah tidak ada lagi tempat berpijak bagi keyakinan tentang tuhan dan agama. demikianlah kira-kira pandangan pemikiran positivistik August Comte. Agama dalam benak pengikut aliran filsafat positifistik hanya relevan dengan situasi dan kondisi di mana manusia belum mampu untuk mengatasi kesulitan hidupnya. Untuk zaman sekarang, di mana manusia sudah mencapoai puncak perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga tidak ada lagi sisi gelap dalam kehidupan. semua misteri hidup sudah nyaris terungkap di hadapan manusian modern. karena itu, manusia cukup hidup dengan ilmu pengetahuan dan teknologi dan tidak lagi perlu agama. Kalau misalnya dipaksakan, manusia modern mestinya menyembah akal pikirannya sebagai sesuatu yang sangat membantu kehidupan manusia. Dan kenyataan inilah yang sekarang banyak dilakukan oleh kaum modern.
2. Manusia modern adalah prototipe manusia yang memiliki pandangan bahwa indera dan rasio memilkiki kedudukan penting dalam hidupnya. sesuatu akan dianggap benar jika memenuhi dua syarat. Pertama standar nalar manusia yakni semua kebenaran harus sesuai dengana hukum atau kaidah nalar. ......
Rabu, 17 Juli 2013
Senin, 12 Maret 2012
Banjir di kampungku......wuuuuh
BERTOLAK DARI KEPRIHATINAN:persiapan perkuliahan smt genap 2012
1. Kualitas pendidikan bangsa Indonesia pada dekade dua-tiga dasawarsa terakhir ini termasuk sangat memprihatinkan di tingkat Asean, apalagi di tingkat dunia. Pada hal Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar diantara negara Islam di seluruh dunia. Jumlah seluruh penduduk negara-negara kawasan Timur Tengah masih kalah banyak dengan jumlah penduduk Indonesia. Karena itu, berdasarkan jumlah penduduk, harapan bahwa fajar kebangkitan Islam akan terbit dari Indonesia semestinya dapat dibenarkan. Tetapi apa yang terjadi dalam realitas bangsa Indonesia saat ini? Sekali lagi, dalm bidang pendidikan, bangsa ini menjadi sangat memprihatinkan. Menurut data UNDP tahun 2007 dalam hal pengembangan manusia, Indonesia masuk urutan 107 dari 117 negara yang diteliti. UNESCO pada tahu 2008 merilis data, dalam hal pendidikan Indonesia termasuk no urut 62 dari 130 negara di dunia, dan no 7 dari 9 negara Asean. Padahal pada tahun 70-an, Malaysia negara tetangga kita belajar ke Indonesia un tuk meningkatkan kualitas pendidikan mereka. Itulah strategi besar Malaysia untuk maju, menjadikan pendidikan sebagai lokomotif kemajuan bangsanya. Seperempat abad kemudian apa yang terjadi Malaysia jauh meninggalkan Indonesia. Sehingga ada kalimat pejoratif; dulu Indonesia ekspor pro-fe-sor sebagai TKI, tetapi apa yang terjadi saat ini. Indonesia ekspor pembantu rumbah tangga (pe-er-te) sebagai TKI (sama-sama p).
2. Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Pemerintah sudah punya good will untk meningkatkan kualitas pendidkan kita, dengan menganggarkan 20 % minimal dari APBN dan APBD di setiap daerah untuk pendidikan. Namun masih jauh panggang dari api, masih banyak kendala untuk merealisasikan mimpi-mimpi peningkatan kualitas pendidikan. Diantara kenyataan konkrit yang menunjukkan gejala itu adalah hasil pengamatan tentang pengaruh sertifikasi bagi peningkatan kinerja guru. Bagaimana hasil nya? Ternyata, tidak signifikan pengaruh sertifikasi bagi peningkatan kinerja guru.( http://smkn1bongas-tkj.blogspot.com) Kualitas murid sebelum dan sesudah sertifikasi relatif masih sama. Bagaimana dengan sertifikasi dosen? Tentu kitalah yang paling tahu dengan jawaban sebenarnya. Pernah dirilis hasil penelitian terhadap dosen, menyatakan bahwa 80% dosen tidak berkualitas, di Solo Pos beberapa bulan lalu. Jika keadaan ini (kualitas pendidikan) tidak berubah, maka bangsa ini ke depan, walau dengan anggaran yang meningkat, masih akan tetap sama, yakni terbelakang dan miskin. Dan itulah bangsa yang merepresentasikan umat Islam Islam dunia, masih sakit belum menunjukkan gejala penyembuhan.
3. Diantara penyebab rendahnya kualitas pendidikan adalah terpisahnya pemahaman agama dan ilmu pengetahuan. IAIN idealnya adalah masa transisi menuju UIN. Jika merujuk UIN Malang, maka dengan UIN, agama dan ilmu adalah satu. Nilai-nilai agama menjadi dasar dari bangunan ilmu pengetahuan. Kita yang masih IAIN ini, sekalipun belum bermimpi menjadi UIN, setidaknya telah memiliki kesadaraan untuk tidak mengembangkan paradigma pemahaman yang dikhotomis antara agama dan ilmu. Karena sebagaimana kita ketahui, agama yang dipahami dengan paradigma dikhotomis, akan menghasilkan pemahaman agama yang melangit tidak membumi. Kehidupan ada di bumi, langit adalah simbul kematian. Karena itu agama yang tidak mendasari ilmu pengetahuan adalah agama bagi orang mati (Roger Garaudi, janji-Jani Islam). Ciri-ciri pemahaman agama yang melangit adalah pemahaman yang doktriner alias subyektif-normatif. Agama yang demikian adalah agama yang tidak mencerahkan, tidak membuat cerahnya kehidupan. Jika lembaga studi agama memproduk pemahaman normatif, bagaimana dengan masyarakat pengguna produk pemikiran keagamaan tersebut? Konflik atas nama ayat, madzhab fiqh dan pemikiran, perlu dicurigai sebagai fenomena masih sangat kuatnya pemahaman subyektif-normatif tersebut dalam masyarakat kita. Sebagai bentuk keprihatinan kita hendaknya kampus tidak mengembangkan paradigma pemahaman subyektif-normatif tersebut.
4. Berdasarkan undang-undang, dosen memang bagian dari PNS. Tetapi dosen menjadi bagian spesifik dari PNS pada umunya, karena tugas dan tanggung jawab, serta peran dan fungsinya dalam Tri Darma Perguruan Tinggi. Oleh karena itu, pemerintah melalui SK Dirjen tetang Beban Kerja Dosen (BKD), telah membuat ukuran kinerja dosen dengan BKD. BKD seharusnya dipahami sebagai turunan dari PP No 53 tahun 2010, tentang PNS yang memiliki beban kerja kuantitatif yakni 37,5 jam per minggu. Dengan BKD, ukuran kinerja dosen menjadi sangat jelas, yakni terlaksananya tugas pendidikan dan pengajaran serta penelitian sebagai tugas utama (75%), sedang pengabdian masyarakat dan penunjang memiliki bobot 25 %. Yang imlisit dari tugas tersebut adalah ukuran kinerja dosen tidak hanya kuantitatif, tetapi juga kualitatif. Oleh karena itu, dosen hendaknya tidak lagi berpikir “apakah harus masuk setiap hari atau tidak?”, yang penting laksanakan tugas sesuai standar BKD, insyaallah tujuan idealitas peran dan fungsi dosen akan menjadi kenyataan riil.
5. Berawal dari pemahaman akan BKD inilah seorang dosen hendaknya fokus melaksanakan tugasnya. Bersatunya antara tugas pendidikan dan penelitian, hendaknya dipahami bahwa pendidikan yang dilakukan dosen hendaknya berbasis pada kegiatan penelitian. Bentuk konkritnya, hendaknya dosen tidak merasa dibebani dengan tugas pembuatan Satuan Acara Perkuliahan (SAP), bahkan lebih jauh marilah kita sadari pentingnya melanjutnkan tugas membuat SAP menjadi buku ajar betatapun sederhananya. Kita ganti tradisi lisan menjadi tradisi tulis. Tradisi tulis lebih jelas dan mudah pertanggung-jawabannya dari tradisi lisan. Begitu juga tradisi penelitian sudah semestinya menjadi tugas biasa bagi dosen sehingga kita laksanakan tanpa beban, sekalipun harus dengan biaya sendiri. Jika ini sudah terbiasa kita lakukan, maka ke depan akan terbentuk secara bertahab menjadi kebiasaaan dan akirnya menjadi budaya kampus kita. Mengajak dan menyeru mahasisiwa untuk meningkatkan kualitas rasanya meaning less, jika tidak dimulai dari diri pengajak (dosen). Persoalan terbesarnya memang dana, dan kalau mau jujur tentu juga sikap malas dan sesuatu yang belum menjadi kebiasaan bagi kita. Kapan ini semua bisa didekonstruksi?
6. Konkritnya sebagai persipan kuliah semester genap tahun 2011-2012 ini kami menghimbau dan mendesak kepada semua pihak (utamanya diri sendiri) untuk tidak saja membuat indikator pembelajaran yang kuantitatif, seperti prosentase presensi (kehadiran mahasiswa), tetapi mencoba merancang perkuliahan yang meletakkan indikator keberhasilan bersifat kualitatif. Pertanyaan apakah mahasiswa sebelum dan sesudah mengikuti kuliah kita, massih berkualitas sama yakni belum mengalami ketercerahan (lightmented), atau malah bertambah konserfatif, adalah layak kiya renungkan.
7. Kami tidak sedang hanya bicara dalam hal pemahaman agama unsich. Dalam penerapan paradigma dikhotomi dalam memahami Ilmu pengetahuan (baca: umum), tidak kalah bahayanya. Ilmu yang terpisah dari agama hanya akan menurunkan martabat kemanusiaan, serta merusak alam semesta. Dalam Jurusan Dakwah, banyak ilmu umum kita ajarkan pada mahasiswa. Jika tidak hati-hati, dengan alasan profesionalisme,maka kita akan mengajarkan ilmu yang bebas pemihakan terhadap nilai dan etika Islam. Jika ini terjadi maka “alumni tukang” siap hadir dari rahim Jurusan Dakwah. Pemihakan adalah tahap pertama, profesionalisme adalah berikutnya. Inilah missi suci berdirinya lembaga akademik ke-Islaman.
Wallahu a’lam.
2. Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Pemerintah sudah punya good will untk meningkatkan kualitas pendidkan kita, dengan menganggarkan 20 % minimal dari APBN dan APBD di setiap daerah untuk pendidikan. Namun masih jauh panggang dari api, masih banyak kendala untuk merealisasikan mimpi-mimpi peningkatan kualitas pendidikan. Diantara kenyataan konkrit yang menunjukkan gejala itu adalah hasil pengamatan tentang pengaruh sertifikasi bagi peningkatan kinerja guru. Bagaimana hasil nya? Ternyata, tidak signifikan pengaruh sertifikasi bagi peningkatan kinerja guru.( http://smkn1bongas-tkj.blogspot.com) Kualitas murid sebelum dan sesudah sertifikasi relatif masih sama. Bagaimana dengan sertifikasi dosen? Tentu kitalah yang paling tahu dengan jawaban sebenarnya. Pernah dirilis hasil penelitian terhadap dosen, menyatakan bahwa 80% dosen tidak berkualitas, di Solo Pos beberapa bulan lalu. Jika keadaan ini (kualitas pendidikan) tidak berubah, maka bangsa ini ke depan, walau dengan anggaran yang meningkat, masih akan tetap sama, yakni terbelakang dan miskin. Dan itulah bangsa yang merepresentasikan umat Islam Islam dunia, masih sakit belum menunjukkan gejala penyembuhan.
3. Diantara penyebab rendahnya kualitas pendidikan adalah terpisahnya pemahaman agama dan ilmu pengetahuan. IAIN idealnya adalah masa transisi menuju UIN. Jika merujuk UIN Malang, maka dengan UIN, agama dan ilmu adalah satu. Nilai-nilai agama menjadi dasar dari bangunan ilmu pengetahuan. Kita yang masih IAIN ini, sekalipun belum bermimpi menjadi UIN, setidaknya telah memiliki kesadaraan untuk tidak mengembangkan paradigma pemahaman yang dikhotomis antara agama dan ilmu. Karena sebagaimana kita ketahui, agama yang dipahami dengan paradigma dikhotomis, akan menghasilkan pemahaman agama yang melangit tidak membumi. Kehidupan ada di bumi, langit adalah simbul kematian. Karena itu agama yang tidak mendasari ilmu pengetahuan adalah agama bagi orang mati (Roger Garaudi, janji-Jani Islam). Ciri-ciri pemahaman agama yang melangit adalah pemahaman yang doktriner alias subyektif-normatif. Agama yang demikian adalah agama yang tidak mencerahkan, tidak membuat cerahnya kehidupan. Jika lembaga studi agama memproduk pemahaman normatif, bagaimana dengan masyarakat pengguna produk pemikiran keagamaan tersebut? Konflik atas nama ayat, madzhab fiqh dan pemikiran, perlu dicurigai sebagai fenomena masih sangat kuatnya pemahaman subyektif-normatif tersebut dalam masyarakat kita. Sebagai bentuk keprihatinan kita hendaknya kampus tidak mengembangkan paradigma pemahaman subyektif-normatif tersebut.
4. Berdasarkan undang-undang, dosen memang bagian dari PNS. Tetapi dosen menjadi bagian spesifik dari PNS pada umunya, karena tugas dan tanggung jawab, serta peran dan fungsinya dalam Tri Darma Perguruan Tinggi. Oleh karena itu, pemerintah melalui SK Dirjen tetang Beban Kerja Dosen (BKD), telah membuat ukuran kinerja dosen dengan BKD. BKD seharusnya dipahami sebagai turunan dari PP No 53 tahun 2010, tentang PNS yang memiliki beban kerja kuantitatif yakni 37,5 jam per minggu. Dengan BKD, ukuran kinerja dosen menjadi sangat jelas, yakni terlaksananya tugas pendidikan dan pengajaran serta penelitian sebagai tugas utama (75%), sedang pengabdian masyarakat dan penunjang memiliki bobot 25 %. Yang imlisit dari tugas tersebut adalah ukuran kinerja dosen tidak hanya kuantitatif, tetapi juga kualitatif. Oleh karena itu, dosen hendaknya tidak lagi berpikir “apakah harus masuk setiap hari atau tidak?”, yang penting laksanakan tugas sesuai standar BKD, insyaallah tujuan idealitas peran dan fungsi dosen akan menjadi kenyataan riil.
5. Berawal dari pemahaman akan BKD inilah seorang dosen hendaknya fokus melaksanakan tugasnya. Bersatunya antara tugas pendidikan dan penelitian, hendaknya dipahami bahwa pendidikan yang dilakukan dosen hendaknya berbasis pada kegiatan penelitian. Bentuk konkritnya, hendaknya dosen tidak merasa dibebani dengan tugas pembuatan Satuan Acara Perkuliahan (SAP), bahkan lebih jauh marilah kita sadari pentingnya melanjutnkan tugas membuat SAP menjadi buku ajar betatapun sederhananya. Kita ganti tradisi lisan menjadi tradisi tulis. Tradisi tulis lebih jelas dan mudah pertanggung-jawabannya dari tradisi lisan. Begitu juga tradisi penelitian sudah semestinya menjadi tugas biasa bagi dosen sehingga kita laksanakan tanpa beban, sekalipun harus dengan biaya sendiri. Jika ini sudah terbiasa kita lakukan, maka ke depan akan terbentuk secara bertahab menjadi kebiasaaan dan akirnya menjadi budaya kampus kita. Mengajak dan menyeru mahasisiwa untuk meningkatkan kualitas rasanya meaning less, jika tidak dimulai dari diri pengajak (dosen). Persoalan terbesarnya memang dana, dan kalau mau jujur tentu juga sikap malas dan sesuatu yang belum menjadi kebiasaan bagi kita. Kapan ini semua bisa didekonstruksi?
6. Konkritnya sebagai persipan kuliah semester genap tahun 2011-2012 ini kami menghimbau dan mendesak kepada semua pihak (utamanya diri sendiri) untuk tidak saja membuat indikator pembelajaran yang kuantitatif, seperti prosentase presensi (kehadiran mahasiswa), tetapi mencoba merancang perkuliahan yang meletakkan indikator keberhasilan bersifat kualitatif. Pertanyaan apakah mahasiswa sebelum dan sesudah mengikuti kuliah kita, massih berkualitas sama yakni belum mengalami ketercerahan (lightmented), atau malah bertambah konserfatif, adalah layak kiya renungkan.
7. Kami tidak sedang hanya bicara dalam hal pemahaman agama unsich. Dalam penerapan paradigma dikhotomi dalam memahami Ilmu pengetahuan (baca: umum), tidak kalah bahayanya. Ilmu yang terpisah dari agama hanya akan menurunkan martabat kemanusiaan, serta merusak alam semesta. Dalam Jurusan Dakwah, banyak ilmu umum kita ajarkan pada mahasiswa. Jika tidak hati-hati, dengan alasan profesionalisme,maka kita akan mengajarkan ilmu yang bebas pemihakan terhadap nilai dan etika Islam. Jika ini terjadi maka “alumni tukang” siap hadir dari rahim Jurusan Dakwah. Pemihakan adalah tahap pertama, profesionalisme adalah berikutnya. Inilah missi suci berdirinya lembaga akademik ke-Islaman.
Wallahu a’lam.
Rabu, 18 Januari 2012
VISI AKADEMIK FUD, SEBUAH DRAFT
1. Satu Fakultas: Ushuludin dan Dakwah
Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Surakarta, yang di akhir tahun 2011 ini beralih status menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta, tentu saja harus diikuti perubahan tata kelembagaan di bawahnya. Yang semula “Jurusan” di bawah Sekolah Tinggi, untuk saat ini harus berubah menjadi di bawah “Fakultas”. Pada masa STAIN Surakarta memiliki enam “jurusan”, saat menjadi IAIN harus menggabungkan setiap dua jurusan dalam satu fakultas, sesuai dengan core keilmuan masing-masing. Karena ituah, Jurusan Ushuludin harus digabung dengan Jurusan Dakwah dalam lembaga baru, “Fakultas Ushuludin dan Dakwah”.
Seperti dijelaskan di muka, kedua Jurusan tersebut disatukan kedalam satu fakultas dengan alasan kedekatan core keilmuannya. Selain sama-sama masuk dalam kelompok Studi Islam, keduanaya juga berada dalam satu kajian theologis. Jika Ushuludin mengkaji theologi Islam dari sumber aslinya (al Qur’an-Al Sunnah dan Aqidah-Filsafat), maka Dakwah mengkaji penerapan dan pengembangan theologi Islam dalam masyarakat. Jika Ushuludin mengkaji dapurnya, maka Dakwah mengkaji penyajiannya kepada manusia.
Penggabungan dua Jurusan Ushuludin dan Dakwah tidak seharusnya dipahami hanya urusan penyatuan struktural-kelembagaan, tetapi mestinya dipahami lebih dalam melalui kesatuan visi. Tanpa kesatuan visi, tidak mustahil kedua jurusan tersebut berkembang dalam arah yang berbeda, tidak singkron dan kompak, yang akhirnya ke depan tidak dapat berkembang secara efektif. Kecuali itu, dengan adanya visi yang dibangun bersama-sama dan integratif, maka arah pengembangan lembaga baru Fakultas Ushuludin dan Dakwah beserta semua bagian-bagiannya dalam struktur kefakultasan, juga semua stake holder, dan employee-nya, akan memahami ke arah mana mereka akan bersama-sama berkembang.
2. Latar Belakang Visi Fakultas : Analisa atas Masa Depan
Tidak ada yang menyangkal bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi masih akan mendominasi kehidupan manusia modern sekarang ini dan mungkin beberapa dekade ke depan. Karena itu sudah semestinya jika lembaga, selalu meletakkan dominasi ilmu-pengetahuan dan teknologi sebagai pertimbangan utama dalam merancang gambaran masa depan mereka. Beberapa pertanyaan dapat disampaikan di sini; mulai dari latar belakang dan arah perkembangan ilmu penggetahuan dan teknologi, akibat-akibat yang telah dan sedang terjadi oleh perkembangan sain dan teknologi, hingga bagaimana pemikiran-pemikiran alternatif disekitar perkembangannya, dan sebagainya pantas untuk dianalisa. Kaitanya dengan rancangan visi akademik Fakultas Agama (khususnya Ushuludin dan Dakwah), tentu pertanyaan tentang hubungan antara perkembangan sain dan teknologi dengan agama tidak bisa dinafikan.
Beberapa hal yang menonjol dalam kehidupan manusia modern saat-saat sekarang ini, yang mana ilmu pengetahuan sebagai pemandunya, diantaranya adalah; kehidupan yang semakin materialistik, gerak kehidupan yang mengarah pada lahirnya krisis multi-dimensi (spiritual-moral, sosial, hingga fisikal), dan yang tidak kalah serius adalah semakin menguatnya kecemasan massal manusia modern. Kita bisa menduga bahwa fenomena krisis multi dimensi tersebut adalah konsekuensi dari perkembanagan sain dan teknologi. Dari siini, pertanyaan-pertanyaan seperti; ada apa dengan sain dan teknologi?, bagaimana kharakternya? Akan mengemuka.
Watak atau kharakter sain dan teknologi yang kini memasuki puncak perkembangannya, tentu tidak lepas dari sejarah kelahirannya. Kelahiran sain dan teknologi diawali oleh sebuah pandangan dunia yang baru pada abad 15 di wilayah barat Benua Eropa, yakni humanaisme-anthroposentrisme. Inti dari pandangan dunia tersebut adalah kepercayaan yang berlebihan kepada manusia (human being), bukan Tuhan, sebagai penguasa tunggal alam jagad raya ini. Memang Tuhan pernah ada, tetapi hanya menciptakan alam dengan seisinya beserta hukum-hukumnya saja, kemudian ia tidak berarti apa-apa. Tuhan identik dengan aturan alam ini saja. Tidak ada tempat bagi Tuhan yang bersifat personal. Tidak ada mistisime dan metafisika. Inilah inti dari Humanisme abad 16.
Yang menonjol dari humanisme adalah penuhanan terhadap rasionalisme dan empirisme. Keduanya berpandangan bahwa pada dasarnya dunia ini memiliki arti yang dapat dipahami yakni arti matematis. Selanjutnya rasionalisme dan empirisme ini menjadi ruh (spirit) bagi lahirnya ilmu pengetahuan baru. Ilmu pengetahuan ini, baik dalam arti sebagai satu satuan pengetahuan ilmiah yang terkumpul dan tersusun maupun dalam arti sebagai suatu cara penyelesaian masalah (yaitu metode ilmiah), tidaklah berurusan dengan metafisika. Sebagai ilmu pengetahuan ilmu ini tidak memberikan suatu kosmologi atau pun ontologi. Ilmu pengetahuan sebagai ilmu pengetahuan tidak berusaha untuk menjawab –bahkan tidak mempersoalkan—masalah-masalah besar mengenai nasib manusia, dan mengenai benar dan salah, serta baik dan buruk. Jadi rasionalisme dan empirisme cenderung untuk menyingkirkan Tuhan serta keghaiban yang ada di dunia ini. Yang ada hanyalah sesuatu yang belum diketahui dan nanti suatu saat akan dapat terungkap dengan penelitian yang menggunakan metode ilmiah. Rasionalisme dan empirisme telah menggantikan agama dalam fungsinya sebagai landasan dan petunjuk kehidupan manusia.
Pandangan dunia ini selanjutnya memberikan petunjuk bagi kaum ilmuwan dan masyarakat penganut rasionalisme dan empirisme dalam menyelesaikan segala permasalahan yang mereka hadapi. Dengan semangat hidup hanya di sini dan saat ini dan hanya sekali, manusia modern menjadi manusia yang berwatak eksploitatif dan paling destruktif dalam menggauli alam sepanjang sejarah kemanuisaan. Ukuran baik dan benar bagi mereka adalah keuntungan dan kesenangan yang bersifat materiil.
Namun demikian sebagai sebuah pandangan dunia yang baru dan merupakan antitesa dari segala bentuk dan tindakan penindasan oleh Gereja Katolik abad pertengahan kepada masyarakat Eropa dan Amerika saat itu, pandangan dunia ini berhasil menjadi idiologi pemberontakan dan reformasi, yang hasilnya adalah progresifitas pada beberapa abad kemudian hingga saat ini. Hingga akhir abad 20-an hampir tidak ada ilmuan yang berpikiran kritis terhadap pandangan dunia rasionalisme dan empirisme tersebut. Hampir seluruh negara di dunia ini akhirnya menganut “agama baru” tersebut. Akibatnya adalah perkembangan dunia yang tanpa arah kecuali eksploitasi bagi pemuasan nafsu hedonisme manusia. Spirit inilah yang kemudian memunculkan berbagai krisis di hampir seluruh belahan dunia. Krisis yang meliputi seluruh dimensi hidup manusia, dari spiritual, sosial hingga lingkungan alam.
Di puncak kulminasi perkembangan dunia atas bimbingan agama rasionalisme dan empirisme, yang tidak lain adalah ruh modernisme, muncul –walaupun masih sangat bersifat sporadis pemikiran kritis teradap pendangan dunia modernisme itu. Tepatnya pada akhir abad 20 dan awal abad 21 ini, dimulai oleh para arsitektur, ahli ilmu pengetahuan, dan para intelektual lainya, bergantilah optimisme menjadi kekawatiran global. Masyarakat dunia cemas dan khawatir. Ternyata peradaban modern dengan sain dan teknologinya, disamping memberikan kemudahan bagi kehidupan manusia di satu sisi, pada sisi yang lain juga mendatangkan dampak negatif yang sangat mengkawatirkan. Berbagai krisis terjadi di mana-mana, mulai dari krisis sumber daya alam; menipisnya cadangan bahan bakar minyak dan gas, polusi darat, laut, dan udara; krisis sosial kemanusiaan, maraknya penzoliman antar manusia, minimnya keadilan, lunturnya kasih sayang dengan sesama, semua itu manifes dalam bentuk terjadinya berbagai konflik antar bangsa dan negara; hingga runtuhnya sendi-sendi moral-spiritual masyarakat dunia. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa titik teratas dari perkembangan metode ilmiah dan sekaligus pandangan dunia baru adalah krisis multi dimensi dalam kehidupan manusia.
Di samping krisis global tersebut, yang tidak kalah hebatnya adalah dampak modernisme pada skala individual. Banyak manusia modern yang merasakan beban hidupnya jauh di atas kemampuan dirinya untuk menanggung. Pada hal ia tidak lagi memiliki Tuhan sebagai tempat bersandar dan minta tolong. Dari sini mudah untuk dipahami mengapa manusia modern banyak mengalami depresi pemikiran dan mental, mudah putus asa, dan terjangkiti dis-orientasi dan kehilangan harapan pada masa depan mereka.
Manusia modern adalah manusia anthroposentrisme, yakni manusia yang terlanjur tidak percaya pada hal-hal yang berada di luar nalar dan inderanya. Makluk yang terkungkung dalam dunia yang hanya serba materi. Tidak ada Tuhan, tak ada spiritualitas, tak ada makna di luar yang terlihat dan terpikirkan. Manusia modern kehilangan dimensi transendensinya –suatu dimensi yang paling mendasar dalam diri kemanusiaannya. Akibatnya ia merasa terasing (alienated) di tengah kemegahan dan kemewahan duniawi disekitarnya. Indikasi dari semua ini adalah semakin banyaknya manusia yang menderita penyakit mental (mental disorder), manusia stress. Gejala banyaknya kasus bunuh diri, merebaknya sadisme dan anarki dalam masyarakat, adalah bukti akan hal tersebut. Pada saat seperti inilah optimisme berubah menjadi pessimisme, manusia mulai mempertanyakan keabsahan humanisme sebagai pandangan hidup. Mereka mulai mencari alternatif-alternatif.
Agama sebagai suatu entitas yang jauh lebih lama eksis dalam sejarah kemanusiaan kembali ditengok. Bisakah agama sebagai alternatif paradigma kehidupan? Beberapa ilmuwan Barat sendiri optimis bahwa agama mampu menjadi alternatif. Diantaranya adalah Scumacher dalam bukunya Gende For The Perplexted, sebagaimana dikutip oleh Komarudin Hidayat, “Mungkin bisa dibayangkan manusia hidup tanpa gereja tetapi mustahil hidup tanpa agama”.
Demikian juga predeksi futurolog John Neisbit dan istrinya Patricia Aburdance, menurutnya, spiritualisme adalah termasuk diantara 10 kecenderungan besar (mega trend) di masa depan, era globalisasi di abad 21. Predeksi tersebut sekarang ini mulai menjadi kenyataan, terbukti dengan adanya kehidupan keagamaan yang semakin marak dalam masyarakat. Kehidupan masa depan selain masih diwarnai oleh perkembangan dalam sain dan teknologi, serta industrialisasi, juga akan semakin disadarinya dimensi moral, etik dan spiritual. Terbukti dengan adanya semakin globalnya tuntutan untuk menegakkan HAM dalam masyarakat dunia.
Pada dataran ini muncul pertanyaan agama seperti apa yang dibutuhkan oleh manusia modern untuk keluar dari krisis?
Jika kita mengamati secara teliti terhadap model keberagamaan masyarakat muslim dewasa ini dapat dikategorikan menjadi beberapa kategori, yakni; Pertama, Model keberagamaan kaum revivalis. Model ini berkeyakinan bahwa Islam adalah agama yang memuat sistim hidup secara sempurna. Yang menyebabkan Islam gagal sebagai pandangan dunia alternatif adalah adanya banyak unsur tambahan, noda dan kotoran yang dilakukan oleh umat Islam sendiri. Berbagai unsur tambahan yang dimaksud adalah masuknya unsur khurafat, tahayul dan bid’ah dalam Islam. Sebagaai alternatifnya adalah harus dilakukannya pembersihan atau pemurnian (revivalisasi) keberagamaan muslim. Termasuk dalam kelompok ini adalah kelompok-kelomok muslim salafi yang ada di beberapa pesantren maupun menjamur di masyarakat dengan penampilan dan gaya hidup yang khas, sebagaimana yang ada pada zaman Nabi. Keberagamaan yang ideal menurut mereka adalah keberagamaan yang dilaksanakan oleh Nabi Muhammad SAW dan para shahabatnya serta generasi awal Islam. Bila kita bisa kembali seperti mereka menurut mereka kita akan kembali berjaya. Meniru Rasulullah secara apa adanya adalah jalan dakwah mereka baik dalam berpikir, bermasyarakat, secara sederhana sebagaimana meniru cara berpakaian dan berpenampilan Nabi dan Shahabatnya. Dalam hal ibadah mahdhoh memang demikian adanya, penambahan, pengurangan dan perubahan adalah bid’ah dan sesat, tetapi dlam hal bermuamalah apakah juga sangat sederhana seperti cara berpakaian, adalah pertanyaan mendasar untuk kelompok ini.
Hampir sama dengan kelompok pertama ini adalah kelompok kedua, yakni kelompok yang juga anti bid’ah, khurafat dan tahayul khususnya dalam hal aqidah dan ‘ibadah. Namun dalam hal bermuamalah kelompok ini justru mengidolakan Barat. Islam menurut mereka justru sangat rasional dan modern. Sehingga tidak terjadi perbedaan atau pertentangan antara Islam dan Barat dalam hal bermuamalah. Metode dakwah mereka adalah mendirikan lembaga-lembaga sosial, pendidikan, yang serupa dengan Barat. Termasuk dalam kelompok ini adalah Muhammadiyah, Al Irsyad, dan sebagainya. Kekurangan yang agak fatal dari kelompok ini adalah tidak dimilikinya paradigma kritis terhadap idiologi dan epistimologi Barat. Sebagaimana yang terjadi di lembaga pendidikan Muhammadiyah, adalah hampir sama dengan lembaga pendidikan umum hanya ditambah jam agama. Tetapi secara substansial masih sama alias plagiat dari paradigma pendidikan Barat.
Ketiga, adalah kelompok tradisional. Kelompok ini tidak menganggap unsur-unsur tertentu yang bersifat tambahan sebagai bid’ah yang disesatkan, sehingga perlu untuk diberantas. Unsur ini justru merupakan kekayaan khasanah dunia Islam, yang harus dipelihara. Unsur ini justru menjadi identitas dan peneguh keberagamaan mereka. Dan jika di-reinterpretasi dan direvitalisasi bisa jadi merupakan nilai luhur yang dapat menjadi filter dari kebudayaan asing yang tidak islami. Termasuk kelompok ini adalah ummat Islam Nahdlatul Ulama (NU). Dengan tradisi yang ada, menurut mereka tidak akan menghalangi mereka untuk maju. Dalam beberapa hal pemikiran, justru kelompok tradisional ini lebih maju dari kelompok modernis. Kekurangan fatal dari kelompok ini adalah mereka juga tidak memiliki pardigma idiologis dan epistimologi kritis terhadap Barat. Fenomena Islam Liberal (JIL) adalah bukti bahwa mereka justru bangga dengan idiologi dan metodologi pemikiran Barat. Dapat dikatakan kelompok tradisional ini masih bernostalgia dengan pemikiran klasik. Mereka kurang begitu melihat adanya permasalahan serius di masa kini dan depan.
Keempat, kelomok fundamentalis. Kelompok ini juga berkeyakinan bahwa Islam adalah jalan hidup sempurna bagi manusia. Jalan hidup non-Islam adalah jalan yang sesat sehingga harus diluruskan. Jika kelompok sesat (non-Islam) ini mengganggu atau memusuhi Islam, maka kelompok ini yang paling gigih melakukan perlawanan. Kelompok ini juga termasuk yang tidak anti terhadap kehidupan maju atau modern. Namun karena sementara ini Barat yang banyak salah paham terhadap umat Islam, seperti adanya isu terorisme maka kelompok ini menyatakan perang terhadap Barat. Namun sebenarnya mereka ini tidak memiliki epitimologi kritis terhadap modernisme. Perlawanan mereka terhadap modernisme adalah perlawanan idiologis serta praktis saja yang hanya mengandalkan semangat serta heroisme massa. Tidak ada gerakan spiritual yang sengaja dibuat dan dibangun untuk melawan pemikiran Barat.
Kelompok kelima, adalah kelompok Islam populis. Kelompok ini di luar empat kelompok di atas. Mereka lebih mengandalkan popularitas dengan media massa. Substansi keberagamaan yang ditampilkan adalah keberagamaan yang menyejukkan. Mereka tidak peduli dengan beberapa hal yang berkategori kilafiah dan permusuhan baik dengan sesama muslim maupun pemeluk agama lain dan juga terhadap Barat. Yang penting bagi mereka adalah kedamaian hati dan kesejukan jiwa. Teknologi dan sistim bisnis ala Barat seperti Al Qur’an seluler, do’a seluler dan sebagainya justru mereka manfaatkan. Begitu juga dengan beberapa aspek keberagamaan justru menjadi lahan bisnis mereka. Telaah kritis terhadap Barat yang didukung kekuatan intelektual yang adiquat dan serius tidak mereka pedulikan. Merka ini banyak sekali memiliki pengikut tetapi tidak diikat dengan ikatan idiologi yang kuat. Sesuai dengan namanya Islam populis, kelompok ini mungkin hanya akan bertahan untuk beberpa saat, sesuai dengan popularitas pimpinannya.
Prihatin dengan beragamnya paradigma keberagamaan yang ada, Komarudin Hidayat berpendapat bahwa, agama masa depan adalah agama yang memperjuangkan prinsip-prinsip antropik–spiritualisme, yaitu madzhab filsafat agama yang menempatkan manusia sebagai subyek sentral dalam jagad raya, tetapi in-hern dalam kemanusiaannya itu tumbuh kesadaran spiritual yang senantiasa berorientasi kepada Tuhannya. Kesadaran spiritual itu hendaknya ditopang oleh ilmu pengetahuan alam dan teknologi sehinga dapat memberikan peta kosmologis yang benar sehingga manusia tahu di mana dan ke mana kereta ruang dan waktunya berjalan.
Agama alternatif yang dimaksud di atas tentu harus melengkapi diri dengan perangkat epistimologis yang bersifat alternatif. Rasionalisme dan empirisme harus didekonstruksi, karena ia hanya memandang alam secara parsial, serta menafikan dimensi-dimensi dasar alam semesta, sehingga dibutuhkan epistimologi alternatif. Epistimologi yang mampu memahami kebenaran secara utuh, bukan hanya kebenaran empiris dan rasional semata. Sebagaimana dunia ini ternyata bukan dunia yang hanya dapat di pahami dengan pemahaman matematik un-sich.
Jika kita sepakat dengan Komarudin Hidayat, jelas bagi kita agama masa depan bukanlah agama yang ditampilkan secara instan karena dapat menghilangkan stess sesaat. Tentu juga bukan agama yang penuh sesak dengan ritualitas tanpa makna, tetapi agama rasional dan sekaligus spiritualistik. Namun kembali lagi kita dihadapkan pada sebuah ironi, yakni kembalinya pemahaman agama yang bersifat mitologis – pra positivisme. (meminjam istilah August Comte)—sebagaimana banyak ditayangkn dalam bentuk intertaiment di media massa saat ini, agama yang irrasional. Bukan pula agama yang membuat menangis pada satu saat dan membiarkan kembali merusak alam sesaat kemudian. Memang bisa juga dipahami bahwa, fenomena mitologisasi agama sebagaimana peredaran narkoba dan yang semakin masif dan sistimatis, adalah bentuk dari gejala ketidak sanggupan manusia untuk menanggung beban berat krisis modernisme tersebut. Namun demikian menganggapnya sebagai sebuah pilihan benar untuk alternatif kehidupan ke depan adalah suatu tindakan yang absurd.
Dengan banyaknya jenis dan corak keberagamaan di atas menunjukkana adanya problem paradigmatis dalam keberagamaan. Maksudnya, manusia pasca-modern memang mulai ingin kembali pada kehidupan yang dibimbing agama, namun sekaligus berhadapan dengan persoalan belum adanya paradigma keberagamaan yang secara aktual berkemampuan menjawab tantangan modernitas seperti yang diuraikan di depan. Upaya menemukan paradigma keberagamaan yang sesuai dengan tantangan modernitas tersebut mestinya disadari sebagai tanggung jawab lembaga akademik setingkat univesitas, seperti Universitas Islam dan atau Intitut Agama Islam Negeri (IAIN).
Di dalam IAIN terdapat Jurusan Ushuludin dengan Program Studi Tafsir-Hadits dan Aqidah-Filsafat-nya –jurusan yang concern untuk mengkaji hal-hal pokok dan radikal dari agama, sangat proporsional untuk memikul tugas ini.
Jurusan Ushuludin :
Sebelum disatukan kedalam Fakultas Ushuludin dan Dakwah, Jurusan Ushuludin, Program studi Aqidah dan Filsafat, telah memiliki visi hendak menjadi lembaga akademik yang unggul dan concern untuk mengkaji pemikiran ke-Islaman dan ke-Indonesiaan, inovatif dalam penelitian, aplikatif dan transformatif-humanistik dalam persoalan agama, sosial dan budaya.” Sedangkan program Studi Al Qur’an dan Hadits memiliki visi : “Unggul dalam studi tafsir hadis konteks Keindonesiaan, inovatif dalam penelitian tafsir hadis, aplikatif dan transformatif-humanistik dalam persoalan agama, sosial dan budaya”
Atas dasar visi di atas, mengkaji masalah-masalah pokok dalam Islam adalah bagian dari Prodi. Aqidah Filsafat. Tentu bukan kajian akademik yang tanpa arah, melainkan kajian akademik yang memiliki orientasi menghasilkan metodologi pemahaman keagamaan dalam Islam, yang memungkinkan lahirnya corak keagamaan yang memperjuangkan prinsip-prinsip antropik–spiritualisme, yaitu madzhab filsafat agama yang menempatkan manusia sebagai subyek sentral dalam jagad raya, tetapi in-hern dalam kemanusiaannya itu tumbuh kesadaran spiritual yang senantiasa berorientasi kepada Tuhannya. Dalam corak keagamaan semacam ini akan muncul wajah agama yang rasional, humanis, spiritualis, dan inklusif.
Bagaimana metode pemahaman seperti di atas digunakan untuk memahami sumber nilai dan ajaran Islam (Al Qur’an dan Al Hadits), sehingga melahirkan corak keberagamaan yang menjawab kebutuhan manusia modern, adalah tugas dari Prodi. Al qur’an dan Al Hadits.
Presentasi kehidupan keberagamaan seperti yang terjadi pada saat-saat sekarang ini yang terkesan sporadis, bahkan saling bertentangan satu dengan lainya, mestinya tidak perlu terjadi jika Jurusan Ushuludin dengan program studi yang dimiliki berhasil memproduk pemikiran metodologis yang based on problematika masyarakat modern sekarang ini.
Jika diperhatikan dengan lebih seksama visi Jurusan Ushuludin di atas, penekanan pada analisa krisis manusia modern yang begitu berhajat kepada agama (Islam) kurang begitu mendapat aksentuasi. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penekanan seperti itu seharusnya dilakukan. Jurusan Ushuludin mestinya mengarahkan kegiatan akademisnya demi terwujudnya metodologi pemahaman keagamaan yang :
1. Bercorak spiritual-profetik (spiritualitas yang merubah dan membangun).
2. Mengunguli paradigma modernisme dalam penguasaan sain dan teknologi.
3. Bercorak liberatif (pembebasan), humanistik (manausiawi) dan inklusif-pluralistik (akur dengan perbedaan).
Bagaimana aplikasi metodologi tersebut ketika digunakan dalam memahamai al Qur’an dan al Hadits adalah tugas yang tidak boleh disia-siakan. Tugas inilah yang harus diemban sekaligus menjadi visi pengembangan Program Studi Tafsir-Hadits.
Memang tidak mudah untuk bisa merealisasikan visi tersebut. Berberapa komponen yang secara langsung berkaitan dengan kegiatan akademis, mulai dari konstruksi kurikulum, silabi, hingga pola pikir tenaga pengajar dan dosen, KBM (Kegiatan Belajar-Mengajar), hingga pilihan-pilihan tema serta pendekatan penelitian, dan kegiatan-kegiatan penunjang akademik seperti perpustakaan dan laboratorium harus berjalan seiring dan searah dengan visi tersebut.
Jurusan Dakwah
Hakekat Dakwah adalah mengajak umat manusia supaya masuk kedalam jalan Allah (Sistim Islam) secara menyeluruh baik dengan lisan dan tulisan maupun perbuatan, sebagai ikhtiar muslim mewujudkan ajaran Islam dalam kehidupan syahsyiah, usroh, jama’ah dan ummat, dalam semua segi kehidupan secara berjama’ah sehingga terwujud khairul ummah.
Dari pengertian di atas dapat kita pahami bahwa upaya mengajak manusia agar masuk ke dalam sistim Islam baik dengan lisan maupun tulisan memiliki dua dimenasi yaitu dimensi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) dan Bimbingan Konseling Islam (BKI). Sedangkan mengajak dengan perbuatan berdimensi tunggal yakni Pemberdayaan Masyarakat Islam (PMI). Ketiganya merupakan tiga prodi. generik yang semestinya ada dalam Jurusan Dakwah.
Jika dibandingkan dengan posisi Ushuludin yang bertugas mengkaji pokok-pokok agama, maka Jurusan Dakwah lebih pada tugas sosialisasi dan internalisasi. Bisa juga dibuat analogi, jika Ushuludin bekerja di bagian dapur, maka Dakwah bertugas menghidangkan masakan kepada khalayak. Ushuludin dan Dakwah sesungguhnya memiliki hubungan yang bersifat sustainable (keberlanjutan). Kenyataan ini memperkuat alasan bahwa Ushuludin dan Dakwah merupakan dua bangunan ilmu yang seharusnya bertolak dari pangkal paradigmatis yang sama. Tidak boleh ada dua paradigma yang saling bertentangan untuk bangunan keilmuan yang saling kait seperti Ushuludin dan Dakwah.
Oleh karena itu, visi pengembangan kelembagaan dari semua program studi yang ada pada Jurusan Dakwah tidak boleh keluar dari problematika modernitas seperti yang telah diuraikan di depan. Artinya, semua Prodi. Dakwah bertugas menghadirkan keberagamaan yang berkharakter: spiritual-profetik (kenabian), mengungguli paradigma modernitas dalam hal sain dan teknologi, dan bercorak liberatif (pembebasan), humanistik (manusiawi) dan inklusif-pluralistik (akur dengan perbedaan).
Dari paradigma keberagamaan di atas, maka selanjutnya dapat di break down kepada visi prodi-prodi yang ada di Jurusan Dakwah baik itu KPI, BKI, maupun PMI. KPI sebagai prodi yang mengambil bagian untuk mendidik mahasiswa menjadi insan cendekia yang memiliki keahlian dalam menyampaikan ajaran Islam baik dengan khitabah maupun melalui media massa kepada masyarakat, tidak boleh hanya menguasai atau berkemampuan untuk menggunakan perangkat teknologi modern yang berkaitan dengan media komunikasi massa, akan tetapi lebih dari itu, mereka adalah insan cendekia yang mengabdikan kemampuan dan ketrampilan yang dimilikinya untuk kepentingan penyiaran dan internalisasi Islam yang berparadigma spiritual-profetik, modern, liberatif, dan inklusif. Kemampuan dan ketrampilan yang tanpa kesadaran pemihakan terhadap paradigma tersebut, sangat mungkin menjadikan alumni-alumni Jurusaan Dakwah terkooptasi oleh idiologi sosial yang anti paradigma mereka sendiri. Jika ini yang terjadi, maka sama artinya dengan lembaga akademik yang menjadi “anak durhaka” terhadap paradigma induknya yang mestinya menjadi missi sucinya. Memang paradigma dan epistimologi keilmuan tidaklah bebas nilai. Ia mesti dibangun di atas nilai tertentu.
Demikian juga dengan Prodi. BKI maupun PMI. Prodi BKI sebagai prodi yang mengambil bagian untuk mendidik mahasiswa menjadi insan cendekia yang memiliki keahlian dalam menyampaikan ajaran Islam, serta memiliki keahlian membimbing dan memberikan konseling kepada masyarakat muslim. Perbedaan BKI dengan KPI, jika KPI melihat permasalahan ummat dari sudut pandang permasalahan publik, serta bersifat top-down, maka BKI dalam berdakwah melihat permasalahan dari sudut padang personal dan spesifik dan bersifat battom-up. Jika KPI untuk melaksanakan fungsi dan perannyaa sangat berhajat pada ilmu komunikasi, maka BKI sangat berhajat pada ilmu psikologi, karena dengan ilmu psikologi seorang penyuluh atau konselor (alumni BKI) dapat memahami permasalahan yang dialami klien, serta dapat memberikan solusi, nasehat dan saran secara tepat berdasarkan pada nilai-nilai dan ajaran Islam.
Sama dengan Prodi. KPI, Visi Prodi. BKI juga harus didasarkan kepada paradigma keberagamaan profetik, modern, liberatif, dan inklusif. Jika tidak demikian, maka out come atau alumni Prodi. BKI juga dikhawatirkan hanya menjadi ilmuwan tukang, yang tidak memihak kepada kepentingan dakwah Islamiah sejati. Demikian juga dengan Prodi. PMI, selain memiliki keahlian mentransformasikan ummat, serta melembagakan nilai-nilai Islam dalam masyarakat, juga dituntut untuk menjadi cendekiawan yang memihak pada nilai dan paradigma keberagaman profetik, modern, liberatif, dan inklusif. Intinya, visi jurusan dakwah haruslah mendasarkan dimensi pengetahuan dan ketrampilan (knoledge and skill) pada paradigma dakwah Islam sejati sebagaimana diuraikan di atas.
Perangkat Akademik yang Konsiten
Jika gagasan di atas masih berada pada dataran filosofis, maka tugas berikutnya merancang bangun perangkat akademik yang konsisten terhadaap visi ke-fakultasan. Perangkat akademik dimaksud meliputi perangkat kurikulum, silabus, rencana pembelajaran, para pengajar (dosen), perpustakaan, laboratorium, kegiatan-kegiatan penunjang akademis lainnya yang mendukung terwujudnya visi kefakultasan.
Di dalam kurikulum terdapat berbagai unsur mulai berbagai kompetensi yang akan dicapai, sampai indikator / kompetensi dasarnya harus disusun sedemikian rupa, dengan sangat memperhatikan aspek konsistensi terhadap paradigma keberagamaan yang dianut fakultas. Untuk selanjutnya disusunlah berbagai mata kuliah guna mencapai standar kompetensi tersebut. Pada tahap berikutnya mata kuliah diserahkan kepada para dosen. Dosen terlebih dahulu harus merancang SAP (Satuan Acara Perkuliahan) yang diturunkan dari silabi yang telah dibuat oleh team teaching berdasar pada kurikulum yang sudah tersedia. SAP tersebut selanjutnya menjadi acuan dosen untuk membuat buku daras, serta bahan-bahan perkuliahan yang lain.
Para pengajar/dosen menempati peran strategis dalam mengeksekusi paradigma keberagamaan yang selanjutnya mendasari bangunan epistimologis keilmuan dakwah. Mind-set seorang dosen yang mengajar di Jurusan Dakwah haruslah sejalan dengan visi kefakultasan di atas. Ditangan dosenlah bangunan konseptual keilmuan untuk terakhir kali diramu. Ditangan dosenlah proses finishing proyek rekayasa akademik di Fakultas Ushuludin dan Dakwah dilaksanakan. Demikian selanjutnya, semua perangkat akademik yang lain harus mendukung sistim yang sedang dibangun oleh Fakultas Ushuludin dan Dakwah.
Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Surakarta, yang di akhir tahun 2011 ini beralih status menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta, tentu saja harus diikuti perubahan tata kelembagaan di bawahnya. Yang semula “Jurusan” di bawah Sekolah Tinggi, untuk saat ini harus berubah menjadi di bawah “Fakultas”. Pada masa STAIN Surakarta memiliki enam “jurusan”, saat menjadi IAIN harus menggabungkan setiap dua jurusan dalam satu fakultas, sesuai dengan core keilmuan masing-masing. Karena ituah, Jurusan Ushuludin harus digabung dengan Jurusan Dakwah dalam lembaga baru, “Fakultas Ushuludin dan Dakwah”.
Seperti dijelaskan di muka, kedua Jurusan tersebut disatukan kedalam satu fakultas dengan alasan kedekatan core keilmuannya. Selain sama-sama masuk dalam kelompok Studi Islam, keduanaya juga berada dalam satu kajian theologis. Jika Ushuludin mengkaji theologi Islam dari sumber aslinya (al Qur’an-Al Sunnah dan Aqidah-Filsafat), maka Dakwah mengkaji penerapan dan pengembangan theologi Islam dalam masyarakat. Jika Ushuludin mengkaji dapurnya, maka Dakwah mengkaji penyajiannya kepada manusia.
Penggabungan dua Jurusan Ushuludin dan Dakwah tidak seharusnya dipahami hanya urusan penyatuan struktural-kelembagaan, tetapi mestinya dipahami lebih dalam melalui kesatuan visi. Tanpa kesatuan visi, tidak mustahil kedua jurusan tersebut berkembang dalam arah yang berbeda, tidak singkron dan kompak, yang akhirnya ke depan tidak dapat berkembang secara efektif. Kecuali itu, dengan adanya visi yang dibangun bersama-sama dan integratif, maka arah pengembangan lembaga baru Fakultas Ushuludin dan Dakwah beserta semua bagian-bagiannya dalam struktur kefakultasan, juga semua stake holder, dan employee-nya, akan memahami ke arah mana mereka akan bersama-sama berkembang.
2. Latar Belakang Visi Fakultas : Analisa atas Masa Depan
Tidak ada yang menyangkal bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi masih akan mendominasi kehidupan manusia modern sekarang ini dan mungkin beberapa dekade ke depan. Karena itu sudah semestinya jika lembaga, selalu meletakkan dominasi ilmu-pengetahuan dan teknologi sebagai pertimbangan utama dalam merancang gambaran masa depan mereka. Beberapa pertanyaan dapat disampaikan di sini; mulai dari latar belakang dan arah perkembangan ilmu penggetahuan dan teknologi, akibat-akibat yang telah dan sedang terjadi oleh perkembangan sain dan teknologi, hingga bagaimana pemikiran-pemikiran alternatif disekitar perkembangannya, dan sebagainya pantas untuk dianalisa. Kaitanya dengan rancangan visi akademik Fakultas Agama (khususnya Ushuludin dan Dakwah), tentu pertanyaan tentang hubungan antara perkembangan sain dan teknologi dengan agama tidak bisa dinafikan.
Beberapa hal yang menonjol dalam kehidupan manusia modern saat-saat sekarang ini, yang mana ilmu pengetahuan sebagai pemandunya, diantaranya adalah; kehidupan yang semakin materialistik, gerak kehidupan yang mengarah pada lahirnya krisis multi-dimensi (spiritual-moral, sosial, hingga fisikal), dan yang tidak kalah serius adalah semakin menguatnya kecemasan massal manusia modern. Kita bisa menduga bahwa fenomena krisis multi dimensi tersebut adalah konsekuensi dari perkembanagan sain dan teknologi. Dari siini, pertanyaan-pertanyaan seperti; ada apa dengan sain dan teknologi?, bagaimana kharakternya? Akan mengemuka.
Watak atau kharakter sain dan teknologi yang kini memasuki puncak perkembangannya, tentu tidak lepas dari sejarah kelahirannya. Kelahiran sain dan teknologi diawali oleh sebuah pandangan dunia yang baru pada abad 15 di wilayah barat Benua Eropa, yakni humanaisme-anthroposentrisme. Inti dari pandangan dunia tersebut adalah kepercayaan yang berlebihan kepada manusia (human being), bukan Tuhan, sebagai penguasa tunggal alam jagad raya ini. Memang Tuhan pernah ada, tetapi hanya menciptakan alam dengan seisinya beserta hukum-hukumnya saja, kemudian ia tidak berarti apa-apa. Tuhan identik dengan aturan alam ini saja. Tidak ada tempat bagi Tuhan yang bersifat personal. Tidak ada mistisime dan metafisika. Inilah inti dari Humanisme abad 16.
Yang menonjol dari humanisme adalah penuhanan terhadap rasionalisme dan empirisme. Keduanya berpandangan bahwa pada dasarnya dunia ini memiliki arti yang dapat dipahami yakni arti matematis. Selanjutnya rasionalisme dan empirisme ini menjadi ruh (spirit) bagi lahirnya ilmu pengetahuan baru. Ilmu pengetahuan ini, baik dalam arti sebagai satu satuan pengetahuan ilmiah yang terkumpul dan tersusun maupun dalam arti sebagai suatu cara penyelesaian masalah (yaitu metode ilmiah), tidaklah berurusan dengan metafisika. Sebagai ilmu pengetahuan ilmu ini tidak memberikan suatu kosmologi atau pun ontologi. Ilmu pengetahuan sebagai ilmu pengetahuan tidak berusaha untuk menjawab –bahkan tidak mempersoalkan—masalah-masalah besar mengenai nasib manusia, dan mengenai benar dan salah, serta baik dan buruk. Jadi rasionalisme dan empirisme cenderung untuk menyingkirkan Tuhan serta keghaiban yang ada di dunia ini. Yang ada hanyalah sesuatu yang belum diketahui dan nanti suatu saat akan dapat terungkap dengan penelitian yang menggunakan metode ilmiah. Rasionalisme dan empirisme telah menggantikan agama dalam fungsinya sebagai landasan dan petunjuk kehidupan manusia.
Pandangan dunia ini selanjutnya memberikan petunjuk bagi kaum ilmuwan dan masyarakat penganut rasionalisme dan empirisme dalam menyelesaikan segala permasalahan yang mereka hadapi. Dengan semangat hidup hanya di sini dan saat ini dan hanya sekali, manusia modern menjadi manusia yang berwatak eksploitatif dan paling destruktif dalam menggauli alam sepanjang sejarah kemanuisaan. Ukuran baik dan benar bagi mereka adalah keuntungan dan kesenangan yang bersifat materiil.
Namun demikian sebagai sebuah pandangan dunia yang baru dan merupakan antitesa dari segala bentuk dan tindakan penindasan oleh Gereja Katolik abad pertengahan kepada masyarakat Eropa dan Amerika saat itu, pandangan dunia ini berhasil menjadi idiologi pemberontakan dan reformasi, yang hasilnya adalah progresifitas pada beberapa abad kemudian hingga saat ini. Hingga akhir abad 20-an hampir tidak ada ilmuan yang berpikiran kritis terhadap pandangan dunia rasionalisme dan empirisme tersebut. Hampir seluruh negara di dunia ini akhirnya menganut “agama baru” tersebut. Akibatnya adalah perkembangan dunia yang tanpa arah kecuali eksploitasi bagi pemuasan nafsu hedonisme manusia. Spirit inilah yang kemudian memunculkan berbagai krisis di hampir seluruh belahan dunia. Krisis yang meliputi seluruh dimensi hidup manusia, dari spiritual, sosial hingga lingkungan alam.
Di puncak kulminasi perkembangan dunia atas bimbingan agama rasionalisme dan empirisme, yang tidak lain adalah ruh modernisme, muncul –walaupun masih sangat bersifat sporadis pemikiran kritis teradap pendangan dunia modernisme itu. Tepatnya pada akhir abad 20 dan awal abad 21 ini, dimulai oleh para arsitektur, ahli ilmu pengetahuan, dan para intelektual lainya, bergantilah optimisme menjadi kekawatiran global. Masyarakat dunia cemas dan khawatir. Ternyata peradaban modern dengan sain dan teknologinya, disamping memberikan kemudahan bagi kehidupan manusia di satu sisi, pada sisi yang lain juga mendatangkan dampak negatif yang sangat mengkawatirkan. Berbagai krisis terjadi di mana-mana, mulai dari krisis sumber daya alam; menipisnya cadangan bahan bakar minyak dan gas, polusi darat, laut, dan udara; krisis sosial kemanusiaan, maraknya penzoliman antar manusia, minimnya keadilan, lunturnya kasih sayang dengan sesama, semua itu manifes dalam bentuk terjadinya berbagai konflik antar bangsa dan negara; hingga runtuhnya sendi-sendi moral-spiritual masyarakat dunia. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa titik teratas dari perkembangan metode ilmiah dan sekaligus pandangan dunia baru adalah krisis multi dimensi dalam kehidupan manusia.
Di samping krisis global tersebut, yang tidak kalah hebatnya adalah dampak modernisme pada skala individual. Banyak manusia modern yang merasakan beban hidupnya jauh di atas kemampuan dirinya untuk menanggung. Pada hal ia tidak lagi memiliki Tuhan sebagai tempat bersandar dan minta tolong. Dari sini mudah untuk dipahami mengapa manusia modern banyak mengalami depresi pemikiran dan mental, mudah putus asa, dan terjangkiti dis-orientasi dan kehilangan harapan pada masa depan mereka.
Manusia modern adalah manusia anthroposentrisme, yakni manusia yang terlanjur tidak percaya pada hal-hal yang berada di luar nalar dan inderanya. Makluk yang terkungkung dalam dunia yang hanya serba materi. Tidak ada Tuhan, tak ada spiritualitas, tak ada makna di luar yang terlihat dan terpikirkan. Manusia modern kehilangan dimensi transendensinya –suatu dimensi yang paling mendasar dalam diri kemanusiaannya. Akibatnya ia merasa terasing (alienated) di tengah kemegahan dan kemewahan duniawi disekitarnya. Indikasi dari semua ini adalah semakin banyaknya manusia yang menderita penyakit mental (mental disorder), manusia stress. Gejala banyaknya kasus bunuh diri, merebaknya sadisme dan anarki dalam masyarakat, adalah bukti akan hal tersebut. Pada saat seperti inilah optimisme berubah menjadi pessimisme, manusia mulai mempertanyakan keabsahan humanisme sebagai pandangan hidup. Mereka mulai mencari alternatif-alternatif.
Agama sebagai suatu entitas yang jauh lebih lama eksis dalam sejarah kemanusiaan kembali ditengok. Bisakah agama sebagai alternatif paradigma kehidupan? Beberapa ilmuwan Barat sendiri optimis bahwa agama mampu menjadi alternatif. Diantaranya adalah Scumacher dalam bukunya Gende For The Perplexted, sebagaimana dikutip oleh Komarudin Hidayat, “Mungkin bisa dibayangkan manusia hidup tanpa gereja tetapi mustahil hidup tanpa agama”.
Demikian juga predeksi futurolog John Neisbit dan istrinya Patricia Aburdance, menurutnya, spiritualisme adalah termasuk diantara 10 kecenderungan besar (mega trend) di masa depan, era globalisasi di abad 21. Predeksi tersebut sekarang ini mulai menjadi kenyataan, terbukti dengan adanya kehidupan keagamaan yang semakin marak dalam masyarakat. Kehidupan masa depan selain masih diwarnai oleh perkembangan dalam sain dan teknologi, serta industrialisasi, juga akan semakin disadarinya dimensi moral, etik dan spiritual. Terbukti dengan adanya semakin globalnya tuntutan untuk menegakkan HAM dalam masyarakat dunia.
Pada dataran ini muncul pertanyaan agama seperti apa yang dibutuhkan oleh manusia modern untuk keluar dari krisis?
Jika kita mengamati secara teliti terhadap model keberagamaan masyarakat muslim dewasa ini dapat dikategorikan menjadi beberapa kategori, yakni; Pertama, Model keberagamaan kaum revivalis. Model ini berkeyakinan bahwa Islam adalah agama yang memuat sistim hidup secara sempurna. Yang menyebabkan Islam gagal sebagai pandangan dunia alternatif adalah adanya banyak unsur tambahan, noda dan kotoran yang dilakukan oleh umat Islam sendiri. Berbagai unsur tambahan yang dimaksud adalah masuknya unsur khurafat, tahayul dan bid’ah dalam Islam. Sebagaai alternatifnya adalah harus dilakukannya pembersihan atau pemurnian (revivalisasi) keberagamaan muslim. Termasuk dalam kelompok ini adalah kelompok-kelomok muslim salafi yang ada di beberapa pesantren maupun menjamur di masyarakat dengan penampilan dan gaya hidup yang khas, sebagaimana yang ada pada zaman Nabi. Keberagamaan yang ideal menurut mereka adalah keberagamaan yang dilaksanakan oleh Nabi Muhammad SAW dan para shahabatnya serta generasi awal Islam. Bila kita bisa kembali seperti mereka menurut mereka kita akan kembali berjaya. Meniru Rasulullah secara apa adanya adalah jalan dakwah mereka baik dalam berpikir, bermasyarakat, secara sederhana sebagaimana meniru cara berpakaian dan berpenampilan Nabi dan Shahabatnya. Dalam hal ibadah mahdhoh memang demikian adanya, penambahan, pengurangan dan perubahan adalah bid’ah dan sesat, tetapi dlam hal bermuamalah apakah juga sangat sederhana seperti cara berpakaian, adalah pertanyaan mendasar untuk kelompok ini.
Hampir sama dengan kelompok pertama ini adalah kelompok kedua, yakni kelompok yang juga anti bid’ah, khurafat dan tahayul khususnya dalam hal aqidah dan ‘ibadah. Namun dalam hal bermuamalah kelompok ini justru mengidolakan Barat. Islam menurut mereka justru sangat rasional dan modern. Sehingga tidak terjadi perbedaan atau pertentangan antara Islam dan Barat dalam hal bermuamalah. Metode dakwah mereka adalah mendirikan lembaga-lembaga sosial, pendidikan, yang serupa dengan Barat. Termasuk dalam kelompok ini adalah Muhammadiyah, Al Irsyad, dan sebagainya. Kekurangan yang agak fatal dari kelompok ini adalah tidak dimilikinya paradigma kritis terhadap idiologi dan epistimologi Barat. Sebagaimana yang terjadi di lembaga pendidikan Muhammadiyah, adalah hampir sama dengan lembaga pendidikan umum hanya ditambah jam agama. Tetapi secara substansial masih sama alias plagiat dari paradigma pendidikan Barat.
Ketiga, adalah kelompok tradisional. Kelompok ini tidak menganggap unsur-unsur tertentu yang bersifat tambahan sebagai bid’ah yang disesatkan, sehingga perlu untuk diberantas. Unsur ini justru merupakan kekayaan khasanah dunia Islam, yang harus dipelihara. Unsur ini justru menjadi identitas dan peneguh keberagamaan mereka. Dan jika di-reinterpretasi dan direvitalisasi bisa jadi merupakan nilai luhur yang dapat menjadi filter dari kebudayaan asing yang tidak islami. Termasuk kelompok ini adalah ummat Islam Nahdlatul Ulama (NU). Dengan tradisi yang ada, menurut mereka tidak akan menghalangi mereka untuk maju. Dalam beberapa hal pemikiran, justru kelompok tradisional ini lebih maju dari kelompok modernis. Kekurangan fatal dari kelompok ini adalah mereka juga tidak memiliki pardigma idiologis dan epistimologi kritis terhadap Barat. Fenomena Islam Liberal (JIL) adalah bukti bahwa mereka justru bangga dengan idiologi dan metodologi pemikiran Barat. Dapat dikatakan kelompok tradisional ini masih bernostalgia dengan pemikiran klasik. Mereka kurang begitu melihat adanya permasalahan serius di masa kini dan depan.
Keempat, kelomok fundamentalis. Kelompok ini juga berkeyakinan bahwa Islam adalah jalan hidup sempurna bagi manusia. Jalan hidup non-Islam adalah jalan yang sesat sehingga harus diluruskan. Jika kelompok sesat (non-Islam) ini mengganggu atau memusuhi Islam, maka kelompok ini yang paling gigih melakukan perlawanan. Kelompok ini juga termasuk yang tidak anti terhadap kehidupan maju atau modern. Namun karena sementara ini Barat yang banyak salah paham terhadap umat Islam, seperti adanya isu terorisme maka kelompok ini menyatakan perang terhadap Barat. Namun sebenarnya mereka ini tidak memiliki epitimologi kritis terhadap modernisme. Perlawanan mereka terhadap modernisme adalah perlawanan idiologis serta praktis saja yang hanya mengandalkan semangat serta heroisme massa. Tidak ada gerakan spiritual yang sengaja dibuat dan dibangun untuk melawan pemikiran Barat.
Kelompok kelima, adalah kelompok Islam populis. Kelompok ini di luar empat kelompok di atas. Mereka lebih mengandalkan popularitas dengan media massa. Substansi keberagamaan yang ditampilkan adalah keberagamaan yang menyejukkan. Mereka tidak peduli dengan beberapa hal yang berkategori kilafiah dan permusuhan baik dengan sesama muslim maupun pemeluk agama lain dan juga terhadap Barat. Yang penting bagi mereka adalah kedamaian hati dan kesejukan jiwa. Teknologi dan sistim bisnis ala Barat seperti Al Qur’an seluler, do’a seluler dan sebagainya justru mereka manfaatkan. Begitu juga dengan beberapa aspek keberagamaan justru menjadi lahan bisnis mereka. Telaah kritis terhadap Barat yang didukung kekuatan intelektual yang adiquat dan serius tidak mereka pedulikan. Merka ini banyak sekali memiliki pengikut tetapi tidak diikat dengan ikatan idiologi yang kuat. Sesuai dengan namanya Islam populis, kelompok ini mungkin hanya akan bertahan untuk beberpa saat, sesuai dengan popularitas pimpinannya.
Prihatin dengan beragamnya paradigma keberagamaan yang ada, Komarudin Hidayat berpendapat bahwa, agama masa depan adalah agama yang memperjuangkan prinsip-prinsip antropik–spiritualisme, yaitu madzhab filsafat agama yang menempatkan manusia sebagai subyek sentral dalam jagad raya, tetapi in-hern dalam kemanusiaannya itu tumbuh kesadaran spiritual yang senantiasa berorientasi kepada Tuhannya. Kesadaran spiritual itu hendaknya ditopang oleh ilmu pengetahuan alam dan teknologi sehinga dapat memberikan peta kosmologis yang benar sehingga manusia tahu di mana dan ke mana kereta ruang dan waktunya berjalan.
Agama alternatif yang dimaksud di atas tentu harus melengkapi diri dengan perangkat epistimologis yang bersifat alternatif. Rasionalisme dan empirisme harus didekonstruksi, karena ia hanya memandang alam secara parsial, serta menafikan dimensi-dimensi dasar alam semesta, sehingga dibutuhkan epistimologi alternatif. Epistimologi yang mampu memahami kebenaran secara utuh, bukan hanya kebenaran empiris dan rasional semata. Sebagaimana dunia ini ternyata bukan dunia yang hanya dapat di pahami dengan pemahaman matematik un-sich.
Jika kita sepakat dengan Komarudin Hidayat, jelas bagi kita agama masa depan bukanlah agama yang ditampilkan secara instan karena dapat menghilangkan stess sesaat. Tentu juga bukan agama yang penuh sesak dengan ritualitas tanpa makna, tetapi agama rasional dan sekaligus spiritualistik. Namun kembali lagi kita dihadapkan pada sebuah ironi, yakni kembalinya pemahaman agama yang bersifat mitologis – pra positivisme. (meminjam istilah August Comte)—sebagaimana banyak ditayangkn dalam bentuk intertaiment di media massa saat ini, agama yang irrasional. Bukan pula agama yang membuat menangis pada satu saat dan membiarkan kembali merusak alam sesaat kemudian. Memang bisa juga dipahami bahwa, fenomena mitologisasi agama sebagaimana peredaran narkoba dan yang semakin masif dan sistimatis, adalah bentuk dari gejala ketidak sanggupan manusia untuk menanggung beban berat krisis modernisme tersebut. Namun demikian menganggapnya sebagai sebuah pilihan benar untuk alternatif kehidupan ke depan adalah suatu tindakan yang absurd.
Dengan banyaknya jenis dan corak keberagamaan di atas menunjukkana adanya problem paradigmatis dalam keberagamaan. Maksudnya, manusia pasca-modern memang mulai ingin kembali pada kehidupan yang dibimbing agama, namun sekaligus berhadapan dengan persoalan belum adanya paradigma keberagamaan yang secara aktual berkemampuan menjawab tantangan modernitas seperti yang diuraikan di depan. Upaya menemukan paradigma keberagamaan yang sesuai dengan tantangan modernitas tersebut mestinya disadari sebagai tanggung jawab lembaga akademik setingkat univesitas, seperti Universitas Islam dan atau Intitut Agama Islam Negeri (IAIN).
Di dalam IAIN terdapat Jurusan Ushuludin dengan Program Studi Tafsir-Hadits dan Aqidah-Filsafat-nya –jurusan yang concern untuk mengkaji hal-hal pokok dan radikal dari agama, sangat proporsional untuk memikul tugas ini.
Jurusan Ushuludin :
Sebelum disatukan kedalam Fakultas Ushuludin dan Dakwah, Jurusan Ushuludin, Program studi Aqidah dan Filsafat, telah memiliki visi hendak menjadi lembaga akademik yang unggul dan concern untuk mengkaji pemikiran ke-Islaman dan ke-Indonesiaan, inovatif dalam penelitian, aplikatif dan transformatif-humanistik dalam persoalan agama, sosial dan budaya.” Sedangkan program Studi Al Qur’an dan Hadits memiliki visi : “Unggul dalam studi tafsir hadis konteks Keindonesiaan, inovatif dalam penelitian tafsir hadis, aplikatif dan transformatif-humanistik dalam persoalan agama, sosial dan budaya”
Atas dasar visi di atas, mengkaji masalah-masalah pokok dalam Islam adalah bagian dari Prodi. Aqidah Filsafat. Tentu bukan kajian akademik yang tanpa arah, melainkan kajian akademik yang memiliki orientasi menghasilkan metodologi pemahaman keagamaan dalam Islam, yang memungkinkan lahirnya corak keagamaan yang memperjuangkan prinsip-prinsip antropik–spiritualisme, yaitu madzhab filsafat agama yang menempatkan manusia sebagai subyek sentral dalam jagad raya, tetapi in-hern dalam kemanusiaannya itu tumbuh kesadaran spiritual yang senantiasa berorientasi kepada Tuhannya. Dalam corak keagamaan semacam ini akan muncul wajah agama yang rasional, humanis, spiritualis, dan inklusif.
Bagaimana metode pemahaman seperti di atas digunakan untuk memahami sumber nilai dan ajaran Islam (Al Qur’an dan Al Hadits), sehingga melahirkan corak keberagamaan yang menjawab kebutuhan manusia modern, adalah tugas dari Prodi. Al qur’an dan Al Hadits.
Presentasi kehidupan keberagamaan seperti yang terjadi pada saat-saat sekarang ini yang terkesan sporadis, bahkan saling bertentangan satu dengan lainya, mestinya tidak perlu terjadi jika Jurusan Ushuludin dengan program studi yang dimiliki berhasil memproduk pemikiran metodologis yang based on problematika masyarakat modern sekarang ini.
Jika diperhatikan dengan lebih seksama visi Jurusan Ushuludin di atas, penekanan pada analisa krisis manusia modern yang begitu berhajat kepada agama (Islam) kurang begitu mendapat aksentuasi. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penekanan seperti itu seharusnya dilakukan. Jurusan Ushuludin mestinya mengarahkan kegiatan akademisnya demi terwujudnya metodologi pemahaman keagamaan yang :
1. Bercorak spiritual-profetik (spiritualitas yang merubah dan membangun).
2. Mengunguli paradigma modernisme dalam penguasaan sain dan teknologi.
3. Bercorak liberatif (pembebasan), humanistik (manausiawi) dan inklusif-pluralistik (akur dengan perbedaan).
Bagaimana aplikasi metodologi tersebut ketika digunakan dalam memahamai al Qur’an dan al Hadits adalah tugas yang tidak boleh disia-siakan. Tugas inilah yang harus diemban sekaligus menjadi visi pengembangan Program Studi Tafsir-Hadits.
Memang tidak mudah untuk bisa merealisasikan visi tersebut. Berberapa komponen yang secara langsung berkaitan dengan kegiatan akademis, mulai dari konstruksi kurikulum, silabi, hingga pola pikir tenaga pengajar dan dosen, KBM (Kegiatan Belajar-Mengajar), hingga pilihan-pilihan tema serta pendekatan penelitian, dan kegiatan-kegiatan penunjang akademik seperti perpustakaan dan laboratorium harus berjalan seiring dan searah dengan visi tersebut.
Jurusan Dakwah
Hakekat Dakwah adalah mengajak umat manusia supaya masuk kedalam jalan Allah (Sistim Islam) secara menyeluruh baik dengan lisan dan tulisan maupun perbuatan, sebagai ikhtiar muslim mewujudkan ajaran Islam dalam kehidupan syahsyiah, usroh, jama’ah dan ummat, dalam semua segi kehidupan secara berjama’ah sehingga terwujud khairul ummah.
Dari pengertian di atas dapat kita pahami bahwa upaya mengajak manusia agar masuk ke dalam sistim Islam baik dengan lisan maupun tulisan memiliki dua dimenasi yaitu dimensi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) dan Bimbingan Konseling Islam (BKI). Sedangkan mengajak dengan perbuatan berdimensi tunggal yakni Pemberdayaan Masyarakat Islam (PMI). Ketiganya merupakan tiga prodi. generik yang semestinya ada dalam Jurusan Dakwah.
Jika dibandingkan dengan posisi Ushuludin yang bertugas mengkaji pokok-pokok agama, maka Jurusan Dakwah lebih pada tugas sosialisasi dan internalisasi. Bisa juga dibuat analogi, jika Ushuludin bekerja di bagian dapur, maka Dakwah bertugas menghidangkan masakan kepada khalayak. Ushuludin dan Dakwah sesungguhnya memiliki hubungan yang bersifat sustainable (keberlanjutan). Kenyataan ini memperkuat alasan bahwa Ushuludin dan Dakwah merupakan dua bangunan ilmu yang seharusnya bertolak dari pangkal paradigmatis yang sama. Tidak boleh ada dua paradigma yang saling bertentangan untuk bangunan keilmuan yang saling kait seperti Ushuludin dan Dakwah.
Oleh karena itu, visi pengembangan kelembagaan dari semua program studi yang ada pada Jurusan Dakwah tidak boleh keluar dari problematika modernitas seperti yang telah diuraikan di depan. Artinya, semua Prodi. Dakwah bertugas menghadirkan keberagamaan yang berkharakter: spiritual-profetik (kenabian), mengungguli paradigma modernitas dalam hal sain dan teknologi, dan bercorak liberatif (pembebasan), humanistik (manusiawi) dan inklusif-pluralistik (akur dengan perbedaan).
Dari paradigma keberagamaan di atas, maka selanjutnya dapat di break down kepada visi prodi-prodi yang ada di Jurusan Dakwah baik itu KPI, BKI, maupun PMI. KPI sebagai prodi yang mengambil bagian untuk mendidik mahasiswa menjadi insan cendekia yang memiliki keahlian dalam menyampaikan ajaran Islam baik dengan khitabah maupun melalui media massa kepada masyarakat, tidak boleh hanya menguasai atau berkemampuan untuk menggunakan perangkat teknologi modern yang berkaitan dengan media komunikasi massa, akan tetapi lebih dari itu, mereka adalah insan cendekia yang mengabdikan kemampuan dan ketrampilan yang dimilikinya untuk kepentingan penyiaran dan internalisasi Islam yang berparadigma spiritual-profetik, modern, liberatif, dan inklusif. Kemampuan dan ketrampilan yang tanpa kesadaran pemihakan terhadap paradigma tersebut, sangat mungkin menjadikan alumni-alumni Jurusaan Dakwah terkooptasi oleh idiologi sosial yang anti paradigma mereka sendiri. Jika ini yang terjadi, maka sama artinya dengan lembaga akademik yang menjadi “anak durhaka” terhadap paradigma induknya yang mestinya menjadi missi sucinya. Memang paradigma dan epistimologi keilmuan tidaklah bebas nilai. Ia mesti dibangun di atas nilai tertentu.
Demikian juga dengan Prodi. BKI maupun PMI. Prodi BKI sebagai prodi yang mengambil bagian untuk mendidik mahasiswa menjadi insan cendekia yang memiliki keahlian dalam menyampaikan ajaran Islam, serta memiliki keahlian membimbing dan memberikan konseling kepada masyarakat muslim. Perbedaan BKI dengan KPI, jika KPI melihat permasalahan ummat dari sudut pandang permasalahan publik, serta bersifat top-down, maka BKI dalam berdakwah melihat permasalahan dari sudut padang personal dan spesifik dan bersifat battom-up. Jika KPI untuk melaksanakan fungsi dan perannyaa sangat berhajat pada ilmu komunikasi, maka BKI sangat berhajat pada ilmu psikologi, karena dengan ilmu psikologi seorang penyuluh atau konselor (alumni BKI) dapat memahami permasalahan yang dialami klien, serta dapat memberikan solusi, nasehat dan saran secara tepat berdasarkan pada nilai-nilai dan ajaran Islam.
Sama dengan Prodi. KPI, Visi Prodi. BKI juga harus didasarkan kepada paradigma keberagamaan profetik, modern, liberatif, dan inklusif. Jika tidak demikian, maka out come atau alumni Prodi. BKI juga dikhawatirkan hanya menjadi ilmuwan tukang, yang tidak memihak kepada kepentingan dakwah Islamiah sejati. Demikian juga dengan Prodi. PMI, selain memiliki keahlian mentransformasikan ummat, serta melembagakan nilai-nilai Islam dalam masyarakat, juga dituntut untuk menjadi cendekiawan yang memihak pada nilai dan paradigma keberagaman profetik, modern, liberatif, dan inklusif. Intinya, visi jurusan dakwah haruslah mendasarkan dimensi pengetahuan dan ketrampilan (knoledge and skill) pada paradigma dakwah Islam sejati sebagaimana diuraikan di atas.
Perangkat Akademik yang Konsiten
Jika gagasan di atas masih berada pada dataran filosofis, maka tugas berikutnya merancang bangun perangkat akademik yang konsisten terhadaap visi ke-fakultasan. Perangkat akademik dimaksud meliputi perangkat kurikulum, silabus, rencana pembelajaran, para pengajar (dosen), perpustakaan, laboratorium, kegiatan-kegiatan penunjang akademis lainnya yang mendukung terwujudnya visi kefakultasan.
Di dalam kurikulum terdapat berbagai unsur mulai berbagai kompetensi yang akan dicapai, sampai indikator / kompetensi dasarnya harus disusun sedemikian rupa, dengan sangat memperhatikan aspek konsistensi terhadap paradigma keberagamaan yang dianut fakultas. Untuk selanjutnya disusunlah berbagai mata kuliah guna mencapai standar kompetensi tersebut. Pada tahap berikutnya mata kuliah diserahkan kepada para dosen. Dosen terlebih dahulu harus merancang SAP (Satuan Acara Perkuliahan) yang diturunkan dari silabi yang telah dibuat oleh team teaching berdasar pada kurikulum yang sudah tersedia. SAP tersebut selanjutnya menjadi acuan dosen untuk membuat buku daras, serta bahan-bahan perkuliahan yang lain.
Para pengajar/dosen menempati peran strategis dalam mengeksekusi paradigma keberagamaan yang selanjutnya mendasari bangunan epistimologis keilmuan dakwah. Mind-set seorang dosen yang mengajar di Jurusan Dakwah haruslah sejalan dengan visi kefakultasan di atas. Ditangan dosenlah bangunan konseptual keilmuan untuk terakhir kali diramu. Ditangan dosenlah proses finishing proyek rekayasa akademik di Fakultas Ushuludin dan Dakwah dilaksanakan. Demikian selanjutnya, semua perangkat akademik yang lain harus mendukung sistim yang sedang dibangun oleh Fakultas Ushuludin dan Dakwah.
Arah Pengembangan Bidang Akademik FUD
Semenjak dilantik sebagai Pembantu Dekan I fakultas Ushuludin dan Dakwah, yang tugas utamanya adalah mengkomandani pelaksanaan kegiatan akademik fakultas, langsung terlintas pertanyaan dalam benak saya bagaimana menciptakan suasana akademik yang memiliki visi. Pertanyaan yang lebih dahulu harus dijawaab adalah apa visi akademik fakultas? Rasanya otak langsung berputar membuka-buka memori masa lalu, sehingga sampai pada satu buku kecil karya Ali Syariati, seorang intelektual dan sosiolog Iran, sekaligus yang membidani lahirnya Republik Islam Iran.
Ali Syariati, membuat kategorisasi terhadap gelar “intelektual”. Pertama adalah kaum cerdik pandai yang memiliki khasanah ilmu pengetaahuan terbentang luas, tetapi ia mengambil posisi jauh dari masyarakat. Ilmu bagi kelompok ini terbatas untuk ilmu, tidak lebih dari itu. Intelektual dalam kategori ini tidak punya peran sosial bagi masyarakatnya. Ia bagaikan hidup dengan penuh kemewahan di atas menara gading. ilmu yang mestinya menyingkap cakrawala masa depan sama sekali tidak berdampak. Slogan mereka adalah Ilmu tidak memihak, ilmu bebas nilai.” Tidak jarang ilmuwan jenis ini “dibeli” oleh kelas elit masyaakat untuk memperkuat status quo mereka.
Sebaliknya adalah ilmuwan jenis kedua, yang oleh Shariati diberi istilah raushanfikr yakni kaum intelektual plus, yakni kaum cerdik pandai, yang dengan ilmunya ia berusaha mencerahkan masyarakatnya, membimbing dan mendampingi mereka untuk memiliki cita-cita hidup dan sekaligus berusaha untuk mewujudkannya.
Jika suatu PT bisa melakukan rekayasa intelektual akademiknya, mestinya pemikiran Ali Syariati seperti di atas dapat menjadi benang merah rekayasa intelektual. Hal ini penting karena seperti semua orang sudah tahu bahwa fungsi sosial suatu PT adalah sebagai agent social change. Peran dan fungsi agen perubahan sosial ini dapat terlaksana dengan cara memahami kontek linkungan sosial di mana PT itu berada. Adakah permasalahan yang di kancah sosial itu. Kemampuan memahami realitas sosial empiris itu akan membantu PT untuk menentukan arah kemana hendak berjalan PT itu didirikan. Keggalan dalam memahami realitas empiris masyarakat utamanya dengan permasalahannya akan membuat PT itu tidak mamapu merumuskan arah (rasion de etre) keberadaan dirinya. Akibat lanjutnya adalah kegagalan PT itu untuk merumuskan peran sejarahnya.
Belajar dari Eropa
Siapapun yang sedikit cermat mengamati perjalanan sejarah Eropa akan menyadari peran kaum intelektual di benua itu. Kaum intelektual mampu mencandra realitas empiris masyarakatnya pada abad pertengahan, yang berada dalam kegelapan hidup. Dengan intelktualitas yang mencerahkan mereka berhasil memahami betapa gelapnya masyarakat eropa saat itu, serta lebih jauh memahami latar belakang sosial, politik, religious, dan ekonomi, yaang kesemuanya ternyata mereka sadarari sebagai setali mata uang, yang saling kait mengkait menyebabkan hadirnya kebiadaban masyarakat Eropa.
Karena kontek dengan intelektualisme Islam sejak pada abad 11 para intelektual Eropa mengalami pencerahan, yang pada gilirannya nanti mereka juga menemukan secercah harapan sebagai alternatif jalan keluar dari abad kegelapan masyarakatnya.Dari arah tersebut kemudian mereka melakukan peran perubahan yang sangat signifikan dengan segala resiko dan konsekuensinya. Sebagai hasilnya begeraklah masyarakat Eropa setapak demi setapak untuk menuju zaman yang mereka katakan sebagai aufklarung (zaman pencerahan).
Paradigma moderniitas sebagai sebuah persoalan
Siapapun setuju bahwa peradaban modern sekarang ini telah menghadirkan kemudahan sekaligus kemajuan untuk kehidupan manusia. Tetapi pada saat yang sama semua orang juga tahu bahwa peradaban modern juga menghasilkan ekses negatif yang sangat mengerikan bagi kehidupan manusia. Bahkan ekses ini bersifat totalitas, artinya semua kemajuan dan kemudahan hidup jadi tidak kmemiliki apa-apa jika eksess negatif ini tidak segera disadari dan dicarikan alternatif jalan keluarnya.
Sebagaimana kita semua tahu, bahwa modernisme telah mengakibatkan terjadinya krisis multi dimensi yang komprehensip, mulai dari krisis spiritual, intelktual, sosial, hinggaa fisikal. Sebuah krisis terdahsyat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Menyikapi krisis akibat modernisme tersebut, orang-oranag eropa sendiri telah menyadarinya sehingga mereka melakukan auto kritik,-- seperti dilakukan oleh para tokoh Postmo-- sehingga melahirkan paradigma post-modernisme. Paradigma ini kemudian mengilhami munculnya madzhab-madzhab baru dalam dunia pemikiran. Yang intinya dari semua madzhab tersebut disatukan dalam titik yang sama yakni menjadikan modernisme untuk duduk dalam kursi tersangka yang patut berta nggung jawab atas krisis multi dimensi sekarang ini. Sekaligus masing –masing madzhab pemikiraan berfikir keras menemukan alternatif untuk solusi.
Beberapa hal yang patut kita garis bawahi dari sekelumit uraian di atas adalah :
1. Peran kaumintelektual dari kampus sebagai agent perubahan sosial bukkan hal baru untuk pence3rahan kehiduapn masyarakat nya.
2. Peran itu dimulai dari mmencaandra secara kritis atas keadaan di sekelilingnya untuk menemukan dan memahami persoalan, guna merumuskan peran strategis harus dimainkan.
3. Modernisme adalah biang permasalahan yang terjadi dewasa ini.
4. Arah rancang bangun intelektualisme kampus harus dirumuskan bertolak pada pemahaman atas akar masalah tersebut.
5. Bagamaiana dengan peran kampus IAIN SURAKARTA?????????? SEMUA HARUS MENJAWA TIDAK TERKECUALI PEDE SATU.
Ali Syariati, membuat kategorisasi terhadap gelar “intelektual”. Pertama adalah kaum cerdik pandai yang memiliki khasanah ilmu pengetaahuan terbentang luas, tetapi ia mengambil posisi jauh dari masyarakat. Ilmu bagi kelompok ini terbatas untuk ilmu, tidak lebih dari itu. Intelektual dalam kategori ini tidak punya peran sosial bagi masyarakatnya. Ia bagaikan hidup dengan penuh kemewahan di atas menara gading. ilmu yang mestinya menyingkap cakrawala masa depan sama sekali tidak berdampak. Slogan mereka adalah Ilmu tidak memihak, ilmu bebas nilai.” Tidak jarang ilmuwan jenis ini “dibeli” oleh kelas elit masyaakat untuk memperkuat status quo mereka.
Sebaliknya adalah ilmuwan jenis kedua, yang oleh Shariati diberi istilah raushanfikr yakni kaum intelektual plus, yakni kaum cerdik pandai, yang dengan ilmunya ia berusaha mencerahkan masyarakatnya, membimbing dan mendampingi mereka untuk memiliki cita-cita hidup dan sekaligus berusaha untuk mewujudkannya.
Jika suatu PT bisa melakukan rekayasa intelektual akademiknya, mestinya pemikiran Ali Syariati seperti di atas dapat menjadi benang merah rekayasa intelektual. Hal ini penting karena seperti semua orang sudah tahu bahwa fungsi sosial suatu PT adalah sebagai agent social change. Peran dan fungsi agen perubahan sosial ini dapat terlaksana dengan cara memahami kontek linkungan sosial di mana PT itu berada. Adakah permasalahan yang di kancah sosial itu. Kemampuan memahami realitas sosial empiris itu akan membantu PT untuk menentukan arah kemana hendak berjalan PT itu didirikan. Keggalan dalam memahami realitas empiris masyarakat utamanya dengan permasalahannya akan membuat PT itu tidak mamapu merumuskan arah (rasion de etre) keberadaan dirinya. Akibat lanjutnya adalah kegagalan PT itu untuk merumuskan peran sejarahnya.
Belajar dari Eropa
Siapapun yang sedikit cermat mengamati perjalanan sejarah Eropa akan menyadari peran kaum intelektual di benua itu. Kaum intelektual mampu mencandra realitas empiris masyarakatnya pada abad pertengahan, yang berada dalam kegelapan hidup. Dengan intelktualitas yang mencerahkan mereka berhasil memahami betapa gelapnya masyarakat eropa saat itu, serta lebih jauh memahami latar belakang sosial, politik, religious, dan ekonomi, yaang kesemuanya ternyata mereka sadarari sebagai setali mata uang, yang saling kait mengkait menyebabkan hadirnya kebiadaban masyarakat Eropa.
Karena kontek dengan intelektualisme Islam sejak pada abad 11 para intelektual Eropa mengalami pencerahan, yang pada gilirannya nanti mereka juga menemukan secercah harapan sebagai alternatif jalan keluar dari abad kegelapan masyarakatnya.Dari arah tersebut kemudian mereka melakukan peran perubahan yang sangat signifikan dengan segala resiko dan konsekuensinya. Sebagai hasilnya begeraklah masyarakat Eropa setapak demi setapak untuk menuju zaman yang mereka katakan sebagai aufklarung (zaman pencerahan).
Paradigma moderniitas sebagai sebuah persoalan
Siapapun setuju bahwa peradaban modern sekarang ini telah menghadirkan kemudahan sekaligus kemajuan untuk kehidupan manusia. Tetapi pada saat yang sama semua orang juga tahu bahwa peradaban modern juga menghasilkan ekses negatif yang sangat mengerikan bagi kehidupan manusia. Bahkan ekses ini bersifat totalitas, artinya semua kemajuan dan kemudahan hidup jadi tidak kmemiliki apa-apa jika eksess negatif ini tidak segera disadari dan dicarikan alternatif jalan keluarnya.
Sebagaimana kita semua tahu, bahwa modernisme telah mengakibatkan terjadinya krisis multi dimensi yang komprehensip, mulai dari krisis spiritual, intelktual, sosial, hinggaa fisikal. Sebuah krisis terdahsyat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Menyikapi krisis akibat modernisme tersebut, orang-oranag eropa sendiri telah menyadarinya sehingga mereka melakukan auto kritik,-- seperti dilakukan oleh para tokoh Postmo-- sehingga melahirkan paradigma post-modernisme. Paradigma ini kemudian mengilhami munculnya madzhab-madzhab baru dalam dunia pemikiran. Yang intinya dari semua madzhab tersebut disatukan dalam titik yang sama yakni menjadikan modernisme untuk duduk dalam kursi tersangka yang patut berta nggung jawab atas krisis multi dimensi sekarang ini. Sekaligus masing –masing madzhab pemikiraan berfikir keras menemukan alternatif untuk solusi.
Beberapa hal yang patut kita garis bawahi dari sekelumit uraian di atas adalah :
1. Peran kaumintelektual dari kampus sebagai agent perubahan sosial bukkan hal baru untuk pence3rahan kehiduapn masyarakat nya.
2. Peran itu dimulai dari mmencaandra secara kritis atas keadaan di sekelilingnya untuk menemukan dan memahami persoalan, guna merumuskan peran strategis harus dimainkan.
3. Modernisme adalah biang permasalahan yang terjadi dewasa ini.
4. Arah rancang bangun intelektualisme kampus harus dirumuskan bertolak pada pemahaman atas akar masalah tersebut.
5. Bagamaiana dengan peran kampus IAIN SURAKARTA?????????? SEMUA HARUS MENJAWA TIDAK TERKECUALI PEDE SATU.
Senin, 26 September 2011
BUKU BARU
Alhamdulillah telah terbit buku kami yang pertama dengan judul: MODEL DAKWAH SUFISTIK Pergulatan Pesantren Kalimatussa'diyah Surakarta Melawan Modernitas. Buku ini sebenarnya hasil penelitian penulis di pesantren tersebut. Namun karena permintaan dari berbagai pihak utamanya para mahasiswa, maka hasil penelitian tersebut akhirnya kami bukukan.
Penelitian tersebut sebenarnya bagian dari petualangan intelektual penulis yang hingga kini sedang "gelisah" menyaksikan betapa ngerinya modernisme memandu kehidupan manusia. Dalam panduan modernisme, bandul jam kehidupan sedang bergerak menuju ke titik ekstrim materialitik. Berawal dari itu, kahidupan manusia kehilangan identitas dan arah, hingga akhirnya secara pasti menuju krisis total, mulai dari krisi fisikal, sosial, hingga etika dan moral, seperti yang kita rasakan saat ini. Karena itu, pemikiran alternatif-kritis harus diberi ruang seluas-luasnya guna mengatasi permasalahan besar kehidupan tersebut.
Tasawuf, isoterisme Islam, telah terbukti dalam ruang dan waktu sejarah meluruskan arah kehidupan, tampaknya akan kembali menjadi solusi imperatif di tengah krisi yang melanda dunia kini. Pesanren Kalimatussa'diyah adalah diantara komunitas tasawuf yang bergulat melawan hegemoni modernisme. Karena itu buku "MODEL DAKWAH SUFISTIK Pergulatan Pesantren Kalimatussa'diyah Surakarta Melawan Modernitas" tidak hanya perlu dibaca para mahasiswa,--untuk mendapat contoh konkrit bagaimana penelitian kualitatif dilaksanakan-- tetapi juga semua elemen masyarakat yang peduli akan nasib kehidupan.
Penelitian tersebut sebenarnya bagian dari petualangan intelektual penulis yang hingga kini sedang "gelisah" menyaksikan betapa ngerinya modernisme memandu kehidupan manusia. Dalam panduan modernisme, bandul jam kehidupan sedang bergerak menuju ke titik ekstrim materialitik. Berawal dari itu, kahidupan manusia kehilangan identitas dan arah, hingga akhirnya secara pasti menuju krisis total, mulai dari krisi fisikal, sosial, hingga etika dan moral, seperti yang kita rasakan saat ini. Karena itu, pemikiran alternatif-kritis harus diberi ruang seluas-luasnya guna mengatasi permasalahan besar kehidupan tersebut.
Tasawuf, isoterisme Islam, telah terbukti dalam ruang dan waktu sejarah meluruskan arah kehidupan, tampaknya akan kembali menjadi solusi imperatif di tengah krisi yang melanda dunia kini. Pesanren Kalimatussa'diyah adalah diantara komunitas tasawuf yang bergulat melawan hegemoni modernisme. Karena itu buku "MODEL DAKWAH SUFISTIK Pergulatan Pesantren Kalimatussa'diyah Surakarta Melawan Modernitas" tidak hanya perlu dibaca para mahasiswa,--untuk mendapat contoh konkrit bagaimana penelitian kualitatif dilaksanakan-- tetapi juga semua elemen masyarakat yang peduli akan nasib kehidupan.
Rabu, 20 Oktober 2010
ILMU FILSAFAT DAN AGAMA :
Sebuah pendahuluan
Bagi manusia indera adalah alat untuk mengetahui diri dan lingkungan alamnya. Hasil dari kerja mengetahui ini disebut pengetahuan. Kegiatan mengetahui dengan indera meliputi warna dengan mata, bentuk dengan meraba, suara dengan telinga, rasa dengan lidah, dan bau dengan hidung. Sesuai dengan kemampuannya, indera hanya dapat menangkap atau mencandra sisi paling luar dari suatu fenomena. Seperti terhadap daun yang berwarna hijau, mata hanya menangkap seberapa luas permukaan daun itu, warna, hingga keadaan permukaannya. Mata tidak tahu apa fungsi dari warna hijau bagi tumbuhan itu. Apa saaja isi atau kandungan biologisnya. Indera hanya bisa merasakan dingin atau panasnya cuaca, tanpa mau tahu apa hubungannya dengan awan yang bergelantungan. Mata hanya dapat melihaat kilatan cahaya petir di tengah gelapnya malam ketika hendak turun hujan tanap mengetahui apa sebab dan akibatnya. Indera hanya melihat turunnya air dari langit, yang diawali dengan adanya awan, dan sebelumnya panasnya suhu udara, dan sebelumnya uap air lautan yang terkena sinar panas matahari. Indera tidak dapat memahami apa lagi menemukan hubungan antar fakta air turun, awan, suhu udara panas, uap air, cahaya dan samudra luas tersebut.
Hubungan antar fakta satu dengan fakta lain baru dapat dipahami ketika manusia menggunakan akal pikirannya. Pikiran manusia mampu memahami apa yang terkandung dalam fakta, serta bagaimana hubungan antar fakta tersebut. Akal pikiran dapat memecahkan satu fakta berdasar unsur-unsurnya. Seperti misalnya hijau daun yang kemudian ia disebut clorofil. Apa itu clorofil? Ternyata ia adalah zat yang berguna untuk merubah unsur hara tanah yang dikirim oleh akar untuk dijadikan zat lain yang berguna bagi pertumbuhan suatu tumbuhan. Akal dapat memahami air hujan, yang tidak lain adalah unsur dari awan yang semula adalah uap air dari samudra. Akal dapa memahami mengapa uap air kemudian berkumpul menjadi awan, yang kemudian dalam keadaan tertentu air itu harus jtuh dalam bentuk titik-titik air hujan. Hubungan antar fakta dalam suatu fenomena secara sistimatis itulah yang kemudian disebut ilmu pengetahuan.
Bagi seorang dokter yang nota bene memiliki ilmu kesehatan manusia, dapat menangkap dan memahami hubungan antar gejala yang dialami seorang pasiennya. Seperti hubungan antara perut yang sakit dengan muntah-muntah, dan panas badannya. Guna memperjelas diagnosanya dokter perlu informasi latar belakang sebelum seorang pasien muntah dan sakit perut. Dan setelah mendiagnosa berdasar banyak fakta tersebut ia akan dapat memberikan obat yang tepat terhadap pasien tersebut. Hubungan antar fakta itulah bagian dari ilmu kesehatan atau ilmu kedokteran. Memahami satu fakta dengan memecah dan menghubungkannya kembali, kemudian membuat kesimpulan itulah pekerjaan akal pikiran, yang kemudian disebut dengan berpikir. Berpikir dengan menggunakan suatu metode secara konsisten, dibantu dengan alat yang sangat teliti akan sampai kepada kesimpulan yang falid. Jika metode itu metode ilmiah maka hasinya adalah ilmu pengetahuan, atau yang popular dengan sain.
Akal-pikiran menjadikan manusia hidup lebih mudah dan juga lebih maju serta sejahtera. Karena dengan ilmu pengethaun yang ditemukannya, manusia dapat lebih memanfaatkan sumber daya baik alam maupun manusia secara lebih efisien. Namun sayang bukan kemajuan dan kesejahteraan saja yang didapat oleh manusia dengan ilmu-pengetahuannya tersebut, tetapi juga mala petaka yang tidak kalah mengkawatirkan kehidupan. Misalnya adlah adanya krisis energy yang mengancam, krisis lingkungan alam yang terkenal dengan global warming (pemanasan global). Dan yang tidak kalh dahsyatnya adalah krisis social dan moral manusia itu sendiri. Siapa dan apa yang salah?
Kembali kita pada pengetahuan manusia. Ternyata pengetahuan manusia tidak terhenti pada pengetahuan dan ilmu-pengetahuan saja. Terhadap fenomena hujan misalnya, mausia masih bertanya. Mengapa hujan selalu terjadi dengan siklus yang konsisten mulai dari cahaya yang mengenai samudra, awan, dan hujan. Mengapa fakta-fakta tersebut begitu rapi dan konsisten? Adakah hokum yang mengatur. Jika ada apa hokum yang mengatur itu? Mungkinkah aturan itu ganda atau tunggal. Apakah aturan itu bersifat tetap dan mencakup semua yang ada di alam raya ini? Siapa yang menciptakan hokum alam itu? Mungkinkah Sang Pencipta itu bodoh atau sangat pandai luar biasa, sehingga dapat membuat hokum yang ditaai baik karena suka rela maupun terpaksa oleh seluruh alam? Mungkinkah Sang Pencipta itu tunggal atau banyak? Apakah alam ini diciptakan dengan tujuan atau penciptaan iseng, kebetulan, tanpa tujuan? Ratusan pertanyaan yang nota bene di balik kenyataan empiris masih dapat dibuat oleh manusia yang memang punya watak ingin tahu itu. Dan jawaban itu tidak lagi diruang ilmu-pengetahuan, melainkan di luar dan di balik ilmu pengtetahuan yang faktawi itu. Pengetahuan jenis inilah yang disebut dengan filsafat.
Pengetahuan filsafati adalah pengetahuan manusia yang murni hasil dari pemberdayaan akal-pikirannya. Ia tidak berada di ruang fakta dan fenomena. Ia berusaha membuat pertanyaan dan menjawabnya untuk hal-hal yang berada di balik fakta dan fenomena. Jawaban atas pertanyaan-pertanyayan filsafat itu misalnya adalah hokum alam yang membuat fakta-fakta siklus hujan berjalan konsisten. Sang penciptalah yang menciptakan hokum alam tersebut. Ia ada dengan tidak diciptakan. Karena kalau ia diciptakan maka ia tak lebih adalah makluq. Ia harus ada dan “bekerja” tidak terbatas dengan hokum alam, karena hokum alam saja ia yang menciptakannya. Ia ada sebelum hokum alam ada. Ia bebas sebebas-bebasnya, tidak ada apapun yang mengikatnya. Tentu ia maha pintar. Dan jawaban-jawaban seterusnya….. adalah jawaban akal pikiran terhadap pertanyaan-pertanyaan filsafati di atas. Memang jawaban itu tidak ada yang menjamin kebenarannya secara mutlak. Kebenaran yang dihasilkannya bersifat relative. Kemungkinan besar benar. Kebenaranya tidak terbatas untuk sebagian manusia. Semua manusia mengakuinya sekalipun bukan kebenaran mutlak. Kebenaran relative itu karena ia hasil pikiran manusia yang terbatas kemampuannya.
Sang Maha Pencipta itulah Allah SWT. Sebagai sang pencipta ia memiliki kharakter yang tidak terbatas yang disebut al asma’ul husna. Ar Raman, ar rahim, al Malik, al Qudus, al salam …….al shabr adalah sifat dan nama-nama Nya yang mulia. Dunia ini diciptakan dari air dalam enam masa. Kehidupan dunia ini sangat sementara dibanding dengan kehidupan pasca dunia (akherat). Kehidupan akherat itu ada dua macam yakni surga dan neraka. Sebelum itu ada yang disebut alam barzakh (kubur). Dan seterusnya inilah yang disebut ajaran agama.
Jika filsafat adalah murni pemberdayaan akal-pikiran manusia, maka agama adalah ajaran yang berasal dari tuhan. Sebagai ajaran yang berasal dari Tuhan maka kebenrannya bersifat mutlaq. Ia diberikan oleh Tuhan yang kerjanaya tidak dapat dibatasi oleh akal, tetapi agama juga diperuntukkan pada amanusia yang berakal. Oleh kerena itu agama tidak semuanaya masuk akal ajarannya. Ada yang rasional dan ada yang di atas rasio (metha rasional). Shalat subuh misalnya mengapa harus dua rakaat. Kan ia dilakukan pada saat pagi rsionalnya mesti lebih banyak dari shalat siang. Tetapi mengapa ia hanya dua rakaat? Mengapa gerakan shalat seperti itu, memakai takbir, rukuk dan sujud? Mengapa tidak menggunakan jalan di tempat, atau seperti gerakan yoga? Mengapa wudlu dari hadats karena buang angin, tetap saja harus menyiram anggota wudlu biasa –bukan tempat keluarnyaa angin? Itulah diantara contoh bahwa tidak semua ajaran agama itu rasional.
Ajaran agama memang tidak hanya dapat dipahami dengan akan. Jauh sebelum akal memehaminhya, hati manusia sudah harus meyakininnya. Keyakinan itulah yang disebut dengan iman. Yang sangat menentukan keberagamaan memang bukan akal manusia tetapi hati. Akal, dan indera hanya pembuat penjelasannya dan juga penguatnya, tetapi yang pokok adalah hatinya. Hati lah yang menentukan baik-buruknya manusia dengan agamanya itu. Bukan akalnya, bukan inderanya. Kebenaran agama adalah kebenaran yang bersifat mutlak, karena ia diciptakan oleh Dzat Yang Mutlak. Berhadapan dengan kebenaran agama inilah manusia harus bersifat pasrah, sami’na wa atha’na (kami dengar dan kami taat). Tuhan yang Maha Meengetahui, lebih tahu untuk berbuat bagaimana, dan apa saja, dalam rangka mengatur alam semesta ini, termasuk manusia. Sedang kita serba terbatas, samai hal-hal yang terdekat dengan kita saja kita tidak mengetahui. Contohnya, kita tidak tahu persis berpa ukuran air mata kita, apa saja komposisinya, berapa kali mata kita berkedip, apa saja bagian mata kita sehingga kita dapat melihat. Baru-baru ini saja setelah ada kemajuan iptek menusia mulai mengetahui itu semua. Sedang Tuhan sudah mengetahui persis jauh sebelum itu semua diciptakan.
Bagian yang mana dari agama yang bersifat mutlak? Bagian agama yang berasal dari Tuhan lah yang mutlak. Dalam islam, bagian itu yakni teks al Qur’an dan al Sunah Shahehah. Keduanya baik itu materi maupun proses penulisan dan penyeleksian dalam sejarah diakui sangat ketat dan dapat dipertanggung jawakannya. Jika al Qur’an jelas asalnya dari Allah, tetapi bagaimana dengan al Sunah? Al Sunah shahehah adalah perkataan, perbuatan dan ketetapan Nabi Muhammad SAW. Sedang apapun yang dikatakan, dilakukan, dan ditetapkan Nabi, tidaklah dari diiri beliau sendiri, tetapi semata-mata karena Allah SWT (in huwa illa wahyu yuha). Keduanya sejajar dalam arti jika al Qur’an hanya meminta kita melakukan sesuatu, tanpa menjelaskan bagaimana sesuatu itu harus dilakukan, maka al Sunah mengajarkan bagaimana sesuatu iatu harus dilakukan. Seperti sholat. Al Qur’an hanya menyuruh manusia untuk menegakkan shalat. Sedang Nabilah yang member contoh pelaksanaan shalat. Demikian juga dengan hal-hal lin terutama beribadah langsung kepada Allah (ibadah mahdhah).
Ilmu pengetahuan dan filsafat serta agama berada dalam gradasi yang berbeda. Pengetahuan biasa berada dalam gradasi terendah, kemudian disusul oleh ilmu pengetahuan, kemudian filsafat dan yang paling tinggi adalah agama. Agama terutama Islam, tidak mempertentangkan antara ilmu pengetahun, filsafat dan agama. Sekalipun ada wilayah agama yang belum terjangkau oleh akal. Tetapi islam mendorong umatnya u ntuk menggunakan akalnya dalam menjalani hidup bahkan juga dalam memahami agamanya.
Allahu a’lam.
Bagi manusia indera adalah alat untuk mengetahui diri dan lingkungan alamnya. Hasil dari kerja mengetahui ini disebut pengetahuan. Kegiatan mengetahui dengan indera meliputi warna dengan mata, bentuk dengan meraba, suara dengan telinga, rasa dengan lidah, dan bau dengan hidung. Sesuai dengan kemampuannya, indera hanya dapat menangkap atau mencandra sisi paling luar dari suatu fenomena. Seperti terhadap daun yang berwarna hijau, mata hanya menangkap seberapa luas permukaan daun itu, warna, hingga keadaan permukaannya. Mata tidak tahu apa fungsi dari warna hijau bagi tumbuhan itu. Apa saaja isi atau kandungan biologisnya. Indera hanya bisa merasakan dingin atau panasnya cuaca, tanpa mau tahu apa hubungannya dengan awan yang bergelantungan. Mata hanya dapat melihaat kilatan cahaya petir di tengah gelapnya malam ketika hendak turun hujan tanap mengetahui apa sebab dan akibatnya. Indera hanya melihat turunnya air dari langit, yang diawali dengan adanya awan, dan sebelumnya panasnya suhu udara, dan sebelumnya uap air lautan yang terkena sinar panas matahari. Indera tidak dapat memahami apa lagi menemukan hubungan antar fakta air turun, awan, suhu udara panas, uap air, cahaya dan samudra luas tersebut.
Hubungan antar fakta satu dengan fakta lain baru dapat dipahami ketika manusia menggunakan akal pikirannya. Pikiran manusia mampu memahami apa yang terkandung dalam fakta, serta bagaimana hubungan antar fakta tersebut. Akal pikiran dapat memecahkan satu fakta berdasar unsur-unsurnya. Seperti misalnya hijau daun yang kemudian ia disebut clorofil. Apa itu clorofil? Ternyata ia adalah zat yang berguna untuk merubah unsur hara tanah yang dikirim oleh akar untuk dijadikan zat lain yang berguna bagi pertumbuhan suatu tumbuhan. Akal dapat memahami air hujan, yang tidak lain adalah unsur dari awan yang semula adalah uap air dari samudra. Akal dapa memahami mengapa uap air kemudian berkumpul menjadi awan, yang kemudian dalam keadaan tertentu air itu harus jtuh dalam bentuk titik-titik air hujan. Hubungan antar fakta dalam suatu fenomena secara sistimatis itulah yang kemudian disebut ilmu pengetahuan.
Bagi seorang dokter yang nota bene memiliki ilmu kesehatan manusia, dapat menangkap dan memahami hubungan antar gejala yang dialami seorang pasiennya. Seperti hubungan antara perut yang sakit dengan muntah-muntah, dan panas badannya. Guna memperjelas diagnosanya dokter perlu informasi latar belakang sebelum seorang pasien muntah dan sakit perut. Dan setelah mendiagnosa berdasar banyak fakta tersebut ia akan dapat memberikan obat yang tepat terhadap pasien tersebut. Hubungan antar fakta itulah bagian dari ilmu kesehatan atau ilmu kedokteran. Memahami satu fakta dengan memecah dan menghubungkannya kembali, kemudian membuat kesimpulan itulah pekerjaan akal pikiran, yang kemudian disebut dengan berpikir. Berpikir dengan menggunakan suatu metode secara konsisten, dibantu dengan alat yang sangat teliti akan sampai kepada kesimpulan yang falid. Jika metode itu metode ilmiah maka hasinya adalah ilmu pengetahuan, atau yang popular dengan sain.
Akal-pikiran menjadikan manusia hidup lebih mudah dan juga lebih maju serta sejahtera. Karena dengan ilmu pengethaun yang ditemukannya, manusia dapat lebih memanfaatkan sumber daya baik alam maupun manusia secara lebih efisien. Namun sayang bukan kemajuan dan kesejahteraan saja yang didapat oleh manusia dengan ilmu-pengetahuannya tersebut, tetapi juga mala petaka yang tidak kalah mengkawatirkan kehidupan. Misalnya adlah adanya krisis energy yang mengancam, krisis lingkungan alam yang terkenal dengan global warming (pemanasan global). Dan yang tidak kalh dahsyatnya adalah krisis social dan moral manusia itu sendiri. Siapa dan apa yang salah?
Kembali kita pada pengetahuan manusia. Ternyata pengetahuan manusia tidak terhenti pada pengetahuan dan ilmu-pengetahuan saja. Terhadap fenomena hujan misalnya, mausia masih bertanya. Mengapa hujan selalu terjadi dengan siklus yang konsisten mulai dari cahaya yang mengenai samudra, awan, dan hujan. Mengapa fakta-fakta tersebut begitu rapi dan konsisten? Adakah hokum yang mengatur. Jika ada apa hokum yang mengatur itu? Mungkinkah aturan itu ganda atau tunggal. Apakah aturan itu bersifat tetap dan mencakup semua yang ada di alam raya ini? Siapa yang menciptakan hokum alam itu? Mungkinkah Sang Pencipta itu bodoh atau sangat pandai luar biasa, sehingga dapat membuat hokum yang ditaai baik karena suka rela maupun terpaksa oleh seluruh alam? Mungkinkah Sang Pencipta itu tunggal atau banyak? Apakah alam ini diciptakan dengan tujuan atau penciptaan iseng, kebetulan, tanpa tujuan? Ratusan pertanyaan yang nota bene di balik kenyataan empiris masih dapat dibuat oleh manusia yang memang punya watak ingin tahu itu. Dan jawaban itu tidak lagi diruang ilmu-pengetahuan, melainkan di luar dan di balik ilmu pengtetahuan yang faktawi itu. Pengetahuan jenis inilah yang disebut dengan filsafat.
Pengetahuan filsafati adalah pengetahuan manusia yang murni hasil dari pemberdayaan akal-pikirannya. Ia tidak berada di ruang fakta dan fenomena. Ia berusaha membuat pertanyaan dan menjawabnya untuk hal-hal yang berada di balik fakta dan fenomena. Jawaban atas pertanyaan-pertanyayan filsafat itu misalnya adalah hokum alam yang membuat fakta-fakta siklus hujan berjalan konsisten. Sang penciptalah yang menciptakan hokum alam tersebut. Ia ada dengan tidak diciptakan. Karena kalau ia diciptakan maka ia tak lebih adalah makluq. Ia harus ada dan “bekerja” tidak terbatas dengan hokum alam, karena hokum alam saja ia yang menciptakannya. Ia ada sebelum hokum alam ada. Ia bebas sebebas-bebasnya, tidak ada apapun yang mengikatnya. Tentu ia maha pintar. Dan jawaban-jawaban seterusnya….. adalah jawaban akal pikiran terhadap pertanyaan-pertanyaan filsafati di atas. Memang jawaban itu tidak ada yang menjamin kebenarannya secara mutlak. Kebenaran yang dihasilkannya bersifat relative. Kemungkinan besar benar. Kebenaranya tidak terbatas untuk sebagian manusia. Semua manusia mengakuinya sekalipun bukan kebenaran mutlak. Kebenaran relative itu karena ia hasil pikiran manusia yang terbatas kemampuannya.
Sang Maha Pencipta itulah Allah SWT. Sebagai sang pencipta ia memiliki kharakter yang tidak terbatas yang disebut al asma’ul husna. Ar Raman, ar rahim, al Malik, al Qudus, al salam …….al shabr adalah sifat dan nama-nama Nya yang mulia. Dunia ini diciptakan dari air dalam enam masa. Kehidupan dunia ini sangat sementara dibanding dengan kehidupan pasca dunia (akherat). Kehidupan akherat itu ada dua macam yakni surga dan neraka. Sebelum itu ada yang disebut alam barzakh (kubur). Dan seterusnya inilah yang disebut ajaran agama.
Jika filsafat adalah murni pemberdayaan akal-pikiran manusia, maka agama adalah ajaran yang berasal dari tuhan. Sebagai ajaran yang berasal dari Tuhan maka kebenrannya bersifat mutlaq. Ia diberikan oleh Tuhan yang kerjanaya tidak dapat dibatasi oleh akal, tetapi agama juga diperuntukkan pada amanusia yang berakal. Oleh kerena itu agama tidak semuanaya masuk akal ajarannya. Ada yang rasional dan ada yang di atas rasio (metha rasional). Shalat subuh misalnya mengapa harus dua rakaat. Kan ia dilakukan pada saat pagi rsionalnya mesti lebih banyak dari shalat siang. Tetapi mengapa ia hanya dua rakaat? Mengapa gerakan shalat seperti itu, memakai takbir, rukuk dan sujud? Mengapa tidak menggunakan jalan di tempat, atau seperti gerakan yoga? Mengapa wudlu dari hadats karena buang angin, tetap saja harus menyiram anggota wudlu biasa –bukan tempat keluarnyaa angin? Itulah diantara contoh bahwa tidak semua ajaran agama itu rasional.
Ajaran agama memang tidak hanya dapat dipahami dengan akan. Jauh sebelum akal memehaminhya, hati manusia sudah harus meyakininnya. Keyakinan itulah yang disebut dengan iman. Yang sangat menentukan keberagamaan memang bukan akal manusia tetapi hati. Akal, dan indera hanya pembuat penjelasannya dan juga penguatnya, tetapi yang pokok adalah hatinya. Hati lah yang menentukan baik-buruknya manusia dengan agamanya itu. Bukan akalnya, bukan inderanya. Kebenaran agama adalah kebenaran yang bersifat mutlak, karena ia diciptakan oleh Dzat Yang Mutlak. Berhadapan dengan kebenaran agama inilah manusia harus bersifat pasrah, sami’na wa atha’na (kami dengar dan kami taat). Tuhan yang Maha Meengetahui, lebih tahu untuk berbuat bagaimana, dan apa saja, dalam rangka mengatur alam semesta ini, termasuk manusia. Sedang kita serba terbatas, samai hal-hal yang terdekat dengan kita saja kita tidak mengetahui. Contohnya, kita tidak tahu persis berpa ukuran air mata kita, apa saja komposisinya, berapa kali mata kita berkedip, apa saja bagian mata kita sehingga kita dapat melihat. Baru-baru ini saja setelah ada kemajuan iptek menusia mulai mengetahui itu semua. Sedang Tuhan sudah mengetahui persis jauh sebelum itu semua diciptakan.
Bagian yang mana dari agama yang bersifat mutlak? Bagian agama yang berasal dari Tuhan lah yang mutlak. Dalam islam, bagian itu yakni teks al Qur’an dan al Sunah Shahehah. Keduanya baik itu materi maupun proses penulisan dan penyeleksian dalam sejarah diakui sangat ketat dan dapat dipertanggung jawakannya. Jika al Qur’an jelas asalnya dari Allah, tetapi bagaimana dengan al Sunah? Al Sunah shahehah adalah perkataan, perbuatan dan ketetapan Nabi Muhammad SAW. Sedang apapun yang dikatakan, dilakukan, dan ditetapkan Nabi, tidaklah dari diiri beliau sendiri, tetapi semata-mata karena Allah SWT (in huwa illa wahyu yuha). Keduanya sejajar dalam arti jika al Qur’an hanya meminta kita melakukan sesuatu, tanpa menjelaskan bagaimana sesuatu itu harus dilakukan, maka al Sunah mengajarkan bagaimana sesuatu iatu harus dilakukan. Seperti sholat. Al Qur’an hanya menyuruh manusia untuk menegakkan shalat. Sedang Nabilah yang member contoh pelaksanaan shalat. Demikian juga dengan hal-hal lin terutama beribadah langsung kepada Allah (ibadah mahdhah).
Ilmu pengetahuan dan filsafat serta agama berada dalam gradasi yang berbeda. Pengetahuan biasa berada dalam gradasi terendah, kemudian disusul oleh ilmu pengetahuan, kemudian filsafat dan yang paling tinggi adalah agama. Agama terutama Islam, tidak mempertentangkan antara ilmu pengetahun, filsafat dan agama. Sekalipun ada wilayah agama yang belum terjangkau oleh akal. Tetapi islam mendorong umatnya u ntuk menggunakan akalnya dalam menjalani hidup bahkan juga dalam memahami agamanya.
Allahu a’lam.
ISLAM : TUHAN, MANUSIA, DAN ALAM
Islam adalah agama yang sempurna. Ajarannya meliputi seluruh kehidupan manusia tanpa terkecuali, dari bangun tidur manusia hingga tidur kembali di atur oleh Islam. Tidak salah jika ada yang mengatakan bahwa Islam adalah agama sekaligus peradaban. Di mana ada komunitas muslim di situ akan terekspresi kehidupan yang khas dengan budaya dan peradaban. mengapa demikian? dari mana seorang muslim mendapatkan legitimasi dalam berislam sehingga mengekspresikan kehidupan yang khas tersebut? Untuk menjawab dua pertanyaan tersebut kita perlu mengawali pembahasan mengenai al Qur’an.
Al Qur’an sebagai mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW
Hampir semua ulama berpendapat bahwa al Qyr’an merupakan mukjizat terbesar Nabai SAW. Di mana kemukjizatan itu dapat dibuktikan. Sementara adaa yang menjawab kemukjizatan al Qur’an terletak dalam sastranya. Terhadap jawaban ini, pantaslah kita ajukan pertanyaan, jika benar kemukjizatan alQur’an terletak pada nilai sastranya, bisa diajukan pertanyaan seberapa urgen kesusasteraan dalam kehidupan, sehingga Allah meletakkan kehebatan al Qur’an dalam hal sastra? Pada hal kehidupan akan tetap tidak terganggu tanpa sastra. Ada juga yang mengajukan jawaban kemukjizatan alQur’an pada keterjagaannya. Memeang al Qur’an merupakan peninggalan sejarah yang sangat terjaga otensitasnya, namun apakah di dalam otensitasnya itu kehebatan al Qur’an. Bukankah otensitas hanya merupakan efek dari kehebatan al Qur’an yang lain. Missal al Qur’an tidak berguna, mungkin akan lebih mudah hilang atau rusak. Lalu dalam hal apa kemukjizatan al Qur’an?
Ada sebagian ulama –Ibnu Taimiyah-- yang berpendapat bahwa kemukjizatan al Qur’an terletak pada kemampuan al Qur’an membentuk dan membangngun suatu pandangan dunia yang khas. Pandangan dunia (wordl view) adalah cara pandang terhadap kehidupan yang kemudian melahirkan prilaku baik pada individu maupun komunitas. Orang menyebut pandangan dunia juga dengan idiologi, yakni idea dan logos –doktrin –keyakinan terhadap ide-ide dasar tentang kehidupan yang diyakni kebenarannya untuk kemudian membentuk cara pandang tentang kehidupan masa depan, masa kini dan masa lalu, berikut methode, strategi pencapaian masa depan tersebut. Bagaimana al Qur’an membangun idiologi?
Fazlurrahman membantu kita untuk memahami alQur’an sebagai suatu sistim ajaran yang lengkap (komprehenship). Dalam bukunya The Major Themes Of Qur’an yang diterjemahkan menjadi Thema Pokok Al Qur’an, ia menjelaskan kehebatan alQur’an terletak pada tujuan diturunkannya kitab suci tersebut yakni untuk membentuk masyarakat yang etis dan egalitarian. Hal mana tanpak pada kritik Qur’an pada disekulibrium ekonomi masyaarakat Arab saat itu. Dengan kata lain alQur’an adalah kitab petunujk bagi manusia untuk merealisasikan masyarakat ideal. Hal tersebut menurut Rahman terbukti dari pembahasan al Qur’an pada beberap thema pokok kehidupan manusia, mulai dari pembahasan akan Tuhan, manusia, alam, Nabi-rasul, Syaithan, dan hari akhir.
Mengapa thema-tehma tersebut disebut thema pokok? Ya, karena kehidupan dengan segala kompleksitasnya sebenarnya termasuk dalam kerangka interaksi antar thema tersebut. Yakni manusia dengan Tuhannya, manusia dengan sesamanya dan manusia dengan alam, hingga keadaan hidupnya di akherat.
Pertanyaan lainnya adalah, mengapa al Qur’a sebagai kitab petunjuk bagi manusia, tidak member petnjuk praktis bagi manusia untk melakukan ini dan tidak melakukan itu (hal-hal teknis dalam hisup)? Ya. Inilah kehebatan al Qur’an.
Dengan menjelaskan berbagai hal mendasar dan pokok dalam kehidupan itu, al Quran mampu membejadi petunjuk bagi manusia sepanjang masa. Karena kehidupan manusiaa secara universal sebenarnya tidak keluar dari interaksi antar Tuhan, manusia dan alam tersebut. Kecuali itu, jika al Qur’an menjelaskan hal-hal teknis dalam hidup, maka bukan kitab suci namanya tetapi kitab petunjuk dan teknis (juknis) kehidupan. Jika iitu yang dilakukan maka ada masanya al Qur’an menjadi kurang relevan dengan persoalan nyata, dan kehilangan universalitasnya.
Al Qur’an : Tuhan
Mengapa tuhan begitu penting untuk dijelaskan dalam alQur’an. Atau dengan pertanyaan lain, mengapa Tuhan merasa penting untuk menjelaskan dirinya pada menusia? Ya, penjelasan itu begitu penting, karena di dalam sejarahnya manusia tidak pernah bisa secara pasti memahami siapa Tuhan dalam hidup ini. Bagaimanapun hebatnya manusia menggunakan pikirannya untuk mendapatakan kepastian siapa sebenarnya tuhan pasti akan gagal. Pikiran manusia bersifat relative. Sehingga hasil pemikirannya baik itu berupa ilmu pengetahuan maupun filsafat akhirnya juga relative. Mungkinkah kehidupan didasarkan pada kebenaran yang bersifat relative?
Demikian juga tentang Tuhan, semua aspek kehidupan alam semesta ini bergantung terhapak persepsi tentang tuhan. Orang Jawa misalnya memiliki persepsi tentang Tuhan seperti dalang sedangkan manusia dan alam seperti wayang. Dalang adalah pemilik mutlak atas wayang serta perannya dalam sebuah lakon. Sebaliknya wayang tidak berdaya sedikiitpun terhadap dirinya sendiri. Dari persepsi yang demikian lahirlah watak manusia Jawa yang fatalistic, pasif, dan serba menyerah. Jika kebetulan ia benar, baik, dan beruntung, itu karena kehendak Yang Mnaha kuasa yakni Dalang. Sebaliknya jika mereka salah, buruk dan rugi juga karena dalang, yang harus dibawakan dengan sikap nrimo ing pandum. Agama yang fatalistic inilah agama yang dipersepsikan sebagai candu pembuat mabuk oleh Karl mark dalam idiologi komunismenya.
Pada sejarah hidup kemanusiaan, pencarian manusia akan siapa Tuhan sudah lama dilakukan dengan pikirannya. Namun ujung dari pencaqrian itu dapat kita saksikan jauh dari kenyataan akan Tuhan itu sendiri. Manusia primitive menemukan Tuhan sebagai kayu besar, batu besar, dan berhala yang mereka ciptakan sendiri. Semua itu mereka yakini memiliki roh yang berkemampuan di atas kemampuan manusia. Hubungan antara Tuhan dengan manusia adalah hubungan yang bersifat tidak rasional bahkan takhayul dan khurafat. Semua misteri ketidakmampuan manusia adalah wilayah kerja Tuhan. Semua yang selain itu adalah wilayah kehidupan manusia bukan wilayah Tuhan. Ketika misteri itu tidak ada maka sudah tidak ada lagi wilayah Tuhan.
Para filosof, berusaha menemukan Tuhan dengan pikirannya. Di ujung pemikirannya akhirnya mereka mengenal Tuhan walaupun juga jauh dari realitas Tuhan itu sendiri. Capaian tertinggi kaum filosof tentang Tuhan menye butkan bahwa tuhan sebagai prima causa (pencipta pertama). Akal juga dapat sampai pada pemahaman bahwa prima causa mestilah tunggal, bebas dari hokum alam, unik, dan lebih dari yang lain.
Filosof Barat, Rene Descartes berkesimpulan bahwa Tuhan telah mati (The god is deat). Kaitannya dengan alam menurut Descart, tuhan memang benar telah menciptakan alam dengan segal hukumnya, namun kemudian alam dibiarkannya kerja sendiri, sebagaimana jam yang telah diciptakan kemudian ditinggalkan oleh penciptanya, sementara jam itu bekerja dengan hukumnya. Pemahaman akan tuhan tersebut tentu tidak keluar dari idiologi Materialisme Barat. –keyakinan bahwa ala mini pusatnya benda, manusia dan tuhan adalah subordinan dari benda tersebut.
Atas dasar persepsi tentang tuhan yang demikian maka Barat telah lama (sejak kebangkitannya abad 16) telah kehilangan realitas diluar dunia yang materialistic. Barat telah lama kehilangan realitas metafisika; Tuhan, akherat, dan aspek bathiniah manusia. Dengan ini Barat kehilangan landasan akar segala nilai. Benar, salah, baik-buruk, untung rugi dipahami sebagai fungsi dari benda belaka. Inilah akar masalah dari peradaban Barat.
Melihat kebunutan manusia dalam mencari tuhannya itulah, maka Tuhan dengan maha pemurahnya kemudian mengutus para Nabi dan Rasul untuk menyampaikan risalahnya kepada umat manusia. Inti dari semua risalah tersebut yaitu monotheisme. Suatu keyakinan bahwa tuhan itu satu, tiada bersekutu dengan apapun. Jika filsafat hanya dapat meraba dalam ketidak pastian tentang siapa tuhan, maka agama melalui teks-teksnya secara tegas, serta rinci, kemudian menjelaskan siapa Tuhan yang sebenar-benarnya.
Al Qur’an hadir dengan penuh ketegasan menjelaskan tentang siapa Tuhan. Dialah Allah, tiada tuhan kecuali dia.Tidak beranak, serta tidak diperanakkan. Tempat bergantung segala sesuatu. Dia Yang maha Pengasih, Maha penyayang, Maha adil, Maha mengetahuia yang ghaib dan yang nyata,Yang awal, Yang Akhir, yang lahir, Yang bathin, Maha pintar, Maha Pemberi Rizki, Maha Pencipta, Maha emberi bentuk, Maha pengampun, Maha Penerima Taubat, Maha Kuasa atas segala sesuatu, Maha Merajai, Maha Suci, maha menyelamatkan, … dan seterusnya.
Dari persepsi tentang Tuhan yang demikian akan lahirlah manusia yang aktif, sekaligus, pandai menyerahkan diri kepada Nya, bertanggung jawab, hati-hati, memiliki visi tentang masa depan yang jelas, optimis, kuat tidak mudah putus asa, adil, berani, dan rendah hati…… bukan penghamba materi, tetapi peduli dengan lingkungan dan alam, dan sebagainya. Inilah gambaran tentang manusia sempurna (insane kamil).
Qur’an : manusia
Setelah persepsi tentang Tuhan tuntas dijelaskan oleh al Qur’an, kemudian alQur’an juga menjelaskan tentang manusia. Sebenarnya siapa itu? Dari apa ia diciptakan, sebagai apa mereka hidup, kemana setelah hidup di dunia ini selesai? Bagaimana ukuran kemuliaannya, mengapa ia cenderung berbuat praktis?
Seperti dalam menejelaskan tentang Tuhan, Al Qur’an menjelakan tentang manusia juga sangat detil dan pasti. Penjelasan itu bertebaran dalam berbagai ayat al Qur’an. Seperti; manusia itu terbuat dari sari pati tananh, kemudia air mani. Ia dapat menjadi makluq yang paing mulai, sebaliknya dapat menjadi makluk yang paling nestha. Mulia karena iman dan amal shalehnya. Dia diciptakan untuk menjadi wakil Allah di muka bumi, guna memakmurkan alam raya ini. Ia juga berpredikat sebagai hamba Allah.
Kecuali sebagai individu, dengan segala keinginan dan pertanggung-jawabannya, manusia juga sebagai makluk social, yang harus peduli pada orang lain dan masyarakat lingkungannya. Bermula dari laki-laki kemudia wanita, kemudian keduanya saling mencintai, akhirnya berkeluarga dan bermasyarakat. Semua manusia itu sederajat kecuali dalam ketaqwaannya. Hubungan antar manusia harus dalam kerangka tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa, bukan dalam dosa dan permusuhan.
Manusia sebagai hamba dan khaalifah Allah harus melakukan peran-peran pemakmur dunia dan penegak kebenaran dan keadilan. Dua peran tersebut akan menjadikan manusia hidup dengan kemuliaan dan kebehagiaan baik di dunia ini maupun nanti di akherat.
Jika sudah sampai saatnya, manusia itu harus kembali menghadap Tuhannya, di akherat. Mereka tidak membawa apapun tentang dunia kecuali amal perbuatannya. Tidak ada amal perbuatannya kecuali akan dipertanggung-jawabkannya di kehidupan abadi (akherat). Jika hassil catatan amalnya baik maka manusia akan masuk surge, tetapi jika amal buruknya yang mendominasi maka nerakalah tempatnya. ….dan seterusnya.
Perspektif al Qur’an tentang manusia itu menjawab tuntas siapa sebenarnya manusia, dari mana asalnya, dan hendak kemana akhirnya. Sehingga tidak ada keraguan lagi, manusia mesti bagaimana bersikap dengan Tuhannya, bergaul dengan sesamaanya, harus berperan seperti apa, ia akan menjadi pejuang atau pecundang, pahlawan apa penjahat, kesemuanya sudah begitu jelas, al Qur’an menjadi landasan hidup.
Al Qur’an : alam
Kehidupan berlangsung di alam, kecuali bersama tuhan, manusia, serta juga alam. Sebagai pandangan hidup yang lengkap alQur’an juga menjelaskan tentang apa sebenarnya alam. Apa tujuan penciptaannya. Bahkan Qur’an juga menjelaskan bagaimana manusia mesti bergaul dengan alam.
Alam diciptakan Tuhan dalam enam masa, dengan bermula dari air. Matahari, bumi, bintang dan bulan masing-masing beredar sesuai dengan qadarnya. Semua alam ini bertasbih memuji tuhannya menurut bahasanya masing-masing, baik dengan suka rela atau terpaksa.
Penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang adalah tanda-tanda akan kebesaran tuhan. Semuanya diciptakan untuk menusia. Namun demikian dalam mengggunakannya manusia tidak boleh rakus dan merusak. Semuaa alam semesta ini diciptakan dengan keseimbangan dan keharmonisan. Jika ada kerusakan di darat maupun di laut badlaah karena ulah tangan manusia.
Alam ini bagi manusia sekaligus sebagai amanah yang harus dipertanggung-jawabkan nanti di akherat, sekaligus debagai ujian dan cobaan. Apakah manusia akan puas dengan dunia ini, sehingga ia menjadi ingkar pada Tuhannya serta kehidupan abadinya nanti di akherat? Ataukan ia akan menjadikan dunia ini sebagai lading tempat bertanam untuk dipetik hasilnya nanti?
Kahidupan dunia tidak lain sebagai sendau-gurau dan main-main. Kehidupan akheratlah kehidupan yang amat serius. Itulah karenanya manusia tidak boleh terlena oleh dunia yang penuh dengan perhiasan ini. Dengan pemberian Tuhan berupa ala mini mestinya manusia akan semakin bersyukur pada tuhannya, bukan justru membuatnya lupa dengan tuhannya. Alam sedemikian lengkap diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia.
Penjelasan di atas adalah sebagian dari penjelasan alQur’an tentang tiga tema pokok kehidupan (Tuhan, Manusia, dan Alam). Tidak cukup sampai di situ beberapa thema penting lain juga dijelaskan dalam al Qur’an. Misalnya penjelasan tentang akherat, nabi dan rasul, serta syetan. Semua penjelasan tersebut sebagai satu kesatuan integral yang akan menghadirkan konstruksi berpikir yang sedemikian lengkap tentang kehidupan.
Konstruksi berpikir demikian pada paro pertama abad VI M telah diimplementasikan secar konkrit oleh Nabi Muhammad SAW beserta para shahabatnya ketika itu berikut generasi-generasi sesudahnya. Hingga akhirnya pada beberapa abad sesudah itu dari komunitas muslim itu terukir satu peradaban indah baik secara spiritual, intelektual, dan fisikal. Satu peradaban yang paling maju dan paling beradab sepanjang sejarah kemanusiaan. Jika decade belakanagan ini peradaban tersebut mengalami kemunduran dan terkalahkan oleh peradaban lain adalah persoalan lain yang harus dikaji kembali leterbelakang dan penyebabnya. Namun setidaknya pandangan hidup yang dibengun oleh landasan alQur’an bukanlah pandangan hidup yang yang bersifat utopia (baca: mimpi).
Allahu a’lam.
Al Qur’an sebagai mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW
Hampir semua ulama berpendapat bahwa al Qyr’an merupakan mukjizat terbesar Nabai SAW. Di mana kemukjizatan itu dapat dibuktikan. Sementara adaa yang menjawab kemukjizatan al Qur’an terletak dalam sastranya. Terhadap jawaban ini, pantaslah kita ajukan pertanyaan, jika benar kemukjizatan alQur’an terletak pada nilai sastranya, bisa diajukan pertanyaan seberapa urgen kesusasteraan dalam kehidupan, sehingga Allah meletakkan kehebatan al Qur’an dalam hal sastra? Pada hal kehidupan akan tetap tidak terganggu tanpa sastra. Ada juga yang mengajukan jawaban kemukjizatan alQur’an pada keterjagaannya. Memeang al Qur’an merupakan peninggalan sejarah yang sangat terjaga otensitasnya, namun apakah di dalam otensitasnya itu kehebatan al Qur’an. Bukankah otensitas hanya merupakan efek dari kehebatan al Qur’an yang lain. Missal al Qur’an tidak berguna, mungkin akan lebih mudah hilang atau rusak. Lalu dalam hal apa kemukjizatan al Qur’an?
Ada sebagian ulama –Ibnu Taimiyah-- yang berpendapat bahwa kemukjizatan al Qur’an terletak pada kemampuan al Qur’an membentuk dan membangngun suatu pandangan dunia yang khas. Pandangan dunia (wordl view) adalah cara pandang terhadap kehidupan yang kemudian melahirkan prilaku baik pada individu maupun komunitas. Orang menyebut pandangan dunia juga dengan idiologi, yakni idea dan logos –doktrin –keyakinan terhadap ide-ide dasar tentang kehidupan yang diyakni kebenarannya untuk kemudian membentuk cara pandang tentang kehidupan masa depan, masa kini dan masa lalu, berikut methode, strategi pencapaian masa depan tersebut. Bagaimana al Qur’an membangun idiologi?
Fazlurrahman membantu kita untuk memahami alQur’an sebagai suatu sistim ajaran yang lengkap (komprehenship). Dalam bukunya The Major Themes Of Qur’an yang diterjemahkan menjadi Thema Pokok Al Qur’an, ia menjelaskan kehebatan alQur’an terletak pada tujuan diturunkannya kitab suci tersebut yakni untuk membentuk masyarakat yang etis dan egalitarian. Hal mana tanpak pada kritik Qur’an pada disekulibrium ekonomi masyaarakat Arab saat itu. Dengan kata lain alQur’an adalah kitab petunujk bagi manusia untuk merealisasikan masyarakat ideal. Hal tersebut menurut Rahman terbukti dari pembahasan al Qur’an pada beberap thema pokok kehidupan manusia, mulai dari pembahasan akan Tuhan, manusia, alam, Nabi-rasul, Syaithan, dan hari akhir.
Mengapa thema-tehma tersebut disebut thema pokok? Ya, karena kehidupan dengan segala kompleksitasnya sebenarnya termasuk dalam kerangka interaksi antar thema tersebut. Yakni manusia dengan Tuhannya, manusia dengan sesamanya dan manusia dengan alam, hingga keadaan hidupnya di akherat.
Pertanyaan lainnya adalah, mengapa al Qur’a sebagai kitab petunjuk bagi manusia, tidak member petnjuk praktis bagi manusia untk melakukan ini dan tidak melakukan itu (hal-hal teknis dalam hisup)? Ya. Inilah kehebatan al Qur’an.
Dengan menjelaskan berbagai hal mendasar dan pokok dalam kehidupan itu, al Quran mampu membejadi petunjuk bagi manusia sepanjang masa. Karena kehidupan manusiaa secara universal sebenarnya tidak keluar dari interaksi antar Tuhan, manusia dan alam tersebut. Kecuali itu, jika al Qur’an menjelaskan hal-hal teknis dalam hidup, maka bukan kitab suci namanya tetapi kitab petunjuk dan teknis (juknis) kehidupan. Jika iitu yang dilakukan maka ada masanya al Qur’an menjadi kurang relevan dengan persoalan nyata, dan kehilangan universalitasnya.
Al Qur’an : Tuhan
Mengapa tuhan begitu penting untuk dijelaskan dalam alQur’an. Atau dengan pertanyaan lain, mengapa Tuhan merasa penting untuk menjelaskan dirinya pada menusia? Ya, penjelasan itu begitu penting, karena di dalam sejarahnya manusia tidak pernah bisa secara pasti memahami siapa Tuhan dalam hidup ini. Bagaimanapun hebatnya manusia menggunakan pikirannya untuk mendapatakan kepastian siapa sebenarnya tuhan pasti akan gagal. Pikiran manusia bersifat relative. Sehingga hasil pemikirannya baik itu berupa ilmu pengetahuan maupun filsafat akhirnya juga relative. Mungkinkah kehidupan didasarkan pada kebenaran yang bersifat relative?
Demikian juga tentang Tuhan, semua aspek kehidupan alam semesta ini bergantung terhapak persepsi tentang tuhan. Orang Jawa misalnya memiliki persepsi tentang Tuhan seperti dalang sedangkan manusia dan alam seperti wayang. Dalang adalah pemilik mutlak atas wayang serta perannya dalam sebuah lakon. Sebaliknya wayang tidak berdaya sedikiitpun terhadap dirinya sendiri. Dari persepsi yang demikian lahirlah watak manusia Jawa yang fatalistic, pasif, dan serba menyerah. Jika kebetulan ia benar, baik, dan beruntung, itu karena kehendak Yang Mnaha kuasa yakni Dalang. Sebaliknya jika mereka salah, buruk dan rugi juga karena dalang, yang harus dibawakan dengan sikap nrimo ing pandum. Agama yang fatalistic inilah agama yang dipersepsikan sebagai candu pembuat mabuk oleh Karl mark dalam idiologi komunismenya.
Pada sejarah hidup kemanusiaan, pencarian manusia akan siapa Tuhan sudah lama dilakukan dengan pikirannya. Namun ujung dari pencaqrian itu dapat kita saksikan jauh dari kenyataan akan Tuhan itu sendiri. Manusia primitive menemukan Tuhan sebagai kayu besar, batu besar, dan berhala yang mereka ciptakan sendiri. Semua itu mereka yakini memiliki roh yang berkemampuan di atas kemampuan manusia. Hubungan antara Tuhan dengan manusia adalah hubungan yang bersifat tidak rasional bahkan takhayul dan khurafat. Semua misteri ketidakmampuan manusia adalah wilayah kerja Tuhan. Semua yang selain itu adalah wilayah kehidupan manusia bukan wilayah Tuhan. Ketika misteri itu tidak ada maka sudah tidak ada lagi wilayah Tuhan.
Para filosof, berusaha menemukan Tuhan dengan pikirannya. Di ujung pemikirannya akhirnya mereka mengenal Tuhan walaupun juga jauh dari realitas Tuhan itu sendiri. Capaian tertinggi kaum filosof tentang Tuhan menye butkan bahwa tuhan sebagai prima causa (pencipta pertama). Akal juga dapat sampai pada pemahaman bahwa prima causa mestilah tunggal, bebas dari hokum alam, unik, dan lebih dari yang lain.
Filosof Barat, Rene Descartes berkesimpulan bahwa Tuhan telah mati (The god is deat). Kaitannya dengan alam menurut Descart, tuhan memang benar telah menciptakan alam dengan segal hukumnya, namun kemudian alam dibiarkannya kerja sendiri, sebagaimana jam yang telah diciptakan kemudian ditinggalkan oleh penciptanya, sementara jam itu bekerja dengan hukumnya. Pemahaman akan tuhan tersebut tentu tidak keluar dari idiologi Materialisme Barat. –keyakinan bahwa ala mini pusatnya benda, manusia dan tuhan adalah subordinan dari benda tersebut.
Atas dasar persepsi tentang tuhan yang demikian maka Barat telah lama (sejak kebangkitannya abad 16) telah kehilangan realitas diluar dunia yang materialistic. Barat telah lama kehilangan realitas metafisika; Tuhan, akherat, dan aspek bathiniah manusia. Dengan ini Barat kehilangan landasan akar segala nilai. Benar, salah, baik-buruk, untung rugi dipahami sebagai fungsi dari benda belaka. Inilah akar masalah dari peradaban Barat.
Melihat kebunutan manusia dalam mencari tuhannya itulah, maka Tuhan dengan maha pemurahnya kemudian mengutus para Nabi dan Rasul untuk menyampaikan risalahnya kepada umat manusia. Inti dari semua risalah tersebut yaitu monotheisme. Suatu keyakinan bahwa tuhan itu satu, tiada bersekutu dengan apapun. Jika filsafat hanya dapat meraba dalam ketidak pastian tentang siapa tuhan, maka agama melalui teks-teksnya secara tegas, serta rinci, kemudian menjelaskan siapa Tuhan yang sebenar-benarnya.
Al Qur’an hadir dengan penuh ketegasan menjelaskan tentang siapa Tuhan. Dialah Allah, tiada tuhan kecuali dia.Tidak beranak, serta tidak diperanakkan. Tempat bergantung segala sesuatu. Dia Yang maha Pengasih, Maha penyayang, Maha adil, Maha mengetahuia yang ghaib dan yang nyata,Yang awal, Yang Akhir, yang lahir, Yang bathin, Maha pintar, Maha Pemberi Rizki, Maha Pencipta, Maha emberi bentuk, Maha pengampun, Maha Penerima Taubat, Maha Kuasa atas segala sesuatu, Maha Merajai, Maha Suci, maha menyelamatkan, … dan seterusnya.
Dari persepsi tentang Tuhan yang demikian akan lahirlah manusia yang aktif, sekaligus, pandai menyerahkan diri kepada Nya, bertanggung jawab, hati-hati, memiliki visi tentang masa depan yang jelas, optimis, kuat tidak mudah putus asa, adil, berani, dan rendah hati…… bukan penghamba materi, tetapi peduli dengan lingkungan dan alam, dan sebagainya. Inilah gambaran tentang manusia sempurna (insane kamil).
Qur’an : manusia
Setelah persepsi tentang Tuhan tuntas dijelaskan oleh al Qur’an, kemudian alQur’an juga menjelaskan tentang manusia. Sebenarnya siapa itu? Dari apa ia diciptakan, sebagai apa mereka hidup, kemana setelah hidup di dunia ini selesai? Bagaimana ukuran kemuliaannya, mengapa ia cenderung berbuat praktis?
Seperti dalam menejelaskan tentang Tuhan, Al Qur’an menjelakan tentang manusia juga sangat detil dan pasti. Penjelasan itu bertebaran dalam berbagai ayat al Qur’an. Seperti; manusia itu terbuat dari sari pati tananh, kemudia air mani. Ia dapat menjadi makluq yang paing mulai, sebaliknya dapat menjadi makluk yang paling nestha. Mulia karena iman dan amal shalehnya. Dia diciptakan untuk menjadi wakil Allah di muka bumi, guna memakmurkan alam raya ini. Ia juga berpredikat sebagai hamba Allah.
Kecuali sebagai individu, dengan segala keinginan dan pertanggung-jawabannya, manusia juga sebagai makluk social, yang harus peduli pada orang lain dan masyarakat lingkungannya. Bermula dari laki-laki kemudia wanita, kemudian keduanya saling mencintai, akhirnya berkeluarga dan bermasyarakat. Semua manusia itu sederajat kecuali dalam ketaqwaannya. Hubungan antar manusia harus dalam kerangka tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa, bukan dalam dosa dan permusuhan.
Manusia sebagai hamba dan khaalifah Allah harus melakukan peran-peran pemakmur dunia dan penegak kebenaran dan keadilan. Dua peran tersebut akan menjadikan manusia hidup dengan kemuliaan dan kebehagiaan baik di dunia ini maupun nanti di akherat.
Jika sudah sampai saatnya, manusia itu harus kembali menghadap Tuhannya, di akherat. Mereka tidak membawa apapun tentang dunia kecuali amal perbuatannya. Tidak ada amal perbuatannya kecuali akan dipertanggung-jawabkannya di kehidupan abadi (akherat). Jika hassil catatan amalnya baik maka manusia akan masuk surge, tetapi jika amal buruknya yang mendominasi maka nerakalah tempatnya. ….dan seterusnya.
Perspektif al Qur’an tentang manusia itu menjawab tuntas siapa sebenarnya manusia, dari mana asalnya, dan hendak kemana akhirnya. Sehingga tidak ada keraguan lagi, manusia mesti bagaimana bersikap dengan Tuhannya, bergaul dengan sesamaanya, harus berperan seperti apa, ia akan menjadi pejuang atau pecundang, pahlawan apa penjahat, kesemuanya sudah begitu jelas, al Qur’an menjadi landasan hidup.
Al Qur’an : alam
Kehidupan berlangsung di alam, kecuali bersama tuhan, manusia, serta juga alam. Sebagai pandangan hidup yang lengkap alQur’an juga menjelaskan tentang apa sebenarnya alam. Apa tujuan penciptaannya. Bahkan Qur’an juga menjelaskan bagaimana manusia mesti bergaul dengan alam.
Alam diciptakan Tuhan dalam enam masa, dengan bermula dari air. Matahari, bumi, bintang dan bulan masing-masing beredar sesuai dengan qadarnya. Semua alam ini bertasbih memuji tuhannya menurut bahasanya masing-masing, baik dengan suka rela atau terpaksa.
Penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang adalah tanda-tanda akan kebesaran tuhan. Semuanya diciptakan untuk menusia. Namun demikian dalam mengggunakannya manusia tidak boleh rakus dan merusak. Semuaa alam semesta ini diciptakan dengan keseimbangan dan keharmonisan. Jika ada kerusakan di darat maupun di laut badlaah karena ulah tangan manusia.
Alam ini bagi manusia sekaligus sebagai amanah yang harus dipertanggung-jawabkan nanti di akherat, sekaligus debagai ujian dan cobaan. Apakah manusia akan puas dengan dunia ini, sehingga ia menjadi ingkar pada Tuhannya serta kehidupan abadinya nanti di akherat? Ataukan ia akan menjadikan dunia ini sebagai lading tempat bertanam untuk dipetik hasilnya nanti?
Kahidupan dunia tidak lain sebagai sendau-gurau dan main-main. Kehidupan akheratlah kehidupan yang amat serius. Itulah karenanya manusia tidak boleh terlena oleh dunia yang penuh dengan perhiasan ini. Dengan pemberian Tuhan berupa ala mini mestinya manusia akan semakin bersyukur pada tuhannya, bukan justru membuatnya lupa dengan tuhannya. Alam sedemikian lengkap diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia.
Penjelasan di atas adalah sebagian dari penjelasan alQur’an tentang tiga tema pokok kehidupan (Tuhan, Manusia, dan Alam). Tidak cukup sampai di situ beberapa thema penting lain juga dijelaskan dalam al Qur’an. Misalnya penjelasan tentang akherat, nabi dan rasul, serta syetan. Semua penjelasan tersebut sebagai satu kesatuan integral yang akan menghadirkan konstruksi berpikir yang sedemikian lengkap tentang kehidupan.
Konstruksi berpikir demikian pada paro pertama abad VI M telah diimplementasikan secar konkrit oleh Nabi Muhammad SAW beserta para shahabatnya ketika itu berikut generasi-generasi sesudahnya. Hingga akhirnya pada beberapa abad sesudah itu dari komunitas muslim itu terukir satu peradaban indah baik secara spiritual, intelektual, dan fisikal. Satu peradaban yang paling maju dan paling beradab sepanjang sejarah kemanusiaan. Jika decade belakanagan ini peradaban tersebut mengalami kemunduran dan terkalahkan oleh peradaban lain adalah persoalan lain yang harus dikaji kembali leterbelakang dan penyebabnya. Namun setidaknya pandangan hidup yang dibengun oleh landasan alQur’an bukanlah pandangan hidup yang yang bersifat utopia (baca: mimpi).
Allahu a’lam.
FENOMENA MENGULANG BANJIR NABI NUH
Kehadiran Nabi Nuh adalah dalam rangka memberi peringatan kepada umatnya, untuk tidak durhaka kepada Allah SWT. Tetapi ternyata ajakan itu disikapi dengan penentangan ummat nabi Nuh. Hanya ada sedikit umat Nabi Nuh yang mentaatinya. Sebagai hukuman atas kedurhakaan umat Nabi Nuh tersebut, Allah datangkan banjir bandang yang sangat dahsyat walau pada musim kemarau. Di tengah terjangan banjir itu, hanya sedikit yang bisa selamat. Mereka terdiri dari orang-orang yang beriman, patuh dan mentaati seruan Nuh, dan berbagai jenis binatang. Adzab yang tidak kalah dahsyat juga pernah Allah timpakan kepada kaum Madyan, Ad dan Tsamud, yang juga dikenal durhaka kepada Allah. Lalu apa yang penting, dari kisah banjir banadang tersebut dalam konteks kekinian?
Ketika kebanyakan umat manusia sudah tidak lagi memperhatikan seruan Allah, bahkan meremehkan , menistakan, dan menentang ajaran-ajaran suci ilahi, apakah tidak mungkin akan datang adzab serupa dengan banjir nabi Nuh itu. Atau jangan-jangan banjir itu sekarang sudah terjadi?
Secara objektif, kita harus mengatakan bahwa manusia modern sekarang dan mendatang menunjukkan trend yang tidak lagi peduli dengan seruan ilahi. Agama dipahami sebagai peninggalan klasik yang hanya memiliki nilai pariwisata. Dilestarikan bukan sebagai ajaran yang hidup dalam keseharian manusia modern, melainkan sebagai barang yang antic, menghibur, dan sedikit bersejarah. Ya… modern dibuat dan dikesankan bertolak belakang dengan nilai dan ajaran agama. Jika modern berarti maju, sesuai nalar sehat, dan efisien. Maka agama berarti sebaliknya, terbelakang, penuh mitologi, bodoh, dan sia-sia. Jika ada sedikit orang yang peduli pada nilai dan ajaran agama, adalah fenomena aneh, lucu, dan tentu menjadi bahan tertawaan. Sebaliknya, berbagai prilaku penyimpangan norma dan ajaran agama sudah dianggap sebagai hal biasa. Pencurian, perzinaan, miras, hingga pembunuhan, menjadi hal yang lumrah, bahkan tidak jarang yang justru dilegalkan. Jika sudah demikian adanya, tidak aneh rasanya jika adzab dari langit akan atau sudah datang.
Analog dengan banjir Nabi Nuh, banjir yang sama mengancam kehidupan manusia itu saat ini sudah datang. Betapa tidak, kebudayaan jahiliyah yang dikemas sangat menarik nafsu manusia, melalui agen-agen distribusinya bisa masuk ke semua ruang, tanpa terbendung sedikitpun. Agen itu adalah kotak kecil yang bernama HP, pesawat televise, computer dan sebagaainya. Melalui berbagai perangkat tersebut, budaya jahiliah telah mengepung semua orang tanpa menyisakan ruang yang aman. Bukankah fenomena demikian adalah banjir? Tidak ada orang yang bisa menanggung keselamatan orang lain berhadapan dengan banjir tersebut, walaupun ia seorang ustadz, kiai, bahkan juga nabi, sebagaimana tidak diijinkannnya Nabi Nuh, untuk menyelamatkan istri dan seorang anaknya sendiri yang akhirnya tewas menjadi korban bajir besar saat itu.
Dan tidak jauh berbeda dengan banjir Nuh, yang dapat menyelamatkan hidup manusia adalah kapal Nuh. Ciri kapal itu adalah aneh ketika dibuat tetapi mampu mengantisipasi kemungkinan yang akan terjadi di masa depan. Sama anehnya dengan Nuh yang dicibir umatnya ketika ia membuat kapal di tengah musim kemarau, yang ternyata menjadi satu-satunya alternative untuk menolong kehidupan manusia menghadapi banjir bandang. Ciri yang lain, adalah penerimaan tanpa syarat oleh siapapun yang ingin selamat atas nilai, ajaran, perintah dari langit, bagaimanapun tidak masuk akalnya perintah langit tersebut. Dengan kata lain, kalau sudah berhadapan dengan otoritas langit, orang yang ingin selamat harus jauh-jauh membuang keangkuhannya, dan secepatnya menggantinya dengan sikap rendah hati atau tawadlu’. Ciri yang lain lagi adalah sikap teguh pendirian dalam menyiapkan kapal sehingga layak dipakai. Tanpa sikap istiqomah tersebut, maka proyek penyelamatan kehidupan akan gagal dilaksanakan, atau tidak selesai dilaksanakan.
Melihat bentuk empiric atas banjir yang terjadi, kapal itu berupa bisa berupa apa saja, mulai dari syair lagu, berlembar-lembar teori, grup music, kelompok pengajian, hingga keluaarga, sekolah (lembaga pendidikan), organisasi kemasyarakatan, paguyuban, kumpulan arisan, dan apapun. Prinsipnya adalah lembaga yang dibangun dalam rangka menegakkan kalimat ilahi.
Menghadapi musibah yang sudah di depan mata tersebut kaum muslimin banyak yang masih berpangku tangan belum menyadari besarnya ancaman. Bahkan ikut menggali lubang cekungan yang siap untuk mempercepat datangnya arus banjir. Sayang orang modern yang sudah terlanjur berotak rasionalisme dan berinderaa empirisme terlalu tuli untuk mencandra datangnya banjir.
Wallahu a’lam.
Ketika kebanyakan umat manusia sudah tidak lagi memperhatikan seruan Allah, bahkan meremehkan , menistakan, dan menentang ajaran-ajaran suci ilahi, apakah tidak mungkin akan datang adzab serupa dengan banjir nabi Nuh itu. Atau jangan-jangan banjir itu sekarang sudah terjadi?
Secara objektif, kita harus mengatakan bahwa manusia modern sekarang dan mendatang menunjukkan trend yang tidak lagi peduli dengan seruan ilahi. Agama dipahami sebagai peninggalan klasik yang hanya memiliki nilai pariwisata. Dilestarikan bukan sebagai ajaran yang hidup dalam keseharian manusia modern, melainkan sebagai barang yang antic, menghibur, dan sedikit bersejarah. Ya… modern dibuat dan dikesankan bertolak belakang dengan nilai dan ajaran agama. Jika modern berarti maju, sesuai nalar sehat, dan efisien. Maka agama berarti sebaliknya, terbelakang, penuh mitologi, bodoh, dan sia-sia. Jika ada sedikit orang yang peduli pada nilai dan ajaran agama, adalah fenomena aneh, lucu, dan tentu menjadi bahan tertawaan. Sebaliknya, berbagai prilaku penyimpangan norma dan ajaran agama sudah dianggap sebagai hal biasa. Pencurian, perzinaan, miras, hingga pembunuhan, menjadi hal yang lumrah, bahkan tidak jarang yang justru dilegalkan. Jika sudah demikian adanya, tidak aneh rasanya jika adzab dari langit akan atau sudah datang.
Analog dengan banjir Nabi Nuh, banjir yang sama mengancam kehidupan manusia itu saat ini sudah datang. Betapa tidak, kebudayaan jahiliyah yang dikemas sangat menarik nafsu manusia, melalui agen-agen distribusinya bisa masuk ke semua ruang, tanpa terbendung sedikitpun. Agen itu adalah kotak kecil yang bernama HP, pesawat televise, computer dan sebagaainya. Melalui berbagai perangkat tersebut, budaya jahiliah telah mengepung semua orang tanpa menyisakan ruang yang aman. Bukankah fenomena demikian adalah banjir? Tidak ada orang yang bisa menanggung keselamatan orang lain berhadapan dengan banjir tersebut, walaupun ia seorang ustadz, kiai, bahkan juga nabi, sebagaimana tidak diijinkannnya Nabi Nuh, untuk menyelamatkan istri dan seorang anaknya sendiri yang akhirnya tewas menjadi korban bajir besar saat itu.
Dan tidak jauh berbeda dengan banjir Nuh, yang dapat menyelamatkan hidup manusia adalah kapal Nuh. Ciri kapal itu adalah aneh ketika dibuat tetapi mampu mengantisipasi kemungkinan yang akan terjadi di masa depan. Sama anehnya dengan Nuh yang dicibir umatnya ketika ia membuat kapal di tengah musim kemarau, yang ternyata menjadi satu-satunya alternative untuk menolong kehidupan manusia menghadapi banjir bandang. Ciri yang lain, adalah penerimaan tanpa syarat oleh siapapun yang ingin selamat atas nilai, ajaran, perintah dari langit, bagaimanapun tidak masuk akalnya perintah langit tersebut. Dengan kata lain, kalau sudah berhadapan dengan otoritas langit, orang yang ingin selamat harus jauh-jauh membuang keangkuhannya, dan secepatnya menggantinya dengan sikap rendah hati atau tawadlu’. Ciri yang lain lagi adalah sikap teguh pendirian dalam menyiapkan kapal sehingga layak dipakai. Tanpa sikap istiqomah tersebut, maka proyek penyelamatan kehidupan akan gagal dilaksanakan, atau tidak selesai dilaksanakan.
Melihat bentuk empiric atas banjir yang terjadi, kapal itu berupa bisa berupa apa saja, mulai dari syair lagu, berlembar-lembar teori, grup music, kelompok pengajian, hingga keluaarga, sekolah (lembaga pendidikan), organisasi kemasyarakatan, paguyuban, kumpulan arisan, dan apapun. Prinsipnya adalah lembaga yang dibangun dalam rangka menegakkan kalimat ilahi.
Menghadapi musibah yang sudah di depan mata tersebut kaum muslimin banyak yang masih berpangku tangan belum menyadari besarnya ancaman. Bahkan ikut menggali lubang cekungan yang siap untuk mempercepat datangnya arus banjir. Sayang orang modern yang sudah terlanjur berotak rasionalisme dan berinderaa empirisme terlalu tuli untuk mencandra datangnya banjir.
Wallahu a’lam.
ISLAM DAN SEKULERISME
Sekulerisme adalah istilah bentukan dari speculum yang berarti masa kini, saat ini. Kemudian menjadi kata sekuler sebagai kata dasar dengan kata jadian sekulerisasi, dan sekulerisme. Sekulerisasi adalah satu proses menyekulerkan. Memasakinikan hal-hal yang sudah lama. Meng up date semua yang dianggap telah exspaired. Yang dianggap tantangan bagi sekulerisasi adalah nilai-nilai, dogma-dogma, yang dianggap universal ingenerik. Padahal nilai atau dogma tersebut sudah kadaluwarso, sehingga perlu untuk direformasi atau kaau perlu didekonstruksi untuk dapat diaktualisasikan pada realitas saat ini. Untuk itu sekulerisasi menyaratkan profanisasi nilai-nilai dan dogma-dogma yang dianggap sacral. Sekulerisasi pada dataran ini sejajar dengan desakralisasi dogma dan nilai, bahkan agama.
Tentang politik misalnya, dalam pandangan sekulerisasi, politik adalah masalah sekuler yang harus selalu direformasi sehingga sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan saat ini. Politik adalah masalah sekuler bukan masalah agama. Dogma dan teks agama dalam masalah politik tidak ada gunanya. Di sinilah politisasi agama sudah bukan saatnya lagi. Karena politik adalah masalah dunia yang sangat profane tidak sacral. Pada dataran ini kita dapat memahami statemen Cak Nur yang berbunyi, “Islam Yes Politik Islam No”. Kita juga dapat memahami pendapat Gus Dur bahwa assalamu’alaikum sama dengan selamat pagi. Dan juga pendapat siapapun yang mensekulerkan hal-hal yang memang bersifat sekuler.
Jika demikian penjelasan tentang sekulerisasi, apa dan mengapa orang meributkannya. Apa yang salah bahwa politik adalah persoalan dunia, saat ini, serta profane. Nurchlis berpendapat menyeret masalah politik ke dalam agama alih-alih memberikan kontribusi terhadap agama yang terjadi justru membuat citra agama menjadi buruk. Sebagai contohnya adalah banyaknya partai agama yang dalam sepak terjangnya justru bertentangan dengan nilai atau teks-teks agama, akibatnya justru merugikan agama itu sendiri. Demikian juga dalam bidang yang lain orang menjadi bertanya politisasi agama apakah tidak memanfaatkan agama untuk tujuan politik?
Sekulerisme dalam sejarah
Melihat penjelasan tetang sekulerisasi di atas memang tampak bahwa tidak ada masalah dalam sekulerisasi. Bahkan sekulerisasi sangat diperlukan oleh agama sehingga nilai-nilai agama dapat diaktualisasikan di dataran realitas empiris. Dengan sekulerisasi agama, agama menjadi fungsional dalam kehidupan. Namun pertanyaannya adalah sampai sebatas mana sekulerisasi dalam agama bias dilaksanakan. Sekulerisasi terhadap format keagamaan dengan tetap mensakralkan nilai-nilainya, tampaknya mmemang baik adanya, tetapi jika sekulerisasi dilakukan tanpa batas, seperti bacaan sholat dan adzan yang harus dibahasa nasionalkan, wudlu yang sama dengan sekedar mandi kecil, nikah yang penting sama-sama senang untuk berhubungan suami istri sekalipun tanpa ijab dan kabul, dan sederet masalah yang lain… tampaknya harus dipikir ulang. Terlebih jika cara kita memahami suatu kata harus disertai kontek sejarah di mana kata itu lahir. Sekuler, sekulerisasi, dan sekulerisme bagaimanapun harus dipahami dalam konteks sejarahnya.
Sekulerisme adalah paham yang lahir dari rahim peradaban Barat, tepanya pasca renaissance Eropa pada abad XV. Renaissance yang bermakna pencerahan kembali lahir sebagai bentuk dekonstruksi intelektual dan kemudian social-politik atas dominasi pihak gereja terhadap kaum ilmuwan, kaum capital dan rakyat jelata. Gereja yang saat itu juga menjadi penguasa intelektual, social dan politik memaksakan kebenaran-kebenaran dogma gereja kepada masyarakat. Sebagaimana biasanya penguasa yang tanpa control menjadi tirani yang tidak menerima kritik. Kritik dipahami sebagai ancaman yang karenanya harus dimusuhi dan dimusnahkan.
Pada episode ini di Eropa, khususnya Spanyol berddiri megah sebuah peradaban yang maju baik secara spiritual, intelektual maupun fisikal. Peradaban itu lahir dari spiritualisme dan intelektualisme islam, yang dibangun oleh salah seorang keturunan Bani Umayah yang selamat dkarena melarikan diri dari kejaran pasukan Bani Abbasiah. Kemajuan peradaban Islam ditandai oleh kemajuan sain dan teknologi, mulai dari ilmu astronomi, kedokteran, kimia, arsitektur, dan tentu saja ilmu agama. Beberapa tokohnya ada Ibn Rusyd atau yang lebih dikenal dengan Averos dalam buku-buku sejarah Barat. Ibnu Rusyd dikenal kecuali ahli dalam agama juga ilmuwan induktivis. Ia mengenalkan kebenaran sebagai hasikk dari percobaan empiris. Diantaranya kepada Ibnu Rusyd inilah banyak mahasiswa Eropa belajar ilmu pengetahuan empiiris di universitas Cordova di Spanyol. Di tengah kegelapan peradaban Barat, hasil pembelajaran dari universitas Cordova inilah sebuah cahaya pencerahan mulai menyebar di Eropa.
Diantara ilmuwan Eropa itu adalah Galileo yang kemudian bertori bahwa mataharilah yang sebenarnya sebagai pusat alam semesta yang kemudian terkenal dengan teori Helio sentrisme. Teori tersebut tentu saja bertentangan dan kemudian dipahami sebagai pembangkangan terhadap teori Gereja yang telah ada sebelumnya yang menyebut bahwa bumi adalh pusat semesta yang kemudian dikenal Geosentrisme. Banturan anatara sang penguasa yakni gereja dengan ilmuwan yang power loss berakibat dijatuhkannya hokum bakar hidup-hidup kepada Profesor Galileo. Peristiwa hukuman yang sangat tidak manusiawi itu kemudian menyentak kesadaran ilmuwan-ilmuwan Eropa untuk membebaskan ilmu mereka dengan dogma agama (baca: Gereja).
Pada bagian lain sejarah Eropa sedang terjadi permusuhan hebat anatara Raja Frederic dan ratu Isabel yang sedang memimpin pasukan Kristen untuk merebut kembali Spanyol dari tangan penguasa muslim Bani Umayah di Eropa. Ternyata perang tersebut membawa serta sentiment keagamaan,Islam dan Kristen, dan berlangsung sekitar 3 abad. Tentu perang selama itu menjadi sangat wajar jika membentuk mental kebencian Kristen kepada umat dan agama Islam, dan khususnya kaum ilmuwan Barat. Hingga kahirnya semakin kuatlah tembok pembatas anatar ilmu pengetahuan yang nota bene karya para ilmuwan dengan agama. Pemisahan secara intelektual ilmu dari agama ini, dalam datara social-budaya melahirkan satu paham yang disebut sekulerisme. Dari sudut pandang sejarah ini, akhirnya sekulerisme adalah sebuah gerakan intelktual dan budaya yang sengaja memisahkan kehidupan manusia menjadi dua bagian. Bagian yang mengatur hubungan manusia dengan sesamanya, dan alam semesta adalah wilayah ilmu pengetahuan, sedang wilayah agama adalah wilayah yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Kedua wilayah itu haram hukumnya untuk saling bertemu, berkait, dan mencampuri. Tidak ada agama, Tuhan, akherat, benar, dan baik yang bersifat keagamaan di dalam wilayah ilmu pengetahuan.
Tentang politik misalnya, dalam pandangan sekulerisasi, politik adalah masalah sekuler yang harus selalu direformasi sehingga sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan saat ini. Politik adalah masalah sekuler bukan masalah agama. Dogma dan teks agama dalam masalah politik tidak ada gunanya. Di sinilah politisasi agama sudah bukan saatnya lagi. Karena politik adalah masalah dunia yang sangat profane tidak sacral. Pada dataran ini kita dapat memahami statemen Cak Nur yang berbunyi, “Islam Yes Politik Islam No”. Kita juga dapat memahami pendapat Gus Dur bahwa assalamu’alaikum sama dengan selamat pagi. Dan juga pendapat siapapun yang mensekulerkan hal-hal yang memang bersifat sekuler.
Jika demikian penjelasan tentang sekulerisasi, apa dan mengapa orang meributkannya. Apa yang salah bahwa politik adalah persoalan dunia, saat ini, serta profane. Nurchlis berpendapat menyeret masalah politik ke dalam agama alih-alih memberikan kontribusi terhadap agama yang terjadi justru membuat citra agama menjadi buruk. Sebagai contohnya adalah banyaknya partai agama yang dalam sepak terjangnya justru bertentangan dengan nilai atau teks-teks agama, akibatnya justru merugikan agama itu sendiri. Demikian juga dalam bidang yang lain orang menjadi bertanya politisasi agama apakah tidak memanfaatkan agama untuk tujuan politik?
Sekulerisme dalam sejarah
Melihat penjelasan tetang sekulerisasi di atas memang tampak bahwa tidak ada masalah dalam sekulerisasi. Bahkan sekulerisasi sangat diperlukan oleh agama sehingga nilai-nilai agama dapat diaktualisasikan di dataran realitas empiris. Dengan sekulerisasi agama, agama menjadi fungsional dalam kehidupan. Namun pertanyaannya adalah sampai sebatas mana sekulerisasi dalam agama bias dilaksanakan. Sekulerisasi terhadap format keagamaan dengan tetap mensakralkan nilai-nilainya, tampaknya mmemang baik adanya, tetapi jika sekulerisasi dilakukan tanpa batas, seperti bacaan sholat dan adzan yang harus dibahasa nasionalkan, wudlu yang sama dengan sekedar mandi kecil, nikah yang penting sama-sama senang untuk berhubungan suami istri sekalipun tanpa ijab dan kabul, dan sederet masalah yang lain… tampaknya harus dipikir ulang. Terlebih jika cara kita memahami suatu kata harus disertai kontek sejarah di mana kata itu lahir. Sekuler, sekulerisasi, dan sekulerisme bagaimanapun harus dipahami dalam konteks sejarahnya.
Sekulerisme adalah paham yang lahir dari rahim peradaban Barat, tepanya pasca renaissance Eropa pada abad XV. Renaissance yang bermakna pencerahan kembali lahir sebagai bentuk dekonstruksi intelektual dan kemudian social-politik atas dominasi pihak gereja terhadap kaum ilmuwan, kaum capital dan rakyat jelata. Gereja yang saat itu juga menjadi penguasa intelektual, social dan politik memaksakan kebenaran-kebenaran dogma gereja kepada masyarakat. Sebagaimana biasanya penguasa yang tanpa control menjadi tirani yang tidak menerima kritik. Kritik dipahami sebagai ancaman yang karenanya harus dimusuhi dan dimusnahkan.
Pada episode ini di Eropa, khususnya Spanyol berddiri megah sebuah peradaban yang maju baik secara spiritual, intelektual maupun fisikal. Peradaban itu lahir dari spiritualisme dan intelektualisme islam, yang dibangun oleh salah seorang keturunan Bani Umayah yang selamat dkarena melarikan diri dari kejaran pasukan Bani Abbasiah. Kemajuan peradaban Islam ditandai oleh kemajuan sain dan teknologi, mulai dari ilmu astronomi, kedokteran, kimia, arsitektur, dan tentu saja ilmu agama. Beberapa tokohnya ada Ibn Rusyd atau yang lebih dikenal dengan Averos dalam buku-buku sejarah Barat. Ibnu Rusyd dikenal kecuali ahli dalam agama juga ilmuwan induktivis. Ia mengenalkan kebenaran sebagai hasikk dari percobaan empiris. Diantaranya kepada Ibnu Rusyd inilah banyak mahasiswa Eropa belajar ilmu pengetahuan empiiris di universitas Cordova di Spanyol. Di tengah kegelapan peradaban Barat, hasil pembelajaran dari universitas Cordova inilah sebuah cahaya pencerahan mulai menyebar di Eropa.
Diantara ilmuwan Eropa itu adalah Galileo yang kemudian bertori bahwa mataharilah yang sebenarnya sebagai pusat alam semesta yang kemudian terkenal dengan teori Helio sentrisme. Teori tersebut tentu saja bertentangan dan kemudian dipahami sebagai pembangkangan terhadap teori Gereja yang telah ada sebelumnya yang menyebut bahwa bumi adalh pusat semesta yang kemudian dikenal Geosentrisme. Banturan anatara sang penguasa yakni gereja dengan ilmuwan yang power loss berakibat dijatuhkannya hokum bakar hidup-hidup kepada Profesor Galileo. Peristiwa hukuman yang sangat tidak manusiawi itu kemudian menyentak kesadaran ilmuwan-ilmuwan Eropa untuk membebaskan ilmu mereka dengan dogma agama (baca: Gereja).
Pada bagian lain sejarah Eropa sedang terjadi permusuhan hebat anatara Raja Frederic dan ratu Isabel yang sedang memimpin pasukan Kristen untuk merebut kembali Spanyol dari tangan penguasa muslim Bani Umayah di Eropa. Ternyata perang tersebut membawa serta sentiment keagamaan,Islam dan Kristen, dan berlangsung sekitar 3 abad. Tentu perang selama itu menjadi sangat wajar jika membentuk mental kebencian Kristen kepada umat dan agama Islam, dan khususnya kaum ilmuwan Barat. Hingga kahirnya semakin kuatlah tembok pembatas anatar ilmu pengetahuan yang nota bene karya para ilmuwan dengan agama. Pemisahan secara intelektual ilmu dari agama ini, dalam datara social-budaya melahirkan satu paham yang disebut sekulerisme. Dari sudut pandang sejarah ini, akhirnya sekulerisme adalah sebuah gerakan intelktual dan budaya yang sengaja memisahkan kehidupan manusia menjadi dua bagian. Bagian yang mengatur hubungan manusia dengan sesamanya, dan alam semesta adalah wilayah ilmu pengetahuan, sedang wilayah agama adalah wilayah yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Kedua wilayah itu haram hukumnya untuk saling bertemu, berkait, dan mencampuri. Tidak ada agama, Tuhan, akherat, benar, dan baik yang bersifat keagamaan di dalam wilayah ilmu pengetahuan.
TRANSFORMASI DARI KARYAWAN MENJADI PEJUANG
Merenungkan keberadaan Muhammadiyah yang sudah berusia satu abad ini adalah suatu keharusan, sehingga langkah Muhammadiyah pada abad kedua dan seterusnya akan lebih membawa maslahah terhadap keberadaan ummat dan bangsa yang telah memilikinya selama ini.
Keberadaan Muhammadiyah selama ini identik dengan kebesaran adalah tidak dapat dipungkiri. Ada ratusan ribu TK ABA di seentero Indonesia, ribuan SD-MI, SMP-MTs, SMA-MA, hingga ratusan PT adalah fakta yang tidak terbantahkan bahwa Muhammadiyah adalah organisiasi besar. Di lapangan social ada ribuan panti yatim-piatu, rumah jompo, lembaga zakat, dan ribuan poliklinik ibu dan anak hingga rumah sakit. Membuat semakin lengkap Muhammadiyah dalam berkiprah di bumi pertiwi ini.
Penulis sebagai bagian dari penumpang yunior dalam gerbong Muhammadiyah menjadi terngguk-angguk secara tidak sadar, ketika di forum muktamar satu abad yang lalu menyaksikan sendiri betapa di bumi Papua Muhammadiyah menjadi bagian dari ormas keagamaan yang gigih berjuang mengibarkan bendera dakwah amar makruf nahi mungkarnya. Adalah betul-betul informasi yang sangat faktawi dan aktual bagi penulis. Boleh jadi hal itu, karena Papua adalah daerah terjauh dari tempat berpusatnya para media. Begitu juga dengan kiprah muhammadiyah di bumi Menado Sulawesi Utara. Nusa Tenggara Timur, bahkan juga di Bali. Beberapa daerah ini notabene mayoritas non muslim.
Oleh karena itu tidak terlalu salah jika para ahli sejarah membuat teori sejarah bahwa Islam (baca: Muhammadiyah) adalah salah satu dari lem perekat kesatuan dan persatuan Indonesia. Sungguh besar jasa Muhammadiyah bagi negeri ini. Karena itu sikap mengecilkan Muhammadiyah oleh siapapun, kecuali jelas bukan didasarkan oleh pemahaman yang utuh dan mendalam terhadap sejarah bangsa ini, juga tindakan yang gegabah dan membahayakan eksistensi bangsa ini saat ini dan di masa-masa yang akan datang.
Namun demikian, bukan sebuah lembaga yang baik jika para aktivis Muhammadiyah berpuas dengan fakta-fakta kebesarannya tersebut. Bahkan bisa jadi terhentilah langkah kebesarannya jika para aktovisnya terninabobokan oleh langgam kebesaran Muhammadiyah ya ng memang merdu dibawakan oleh para pengamat dalam dan luar negeri tersebut.
Sebagai seorang pelaku pendidikan (belum pantas bergelar pejuang, karena kata ini kayaknya lebih pantas diberikan kepada para pahlawan pendidikan), penulis agak terusik oleh orang-orang yang menyuarakan kebesaran Muhammadiyah di atas. Karena bagi penulis, Muhammadiyah adalah (meminjam istilah Emha Ainun najib) sebuah gerakan social yang keberadaannya sejak awal diabdikan untuk sebuah nilai agama yang sangat mendasar yakni Tauhid. Apresiasi mendalam Kiai Dahlan terhadap surat al Maun adalah sangat melegenda dalam sejarah awal keberadaaan Muhammadiyah.
Penulis mendapatkan pemahaman bahwa Muhammadiyah adalh lahir di atas dasar tauhid dan untuk memuliakan tauhid itu juga. Karena itu, ketika kita ingin mengukur kesuksesan Muhammadiyah sudah barang tentu bahwa inti ukurannnya adalah tauhid juga. Mengukur kesuksesan dan kebesaran Muhammadiyah hanya dengan ukuran jumlah/kuantitas amal usahanya adalah sebuah ketidaktepatan. Seperti mengukur kebesaran gajah dengan standar ukuran banyaknya gelintir bulu atau warnanya, bukan beratnya. Mengukur kehebatan seekor macan dengan jumlah kuku-kukunya, bukan keharmonisan bentuk tubuhnya dengan doreng bulu-bulu kulitnya.
Mengukur keberhasilan dan kebesaran Muhammadiyah tentu lebih tepat jika menggunakan ukuran sejauhmana amal-amal usahanya memberikan andil dalam perjuangan li i’la likalimatillah (meninggikan dan memuliakan kalimah ilahi). Banyaknya amal usaha Muhammadiyah yang mengalami disfungsi li I’la likalimatillah adalah sesuatu yang mubadzir, alias sia-sia dan membuang-buang asset persyarikatan. Ukuran kebesaran lembaga amal usaha Muhammadiyah bukan pada hal-hal yang bersifat kuantitatif. Jika kita hendak mengukur sebuah sekolah hendaknya bukan seberapa tinggi gedungnya, seberapa banyak muridnya, seberapa besar sumbangan dananya tidap bulan pada organisasi. Tetapi hendaknya menggunakan ukuran-ukuran kualitatif yang tauhidi.
Untuk sebuah amal usha sekolah ukran yang mestinya dipakai adalah sejauhmana relevansi visi dan missi sekolah terhadap upaya mentauhidkan ummat dan bangsa Indonesia. Bagaimana dasar, warna dan orientasi dari kurikulumnya? Sudahkan kohern dengan upaya menegakkan tauhid menurut pemahaman Muhammmadiyah? Bagaimana dalam proses-proses KBMnya? Sudahkah KBM sekolah memungkinkan semua peserta didiknya terkena sibghah tauhid. Seperti apa pola berpikir guru atau ustadznya? Materialistik kah? Apakah kinerja mereka seperti kinerja seorang karyawan ataukah sebagai seorang pejuang. Terakhir adalah alumninya. Apakah alumsi dari sekolah-sekolah Muhammadiyah memiliki karakter seorang mukmin yang intelektual, atau intelektual yang mukmin? Mukmin intelektual sangat berbeda dengan intelektual mukmin. Jika yang pertama, mukmin menjadi core dan jati dirinya, sedang intelektual adalah subordinanya. Pada yang kedua sebaliknya, intelektual adalah core dan jati dirinya, sedanngkan mukmin adalah sub ordinannya.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus dijawab dengan jujur oleh semua jajaran pimpinan baik pada yayasan maupun pimpinana amal usaha Muhammadiyah. Jawaban jujur tersebutlah yang menyatakan dengan konsisten dan apa adanya tentang keberadaan Muhammadiyah. Dengan kata lain, marilah kita berimajenasi, jika Kiai Dahlan saat ini masih ada, Ia akan menangis karena prihatin akan sepak terjang Muhammadiyah saat ini, atau tersenyum karena merasa lega dengan eksistensi Muhammadiyah.
Marilah ukuran-ukuran kualitas tauhidiyah sebuah amal usaha Muhammadiyah tersebut sedikit kita kupas, sehingga jelas bagi kita.
Visi dan Missi sebuah sekolah adalah merangkum arah gerak sekolah itu hendak berkiprah. Oleh karena itu visi dan missi sekolah Muhammadiyah hendaknya menjadikan tauhid sebagai nilai dasarnya. Nilai tauhid adalah nilai yang mendasari kehidupan dunia hingga akherat. Jika sekolah Muhammadiyah memiliki visi dan missi yang terbatas pada nilai duniawi semata, itu artinya sekolah itu akan berkiprah di dunia ini saja. Sekolah yang demikian tidak lebih dari senuah lembaga pendidikan sekuler. Yang pada gilirannya nanti akan melahirkan alumni bukan Abdullah (hamba Allah), tetapi abidunya (hamba dunia). Perlu ditegaskan di sini bahwa, tidak ada alasan karena visi dan missi tauhidnya sekolah Muhammadiyah menjadi terbelakang atau membelakangi dunia. Sebaliknya, dengan visi dan missinya itu sekolah Muhammadiyah memiliki akar kuat di dalam bumi tauhid, dan sekaligus berdahan dan berranting professionalitas dan akademik. Kuat kayakinannya terhadap Allah dan akherat sekuat itu pula tradisi profesionalitas dan kecerdasan akademiknya.
Selanjutnya, dasar dan orientasi kurikulumnya. Kurikulum adalah kelanjutan dari visis dan missi dari sebuah amal usaha berupa lembaga pendidikan. Jika visis adalah ruh, jiwa dan hatinya, maka kurikulum adalah sistim saraf otak dan pola pikirnyanya. Seluruh sistim KBM adalah perwujudan dari konsep yang disebut dengan kurikulum. Karena itu, alih-alih menyususn kurikulum sekolah secara sembarangan, bahkan ada sekolah yang mengkopi paste kurikulum sekolah lain, sekolah Muhammadiyah hendaknya menggodok kurikulumnya sehingga memungkinkan visi dan missi sekolah menjadi terwujud dalam sistim pendidikan sehaari-hari.
KBM adalah inti kegiatan di sekolah. KBM adalah proses dimana sang ustadz atau guru mengajarkan suatu ilmu kepada murid-muridnya. Ada dua inti dalam KBM ini yakni ilmu dan metodologi dedaktik nya. Ilmu jelas dalam pandangan tauhid tidak mengenal dikhotomi umum dan agama. Ilmu adalah satu dari Allah, yang diajarkan baik melalui ayat qauliyah maupun fenomena kanuniyah. Qauliyah harus menjadi term of reference bagi manusia untuk memahami dan menggauli alam. Sehingga imam Ghazali mengelompokkan hokum belajar ilmu menjadi dua. Qauliyah hokum mempelajarinya wajib ain, sedang kauniyah wajib kifayah. Hokum itu dapat dipahami bahwa. Setiap muslim wajib mempelajari ilmu agama sebelum ia mempelajari bagian dari ilmu kauniyah yang ia pilih. Sebelum seseorang mengambil fakultas kedoteran ia terlebih dahulu harus membekali diri dengan ilmu agama. Untuk sekolah tingkat dasar dan menengah hendaknya membekali semua siswanya dengan kedua ilmu tersebut (qauliyah dan kauniyah) secara seimbang.
Metode mengajar juga sangat penting bagi seorang guru. Ilmu harus masuk dalam arti dapat dipahami dan dipraktekkan oleh murid secara efektif. Karena itu metode yang tepat, alat peraga yang lengkap sangat penting utnuk dimiliki dan digunakan oleh seorang ustadz. Ustadz adalah ustad, bukan hanya seorang guru. Ia memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan kedua ilmu itu secara tidak terpisah kepada siswanya. Dalam proses pembelajaran tesebut harus dijamin murid mendapatkan proses pembelajaran yang memungkinkan mereka kena sibghah tauhid. Inilah karenanya, ustadz kecuali berkewajiban mengajar juga harus mendidik. Di luar kelas, seorang ustadz harus membimbing muridnya untuk memiliki kepribadian yang berkarakter islami.
Tidak salah pepatah Jawa yang mengatakan bahwa guru memiliki makna digugu lan ditiru. Jika menginginkan murid memiliki kepribadian yang berwatak islami, maka ustdaz yang berkepribadian dan berkarakter utama (baca: Islami) merupakan prasarat. Karena ustadz, tidak hanya bertugas mengajar, tetapi harus menjadi contoh bagi murid. Ustad juga harus menjadi pemandu untuk jalannya pembiasaan diterapkannya nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Jika sebuah sekolah menggunakan paradigm Islam dalam pendidikannya, mestinya menggunakan empat pendekatan dalam pendidikannya; pertama, pembelajaran. Factor ini sangat penting karena pengajaran menjadikan hilangnya kebodohan digantikan dengan pencerahan, kjahiliah menjadi madaniyah, buta menjadi melihat, tidak tahu menjadi tahu. Kegagalan dalam proses pembelajaran ini maka berakibat fatalnya proses pendidikan untuk pencerhan. Kedua, pembiasaan. Pendidikan yang bermakan juga pembentukan sikap, prilaku dan kepribadian peserta didik tidak bisa hanya mengandalkan pengajaran, tetapi lebih dari itu juga diperlukan pembiasaan aplikasi nilai dalam kehidupan sehari-hari siswa. Nilai dapat terinternalisasi menjadi kepribadian yang berkarakter jika nilai dibiasakan diterapkan dalam kehidupan nyata. Tidak cukup sebuah nilai dipahami atau dimengerti saja untuk sampai menjadi karakter. Perlu proses mencoba, biasa, dan akhirnya menjadi. Ketiga, keteladanan. Bagi usia anak usia 6-12 tahun keteladanan adalah cara paling efektif untuk mengerti, memahami, dan menggunakan suatu aturan, tatakrama, dan nilai. Alih-alih anak-anak, orang dewasa saja metode keteladanan ini masih digunakan. Nilai, aturan dan tata karma adlah sesuatu yang sangat abstrak. Sesuatu yang abstrak sulit untuk diketahui, dikenal, dipahami seseorang, apalagi anak-anak. Perubahan nilai abstrak menjadi konkrit inilah yang menjadkan anak mudah mengikuti suri teladan mereka. Keempat adalah mendoakan. Metode keempat ini juga sangat penting. Dalam Islam, Nabi saja yang memang diangkat untuk menyiarkaan risalah agama adalah bukan berkapasitas member petunjuk. Allah lah dzat satu-satunya yang memeiliki hak dan wewenang prerogative untuk memberikan petunjuk. Dengan petunjuk (hidayah) maka seseorang dapat hidup dengan nilai syariat Islam. Disinalh kepribadian yang berkarakter akan lahir.
Jika kita perhatikan keempat metode di atas, maka guru, ustadz, hingga professor menempati posisi yang sangat signifikan dan strategis untuk keberhasilan pendidikan dalam makna pembentukan kepribadian peserta didik. Jika gur itu sendiri tidak berkepribadian yang berkarakter, mana mungkin merekada dapat menjadi pemandu bagi murid-murid mereka. Mereka yang mengajar, mereka yang membiasakan nilai pada murid-murinya, mereka yang menadi contoh bagi merid, dan terakhir mereka juga yang mestinya juga mendoakan murid-murid mereka. Di sini memang guru dituntut menjadi manuisa yang super. (insane kamil).
Guru yang super adalah guru yang memiliki etos kerja yang bagus, dan guru yang pula harus kerja secara professional. Guru harus berbeda dengan pekerja. Guru harus menjadi pejuang. Jika karyawan, dasar etos kerjanya adalah uang, upah, honor, dan sejenisnya, lain sama sekali adalah seorang pejuang. Etos kerja seorang pejuang didasarkan pada tauhid itu sendiri. Pejuang bekerja karena semata mengharap mendapatkan keridlaan Allah
Allahu a’lam.
Keberadaan Muhammadiyah selama ini identik dengan kebesaran adalah tidak dapat dipungkiri. Ada ratusan ribu TK ABA di seentero Indonesia, ribuan SD-MI, SMP-MTs, SMA-MA, hingga ratusan PT adalah fakta yang tidak terbantahkan bahwa Muhammadiyah adalah organisiasi besar. Di lapangan social ada ribuan panti yatim-piatu, rumah jompo, lembaga zakat, dan ribuan poliklinik ibu dan anak hingga rumah sakit. Membuat semakin lengkap Muhammadiyah dalam berkiprah di bumi pertiwi ini.
Penulis sebagai bagian dari penumpang yunior dalam gerbong Muhammadiyah menjadi terngguk-angguk secara tidak sadar, ketika di forum muktamar satu abad yang lalu menyaksikan sendiri betapa di bumi Papua Muhammadiyah menjadi bagian dari ormas keagamaan yang gigih berjuang mengibarkan bendera dakwah amar makruf nahi mungkarnya. Adalah betul-betul informasi yang sangat faktawi dan aktual bagi penulis. Boleh jadi hal itu, karena Papua adalah daerah terjauh dari tempat berpusatnya para media. Begitu juga dengan kiprah muhammadiyah di bumi Menado Sulawesi Utara. Nusa Tenggara Timur, bahkan juga di Bali. Beberapa daerah ini notabene mayoritas non muslim.
Oleh karena itu tidak terlalu salah jika para ahli sejarah membuat teori sejarah bahwa Islam (baca: Muhammadiyah) adalah salah satu dari lem perekat kesatuan dan persatuan Indonesia. Sungguh besar jasa Muhammadiyah bagi negeri ini. Karena itu sikap mengecilkan Muhammadiyah oleh siapapun, kecuali jelas bukan didasarkan oleh pemahaman yang utuh dan mendalam terhadap sejarah bangsa ini, juga tindakan yang gegabah dan membahayakan eksistensi bangsa ini saat ini dan di masa-masa yang akan datang.
Namun demikian, bukan sebuah lembaga yang baik jika para aktivis Muhammadiyah berpuas dengan fakta-fakta kebesarannya tersebut. Bahkan bisa jadi terhentilah langkah kebesarannya jika para aktovisnya terninabobokan oleh langgam kebesaran Muhammadiyah ya ng memang merdu dibawakan oleh para pengamat dalam dan luar negeri tersebut.
Sebagai seorang pelaku pendidikan (belum pantas bergelar pejuang, karena kata ini kayaknya lebih pantas diberikan kepada para pahlawan pendidikan), penulis agak terusik oleh orang-orang yang menyuarakan kebesaran Muhammadiyah di atas. Karena bagi penulis, Muhammadiyah adalah (meminjam istilah Emha Ainun najib) sebuah gerakan social yang keberadaannya sejak awal diabdikan untuk sebuah nilai agama yang sangat mendasar yakni Tauhid. Apresiasi mendalam Kiai Dahlan terhadap surat al Maun adalah sangat melegenda dalam sejarah awal keberadaaan Muhammadiyah.
Penulis mendapatkan pemahaman bahwa Muhammadiyah adalh lahir di atas dasar tauhid dan untuk memuliakan tauhid itu juga. Karena itu, ketika kita ingin mengukur kesuksesan Muhammadiyah sudah barang tentu bahwa inti ukurannnya adalah tauhid juga. Mengukur kesuksesan dan kebesaran Muhammadiyah hanya dengan ukuran jumlah/kuantitas amal usahanya adalah sebuah ketidaktepatan. Seperti mengukur kebesaran gajah dengan standar ukuran banyaknya gelintir bulu atau warnanya, bukan beratnya. Mengukur kehebatan seekor macan dengan jumlah kuku-kukunya, bukan keharmonisan bentuk tubuhnya dengan doreng bulu-bulu kulitnya.
Mengukur keberhasilan dan kebesaran Muhammadiyah tentu lebih tepat jika menggunakan ukuran sejauhmana amal-amal usahanya memberikan andil dalam perjuangan li i’la likalimatillah (meninggikan dan memuliakan kalimah ilahi). Banyaknya amal usaha Muhammadiyah yang mengalami disfungsi li I’la likalimatillah adalah sesuatu yang mubadzir, alias sia-sia dan membuang-buang asset persyarikatan. Ukuran kebesaran lembaga amal usaha Muhammadiyah bukan pada hal-hal yang bersifat kuantitatif. Jika kita hendak mengukur sebuah sekolah hendaknya bukan seberapa tinggi gedungnya, seberapa banyak muridnya, seberapa besar sumbangan dananya tidap bulan pada organisasi. Tetapi hendaknya menggunakan ukuran-ukuran kualitatif yang tauhidi.
Untuk sebuah amal usha sekolah ukran yang mestinya dipakai adalah sejauhmana relevansi visi dan missi sekolah terhadap upaya mentauhidkan ummat dan bangsa Indonesia. Bagaimana dasar, warna dan orientasi dari kurikulumnya? Sudahkan kohern dengan upaya menegakkan tauhid menurut pemahaman Muhammmadiyah? Bagaimana dalam proses-proses KBMnya? Sudahkah KBM sekolah memungkinkan semua peserta didiknya terkena sibghah tauhid. Seperti apa pola berpikir guru atau ustadznya? Materialistik kah? Apakah kinerja mereka seperti kinerja seorang karyawan ataukah sebagai seorang pejuang. Terakhir adalah alumninya. Apakah alumsi dari sekolah-sekolah Muhammadiyah memiliki karakter seorang mukmin yang intelektual, atau intelektual yang mukmin? Mukmin intelektual sangat berbeda dengan intelektual mukmin. Jika yang pertama, mukmin menjadi core dan jati dirinya, sedang intelektual adalah subordinanya. Pada yang kedua sebaliknya, intelektual adalah core dan jati dirinya, sedanngkan mukmin adalah sub ordinannya.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus dijawab dengan jujur oleh semua jajaran pimpinan baik pada yayasan maupun pimpinana amal usaha Muhammadiyah. Jawaban jujur tersebutlah yang menyatakan dengan konsisten dan apa adanya tentang keberadaan Muhammadiyah. Dengan kata lain, marilah kita berimajenasi, jika Kiai Dahlan saat ini masih ada, Ia akan menangis karena prihatin akan sepak terjang Muhammadiyah saat ini, atau tersenyum karena merasa lega dengan eksistensi Muhammadiyah.
Marilah ukuran-ukuran kualitas tauhidiyah sebuah amal usaha Muhammadiyah tersebut sedikit kita kupas, sehingga jelas bagi kita.
Visi dan Missi sebuah sekolah adalah merangkum arah gerak sekolah itu hendak berkiprah. Oleh karena itu visi dan missi sekolah Muhammadiyah hendaknya menjadikan tauhid sebagai nilai dasarnya. Nilai tauhid adalah nilai yang mendasari kehidupan dunia hingga akherat. Jika sekolah Muhammadiyah memiliki visi dan missi yang terbatas pada nilai duniawi semata, itu artinya sekolah itu akan berkiprah di dunia ini saja. Sekolah yang demikian tidak lebih dari senuah lembaga pendidikan sekuler. Yang pada gilirannya nanti akan melahirkan alumni bukan Abdullah (hamba Allah), tetapi abidunya (hamba dunia). Perlu ditegaskan di sini bahwa, tidak ada alasan karena visi dan missi tauhidnya sekolah Muhammadiyah menjadi terbelakang atau membelakangi dunia. Sebaliknya, dengan visi dan missinya itu sekolah Muhammadiyah memiliki akar kuat di dalam bumi tauhid, dan sekaligus berdahan dan berranting professionalitas dan akademik. Kuat kayakinannya terhadap Allah dan akherat sekuat itu pula tradisi profesionalitas dan kecerdasan akademiknya.
Selanjutnya, dasar dan orientasi kurikulumnya. Kurikulum adalah kelanjutan dari visis dan missi dari sebuah amal usaha berupa lembaga pendidikan. Jika visis adalah ruh, jiwa dan hatinya, maka kurikulum adalah sistim saraf otak dan pola pikirnyanya. Seluruh sistim KBM adalah perwujudan dari konsep yang disebut dengan kurikulum. Karena itu, alih-alih menyususn kurikulum sekolah secara sembarangan, bahkan ada sekolah yang mengkopi paste kurikulum sekolah lain, sekolah Muhammadiyah hendaknya menggodok kurikulumnya sehingga memungkinkan visi dan missi sekolah menjadi terwujud dalam sistim pendidikan sehaari-hari.
KBM adalah inti kegiatan di sekolah. KBM adalah proses dimana sang ustadz atau guru mengajarkan suatu ilmu kepada murid-muridnya. Ada dua inti dalam KBM ini yakni ilmu dan metodologi dedaktik nya. Ilmu jelas dalam pandangan tauhid tidak mengenal dikhotomi umum dan agama. Ilmu adalah satu dari Allah, yang diajarkan baik melalui ayat qauliyah maupun fenomena kanuniyah. Qauliyah harus menjadi term of reference bagi manusia untuk memahami dan menggauli alam. Sehingga imam Ghazali mengelompokkan hokum belajar ilmu menjadi dua. Qauliyah hokum mempelajarinya wajib ain, sedang kauniyah wajib kifayah. Hokum itu dapat dipahami bahwa. Setiap muslim wajib mempelajari ilmu agama sebelum ia mempelajari bagian dari ilmu kauniyah yang ia pilih. Sebelum seseorang mengambil fakultas kedoteran ia terlebih dahulu harus membekali diri dengan ilmu agama. Untuk sekolah tingkat dasar dan menengah hendaknya membekali semua siswanya dengan kedua ilmu tersebut (qauliyah dan kauniyah) secara seimbang.
Metode mengajar juga sangat penting bagi seorang guru. Ilmu harus masuk dalam arti dapat dipahami dan dipraktekkan oleh murid secara efektif. Karena itu metode yang tepat, alat peraga yang lengkap sangat penting utnuk dimiliki dan digunakan oleh seorang ustadz. Ustadz adalah ustad, bukan hanya seorang guru. Ia memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan kedua ilmu itu secara tidak terpisah kepada siswanya. Dalam proses pembelajaran tesebut harus dijamin murid mendapatkan proses pembelajaran yang memungkinkan mereka kena sibghah tauhid. Inilah karenanya, ustadz kecuali berkewajiban mengajar juga harus mendidik. Di luar kelas, seorang ustadz harus membimbing muridnya untuk memiliki kepribadian yang berkarakter islami.
Tidak salah pepatah Jawa yang mengatakan bahwa guru memiliki makna digugu lan ditiru. Jika menginginkan murid memiliki kepribadian yang berwatak islami, maka ustdaz yang berkepribadian dan berkarakter utama (baca: Islami) merupakan prasarat. Karena ustadz, tidak hanya bertugas mengajar, tetapi harus menjadi contoh bagi murid. Ustad juga harus menjadi pemandu untuk jalannya pembiasaan diterapkannya nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Jika sebuah sekolah menggunakan paradigm Islam dalam pendidikannya, mestinya menggunakan empat pendekatan dalam pendidikannya; pertama, pembelajaran. Factor ini sangat penting karena pengajaran menjadikan hilangnya kebodohan digantikan dengan pencerahan, kjahiliah menjadi madaniyah, buta menjadi melihat, tidak tahu menjadi tahu. Kegagalan dalam proses pembelajaran ini maka berakibat fatalnya proses pendidikan untuk pencerhan. Kedua, pembiasaan. Pendidikan yang bermakan juga pembentukan sikap, prilaku dan kepribadian peserta didik tidak bisa hanya mengandalkan pengajaran, tetapi lebih dari itu juga diperlukan pembiasaan aplikasi nilai dalam kehidupan sehari-hari siswa. Nilai dapat terinternalisasi menjadi kepribadian yang berkarakter jika nilai dibiasakan diterapkan dalam kehidupan nyata. Tidak cukup sebuah nilai dipahami atau dimengerti saja untuk sampai menjadi karakter. Perlu proses mencoba, biasa, dan akhirnya menjadi. Ketiga, keteladanan. Bagi usia anak usia 6-12 tahun keteladanan adalah cara paling efektif untuk mengerti, memahami, dan menggunakan suatu aturan, tatakrama, dan nilai. Alih-alih anak-anak, orang dewasa saja metode keteladanan ini masih digunakan. Nilai, aturan dan tata karma adlah sesuatu yang sangat abstrak. Sesuatu yang abstrak sulit untuk diketahui, dikenal, dipahami seseorang, apalagi anak-anak. Perubahan nilai abstrak menjadi konkrit inilah yang menjadkan anak mudah mengikuti suri teladan mereka. Keempat adalah mendoakan. Metode keempat ini juga sangat penting. Dalam Islam, Nabi saja yang memang diangkat untuk menyiarkaan risalah agama adalah bukan berkapasitas member petunjuk. Allah lah dzat satu-satunya yang memeiliki hak dan wewenang prerogative untuk memberikan petunjuk. Dengan petunjuk (hidayah) maka seseorang dapat hidup dengan nilai syariat Islam. Disinalh kepribadian yang berkarakter akan lahir.
Jika kita perhatikan keempat metode di atas, maka guru, ustadz, hingga professor menempati posisi yang sangat signifikan dan strategis untuk keberhasilan pendidikan dalam makna pembentukan kepribadian peserta didik. Jika gur itu sendiri tidak berkepribadian yang berkarakter, mana mungkin merekada dapat menjadi pemandu bagi murid-murid mereka. Mereka yang mengajar, mereka yang membiasakan nilai pada murid-murinya, mereka yang menadi contoh bagi merid, dan terakhir mereka juga yang mestinya juga mendoakan murid-murid mereka. Di sini memang guru dituntut menjadi manuisa yang super. (insane kamil).
Guru yang super adalah guru yang memiliki etos kerja yang bagus, dan guru yang pula harus kerja secara professional. Guru harus berbeda dengan pekerja. Guru harus menjadi pejuang. Jika karyawan, dasar etos kerjanya adalah uang, upah, honor, dan sejenisnya, lain sama sekali adalah seorang pejuang. Etos kerja seorang pejuang didasarkan pada tauhid itu sendiri. Pejuang bekerja karena semata mengharap mendapatkan keridlaan Allah
Allahu a’lam.
Langganan:
Postingan (Atom)